Daur (183)

Pusat Pandang Allah

Ta’qid : “Tuhan berdomisili di madzhab masing-masing manusia, bahkan sub dan sub-sub bahkan sub-sub-sub-madzhab. Jalan ke sorga terbentang di petak tafsirnya masing-masing. Kebenaran Islam berlaku di alirannya masing-masing”.

Dalam berbagai proses pembelajaran ilmu, dikenal suatu pola persepsi dengan idiom sudut-pandang, sisi-pandang, kemudian orang-orang di sekitar Markesot ada yang menambahi: jarak-pandang.

Itu semua metode, kerendahan hati dan kesadaran untuk beranjak dari belum tahu menuju mungkin tahu. Kalau orang menawarkan rumah, dipasang foto rumah itu tampak-depan, tampak-samping, tampak-atas dan tampak-belakang. Tentu saja tidak diperlukan, bahkan mungkin tidak pernah diingat: tampak-bawah.

Kalau urusannya hanya rumah, cukup disodorkan beberapa ‘tampak’. Meskipun yang disebut tampak-samping saja sesungguhnya memuat beribu kemungkinan gambar, bergantung derajat dan koordinat pengambilannya. Yang berbentuk kotak saja tetap ada beribu angle, koordinat, sisi atau spektrum yang berbeda-beda. Apalagi yang bulat atau bundar, siapakah yang pernah menghitung jumlah kemungkinannya?

Yang jasad, yang fisik, yang materi saja tak terbatas sudut pandangnya. Yang kasat mata saja tak terjangkau oleh mata. Mungkin itu sebab Allah ‘menggoda’ manusia dengan “manthiquththoir”, spektrum-pandang burung. Juga “sulthon”, kekuatan-pandang, determinasi, daya tembus, daya-lembut menusuki wilayah-wilayah mikro kelembutan.

Terlebih lagi yang rohani, yang software, yang nilai, yang berujung pada yang ghoib, yang hanya Allah yang ‘Alimul ghoibi wa-syahadah. Dan pada hakikinya ilmu itu, alQur`an itu, nilai-nilai itu, termasuk muatan aspirasi, hidayah, doa, atau bahkan mungkin setiap kata yang diucapkan oleh manusia — sesungguhnya adalah al-ghoib yang manusia sendiri tidak benar-benar ber-syahadah. Tidak sungguh-sungguh menyaksikannya, apalagi mengetahui kesejatiannya.

Bahkan kebanyakan manusia tidak memiliki kesanggupan untuk ber-syahadah atas hatinya sendiri, jangankan lagi semesta luas jiwanya. Manusia tidak pernah mengenali dirinya dalam arti yang sebenarnya. Ia belajar dan melatih pengenalannya sepanjang hidup, di depan tantangan Tuhan: “Jangan menjadi orang yang lupa kepada Tuhannya sehingga lupa kepada dirinya sendiri”, sesudah progresivitas batin manusia melihat cakrawala: “barang siapa mengenali dirinya, maka ia mengenali Tuhannya”.

Ilmu Jiwa mengenali, mengindentifikasi, menghapal dan menghitung indikator-indikator kejiwaan, tetapi tidak memasuki jalan atau lorong untuk benar-benar memasuki jiwanya. Peradaban dan kebudayaan berlangsung di lapisan indikator itu, tanda-tanda luar dari jiwa, ekspresi psikologis, tidak terlacak beda antara jiwa dengan ruh, rasa, hati, sanubari, nurani, roso, perasaan, ngeng, dengung, dlouq. Manusia hanya “gatal-gatal” oleh jiwanya yang sejati dan kebudayaan adalah menggaruk-garuk rasa gatal-gatal itu.

Manusia, pada dirinya masing-masing, tidak punya waktu untuk mengenali presisi batas antara kebutuhan dan keinginan, antara semangat dengan nafsu, antara cinta dengan rasa-magnetik, antara cita-cita dengan khayalan, antara waspada dengan curiga, antara hati-hati dengan paranoia, antara optimisme dengan terburu-buru, antara sabar dengan lemah, antara arif dengan lembek, antara progresivitas dengan keserakahan, atau antara zuhud dengan rasa malas. Bahkan per kata dari semua itu juga tidak benar-benar dicari kejelasan satuan-satuannya.

Kemudian peperangan terus-menerus terjadi di antara manusia dan kelompok-kelompoknya karena polarisasi atau pengkutuban. Mayoritas manusia berpijak pada kutub-kutub atau petak-petak yang tercerai berai, dan masing-masing meyakini kebenaran terletak di kutubnya masing-masing. Tuhan berdomisili di madzhab masing-masing manusia, bahkan sub dan sub-sub bahkan sub-sub-sub-madzhab. Jalan ke sorga terbentang di petak tafsirnya masing-masing. Kebenaran Islam berlaku di alirannya masing-masing.

Tidak usah karena kepentingan kekuasaan atau keperluan perekonomian pun manusia di dunia sangat berkecenderungan untuk berperang karena fanatisme kutub-kutubnya masing-masing. Kebanyakan manusia tidak berkembang kemampuannya untuk melihat jarak antara kenyataan dengan penafsirannya terhadap kenyataan itu. tidak bisa melihat bentangan jarak antara nilai dengan interpretasi atas nilai. Antara Al-Qur`an dengan tafsirnya. Dan itu semua menghasilkan keterpencaran, kemudian benturan, permusuhan dan peperangan, air bah pengkafiran pemusyrikan pen-sesat-an, di antara manusia yang masing-masing memonopoli Tuhan dan kebenaran nilai di kutub dan petaknya masing-masing.

Dan yang teraneh dari manusia adalah tidak kunjung mengetahui bahwa yang paling benar dari seluruh semesta relativitas sudut-pandang, sisi-pandang, cara-pandang dan jarak-pandang kebenaran yang mengepung mereka, tak lain adalah pusat pandang Allah sendiri atas ciptaan-Nya, termasuk manusia. Itulah hulu kehidupan dan segala penciptaan. Itulah sangkan-paran. Itulah titik awal dan akhir dari garis gravitasi semesta, poros qadar, hulu hilir tauhid. Metodologi berpikir, ilmu, teknokrasi dan segala jenis dan wilayah khilafah adalah “inna lillahi wa inna ilaihi roji’un”. Manusia yang sangat terbatas ilmu dan pengetahuannya hanya bisa memahami bahwa itu adalah lingkaran atau bulatan. Padahal sesungguhnya ia lurus. Pada dimensi kesadaran inilah as-shirathal mustaqim bisa diartikan sebagai ‘garis lurus’.