Tadabburan Ponpes An-Nahl Purbalingga, 24 September 2016

Praktikum Berjuang Mencapai Berkah

Seraya meyatukan dengan kesungguhan hati para jamaah, Cak Nun memberangkatkan Tadabburan ini menguraikan jarak antara Rahmat dan Berkah.

Hujan mengiringi dimulainya Tadabburan atau Maiyahan malam ini. Cak Nun ditemani Kiai Fitron, Mas Agus Sukoco, dan diantarkan Banser NU berjalan dari rumah Pak Kiai melewati lorong dan tanah yang sebagian becek dan licin. Pertemuan yang agung, tatkala jamaah yang sangat banyak melihat Cak Nun tiba dan berjalan menuju panggung. Shalawat Badar dilantunkan menyambut kedatangan seseorang yang mereka tungguh-tunggu.

Saya tidak tega panjenengan semua kehujanan. Pasti ini rahasia dari Allah.
Saya tidak tega panjenengan semua kehujanan. Pasti ini rahasia dari Allah. Foto: Adin.

“Saya tidak tega panjenengan semua kehujanan. Pasti ini rahasia dari Allah. Seandainya Anda masuk angin karenanya, semoga Anda besok pagi mendapatkan berkah dari Allah. Badan lebih sehat. Berkah tidak terletak pada kaya atau tidaknya Panjenengan, banyak atau sedikitnya santri, jadi pejabat atau bukan, tetapi pada lulus atau tidaknya kita menghadapi ujian Allah.” Para jamaah istiqamah, setia, dan siap merasakan kebersamaan walaupun hujan mengguyur, dan payung atau terpal di atas sebagian kepala mereka tak banyak melindungi atau membuat nyaman mereka. Lebih banyak yang tak berpayung, dan langsung menyambut hujan yang tidak deras tetapi terasa setianya turun dari langit. Musik belum dibunyikan di awal. Seraya meyatukan dengan kesungguhan hati para jamaah, Cak Nun memberangkatkan Tadabburan ini menguraikan jarak antara Rahmat dan Berkah.