Politik Fir’auni Vs Politik Nabawi

Dalam Bahasa Arab, politik disebut Siyasah yang dalam Bahasa Indonesia disebut siasat. Siyasah atau siasat merupakan cara (taktik/strategi) dalam mencapai sesuatu, dalam arti yang luas. Arti luas yang saya maksud adalah segala cara atau cara apapun yang dilakukan untuk mencapai segala macam tujuan; ekonomi, politik, pertahanan dan keamanan, budaya, pendidikan, kesehatan, bahkan agama. Dengan demikian, maka ada siasat ekonomi, siasat politik, siasat hankam, siasat budaya, siasat pendidikan, siasat kesehatan, dan siasat agama.

Namun dalam praktiknya, masyarakat lebih mengenal siasat itu dalam bidang politik karena dalam kenyataannya memang dunia politiklah yang penuh “siasat” atau karena praktik adu “siasat” (saling men”siasati”) menjadi karakter utama dunia politik. Maka pada bidang apapun, apabila di dalamnya ada unsur mensiasati, masyarakat menyebutnya sebagai unsur politik atau politisasi. Akhirnya kita kenal politik ekonomi, politik budaya, politik pertahanan dan keamanan, politik pendidikan, politik kesehatan, politik agama, dan kita tidak mengenal politik politik.

Selanjutnya, dalam pengertian yang negatif, kita mengenal istilah politisasi pendidikan, kesehatan, budaya, hankam, ekonomi, dan agama, apabila masing-masing bagian itu dijadikan sebagai “siasat” untuk meraih tujuan politik. Kemudian, politik dalam politik adalah siasat atau segala cara yang dilakukan untuk mencapai tujuan politik, yakni memperoleh, mempergunakan, dan mempertahankan kekuasaan politik.

Segala tindakan  yang tujuannya  bersifat politis, maka bisa disebut sebagai tindakan politik meskipun dalam pandangan mata (wujud) berupa tindakan budaya, pertahanan, pengamanan, pendidikan, penyehatan, bahkan pember”agama”an. Begitu juga dengan komunikasi dan seluruh medianya, baik cetak, elektronik, maupun digital. Ada komunikasi politik, televisi politik, twitter politik, status FB politik, pengajian politik, dzikir politik, halal bihalal politik, santunan yatim politik, shalat politik, haji politik, ta’ziyah politik, dan lain sebagainya. Dengan semakin “kemaruk”nya manusia kepada kekuasaan (dunia), maka sekarang kita bertanya: apa yang tidak politis?

Kembali kepada politik sebagai siasat atau as-siyasah. Ada siasat yang bertumpu pada logika menang-kalah atau menang-menangan, atau yang penting menang, dan apapun dilakukannya. Inilah politik yang politik. Artinya karena tujuan politik itu meraih dan mempertahankan kekuasaan, maka yang menjadi tolok ukur politik ya politik itu sendiri. Politik menafikan segala nilai di luar politik. Kebenaran politik adalah kebenaran politik, artinya apapun yang dilakukan menjadi benar secara politis asalkan bisa menang. Dan apapun disebut salah secara politik apabila menyebabkan kekalahan. Menang = Benar, dan Kalah = salah.

Politik dengan logika seperti itulah yang apabila kita rujukkan kepada al-Qur`an, kita temukan pada karakter politik fir’auni (al siyasah al fir’auniyah). Sebagai lawan dari politik fir’auni adalah politik nabawi (al-siyasah al-nabawiyah), yaitu politik yang ditempatkan hanya sebagai salah satu sub atau bagian dari agenda besar kenabian, yakni kembalinya ummat manusia ke haribaan Gusti Allah Swt dalam keadaan radliyatan mardliyyah. (Nanti kita elaborasi di belakang).

Kembali ke Fir’aun. Tidak ada nama yang lebih populer di dalam al-Qur`an melebihi dia, bahkan mengalahkan nama Kanjeng Nabi Muhammad Saw sendiri. Fir’aun disebut sebanyak 74 kali, sedangkan nama Nabi Muhammad sendiri hanya 4 kali. Kita semua tahu bahwa Fir’aun merupakan sosok politikus kejam, dhalim, dan otoriter pada zamannya, tapi mengapa al-Qur`an memopulerkan namanya sedemikian rupa sehingga semua orang yang membaca al-Qur`an pasti mengenalnya.

Tidak ada ayat yang tanpa tujuan karena semua yang ada dalam al-Qur`an itu merupakan petunjuk (al-huda), penjelasan-penjelasan (al-bayyinaat), nasihat (mau’idhah), pelajaran (al-ibrah), dan puncaknya sebagai cahaya dan pemisah anatara hak dan bathil (an-nur – al-furqan). Al-Qur`an seakan berkata bahwa Fir’aun sebagai gelar atau nama dari raja mesir memamg sudah mati ditenggelamkan di laut merah bersama pengikutnya, akan tetapi Fir’aun sebagai sosok dan karakter kekuasaan akan selalu lahir sepanjang sejarah, oleh karenanya al-Qur`an menyebutnya sampai 74 kali.

Bagaimanakah politik fir’auni atau al siyasah al fir’auniyah itu? Menjawab pertanyaan ini, saya hanya cukup mengemukakan satu ayat yang terdapat dalam surat al-Qashash ayat 4. Menurut pendapat saya, ayat ini merupakan inti dari beberapa ayat yang menyebutkan namanya. Ayatnya berbunyi begini:

إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

Agar lebih jelas, kita potong artinya menjadi enam bagian;

  1. Sesungguhnya Fir’aun telah ‘ala di muka bumi. Kata ‘ala memiliki arti tinggi, sehingga bisa diartikan meninggi, unggul-mengungguli, berkuasa-menguasai, bahkan congkak atau sombong. Pendek kata, Fir’aun telah menjadi penguasa di atas bumi.
  2. Dia telah menjadikan penduduk bumi berkelompok-kelompok atau terbagi ke dalam kelompok-kelompok.
  3. Dia memperlemah sebagian dari mereka.
  4. Dia menyembelih (membunuh) anak-anak laki-laki dari mereka.
  5. Dia menghidupkan (membiarkan hidup) anak-anak perempuan mereka.
  6. Sesungguhnya dia termasuk golongan orang-orang yang melakukan pengrusakan (almufsidiin).

Jadi ada empat karakter dari al-siyasah al-fir’auniyah dalam melanggengkan kekuasaannya. Pertama, menjadikan penduduknya terbelah kedalam beberapa kelompok. Dengan keterbelahan rakyat kepada kelompok-kelompok fanatik, di mana antara satu dengan lainnya sulit bersatu, sehingga berakibat lemahnya masing-masing kelompok tersebut di hadapan kekuasaan fir’auni. Dengan begitu kekuasan Fir’aun menjadi kuat dan tak tertandingi karena setiap saat dia bisa memainkan pengaruh dan juga memainkan potensi konflik yang ada di antara mereka itu. Dibutuhkan pembelahan-pembelahan kepada kelompok tradisional dan modern, santri, abangan, dan priyai, kota dan desa, moderat dan fundamental, liberal dan radikal, progresif dan konservatif dalam segala hal, termasuk Islam nusantara yang berbasis budaya dan Islam berkemajuan dengan basis intelektualisme Barat, dan seterusnya.

Kedua, melemahkan sebagian dan memperkuat sebagian secara acak sesuai kemauan dan kepentingannya. Inilah yang kita kenal dengan politik belah bambu. Jika yang satu dijunjung, maka lainnya diinjak. Cara seperti itu dimainkan secara silih berganti sesuai situasi dan kondisi. Masing-masing tidak ditiadakan, melainkan dibiarkan hidup, tapi diadu satu sama lainnya. Yang satu diberi fasilitas, diberi jabatan menteri dan jabatan lainnya, yang satunya dibiarkan dan dieliminir, tapi jangan sampai mati, maka sewaktu-waktu tetap dikasih kue sekadar untuk bertahan hidup.

Ketiga, membunuhi orang-orang yang memiliki karakter kelelakian; kesejatian dalam berpikir, konsisten dan tegas dalam bersikap, kenegarawanan dalam politik, kepahlawanan dalam mempertahankan kedaulatan, kebenaran dan keadailan.

Keempat, menghidupi orang-orang yang lebay, gombal, bermental munafik dan lemah dalam memegang prinsip. Dengan demikian, tidak akan lahir sosok pemimpin harapan rakyat yang bisa menggantikan posisinya untuk membawa rakyat kepada kemenangan sejati. Karena itulah diakhir ayat, digarisbawahi bahwa Fir’aun termasuk golongan orang-orang yang membuat kerusakan (almufsidiin).  Bersambung!