Daur (47)

Pintu Tanpa Kunci
Rumah Tanpa Isi

Sungguh tidak normal kehidupan Markesot dan rumah hitam Patangpuluhan. Yang didengar lamat-lamat semalam oleh salah seorang temannya, bahwa Bangsa kita sedang benar-benar dihancurkan, dan alat utama penghancuran itu adalah Bangsa kita sendiri, bahwa Ummat kita sedang sungguh-sungguh dirusak, dan alat utama perusakan itu adalah Ummat kita sendiri — termasuk omongan normal atau tidak normal dari Markesot?

Teman-teman Markesot sudah tidak bisa jenak lagi berdiskusi-diskusi. Mereka tergegas harus balik ke daerahnya masing-masing. Mereka punya kehidupan mereka masing-masing. Punya tanggung jawab kepada keluarganya. Punya kesibukan di tempat kerja. Punya program-program dengan masyarakatnya. Mereka harus kembali ke wilayah itu.

Biarlah Markesot si Manusia Maya dengan dunianya yang juga maya sekarang mendadak hilang menuju dunia lain yang lebih maya lagi. Tidak ada nomer handphone di tangan Markesot untuk bisa dihubungi. Namanya juga dunia maya, mana ada handphone, frekwensi, BTS, provider, GPRS-3G-LTE, browsing, unduh, unggah…memangnya Ande-ande Lumut, diunggah-unggahi oleh Trio Kleting.

Kalau memang bab penghancuran Bangsa dan perusakan Ummat itu merupakan persoalan yang sangat mendesak, nanti kan pasti Markesot mengirim surat lagi. Itu manusia masih berada di kebudayaan perangko, amplop, yang dilem pakai ludah, kotak surat dan kring-kring bunyi bel sepeda Pak Pos.

Salah seorang teman Markesot yang tinggal di seberang pulau jauh nyeletuk, “Saya anggap saja Markesot mendadak dipanggil oleh Kiai Sudrun ke dunia mega-maya, sebagaimana janji sama Menteri batal karena dia mendadak dipanggil oleh Presiden. Saya harus segera ke airport. Kalau ada teman-teman yang nanti kebetulan ketemu beliaunya, mohonkan saya pamit kembali ke anak istri”

***

Teman-teman lain jadi ingat. “Iya ya. Markesot terkadang bercerita tentang orang yang namanya Kiai Sudrun, tapi tidak pernah jelas juga siapa Drun Drun Sudrun itu”

“Orang Maya bercerita tentang tokoh maya”, sahut teman lain.

“Hasilnya membuat kita termaya-maya secara sangat maya”

“Padahal sepuluh tahun terakhir ini kita yang sudah enak-enak hidup nyata, diseret dan dihanyutkan oleh Peradaban Maya, teknologi maya, globalisasi komunikasi maya. Sampai akhirnya segala yang maya itu menjadi lebih nyata dari kenyataan hidup kita”

“Sekarang baru kita sadari bahwa sejak jauh sebelum ada teknologi maya, kita sudah termaya-maya oleh kemayaan Markesot. Sebenarnya mana yang benar-benar maya atau benar-benar nyata: dunia jasad dan manual kita, dunia teknologi maya, ataukah maya-nya Markesot dan Kiai Sudrun? Maya yang ini harus pakai perangkat lunak dengan perangkat kerasnya, memerlukan telpon genggam, smartphone, Tap Tip Tup, Pad Pid Pud, browsang-browing, Mbah Gugel…”

Cukup banyak di antara teman-teman Markesot yang berkumpul di Patangpuluhan itu yang memang merasa canggung dengan kondisi rumah hitam Patangpuluhan, yang mungkin rumah-rumah di zaman Ratu Sima atau Ratu Saba masih lebih layak huni. Ya ampun, untuk mandi masih tetap harus menimba dulu. Itu pun sekarang jorongan alias saluran air dari sumur ke kamar mandi sudah tidak selancar dulu.

Tempat sabun saja tidak ada. Odol sudah dilipat-lipat, diplenet-plenet sampai tinggal konsepnya tanpa ada odolnya. Mandinya masih pakai cibuk atawa gayung. Ini sastra Melayu klasik: gayung bersambut. Gayung plastik sudah sobek dan pecah sepertiga. Wahai Tuhan seru sekalian alam, peradaban sudah sampai ke shower, bathup, wastafel, closet, shampoo, conditioner….Markesot masih beralamat di peradaban byar-byur, ndodok, dengan lubang buangan air besar yang agak sedikit lebih sopan dibanding jumbleng.

Itulah sebabnya konsep keluarga itu penting. Markesot tidak pernah berkeluarga. Sehingga hidupnya tidak pernah berkembang menuju peradaban yang manusiawi. Lelaki yang tidak beristri akan selalu bodoh bagaimana mandi, bagaimana buang air kecil dan besar, bagaimana kramas, bagaimana menyeterika baju, bagaimana menghindari gambar pulau-pulau di kaos, aduuuuh apalagi deodorant dan parfum.

Itu baru di dalam rumah. Belum lagi nanti peradaban di luar rumah: jas, dasi, baju batik, sepatu, kapan baju dimasukkan ke dalam celana, di mana beli sabuk yang normal sehingga bukannya memakai cambuk dililitkan di pinggangnya.

***

Ada dua kemungkinan. Markesot tidak berbakat hidup bersama dan di tengah manusia di Bumi. Atau memang dia bukan makhluk Bumi.

Pintu rumah kok tidak pernah dikunci. Sesekali pintu tertutup, tapi tidak dikunci, dan memang tidak ada kuncinya. Bisa dibuka oleh siapa saja, jam berapa saja. Ada satu bagian yang dianggap oleh semua teman yang tinggal di Patangpuluhan sebagai kamarnya Markesot. Pintu kamar itu juga tidak ada kuncinya. Di dalam kamar juga tidak normal. Tidak ada almari pakaian, tempat tidur, rak buku, meja tulis, atau apa lah untuk pantas-pantas disebut kamar. Di lantai pojok hanya ada tikar plastik, dengan bantal kayu potongan dari dahan pohon sebelah, serta tumpukan barang-barang entah apa yang tidak pernah jelas karena ditutupi oleh jaket Markesot.

Kamar Markesot lembab. Temboknya berlumut-lumut yang ia gores-gores agar terasa sebagai lukisan abstrak ekspresionis. Pyan atau lapis anyaman bambu di bawah genting sudah sejak dulu dijadikan properti tikus-tikus untuk karya instalasi yang alamiah. Ada jendela di bagian kamar itu, tempat lompat Markesot kalau pergi menghilang di tengah malam.

Rumah hitam, rumah Patangpuluhan, rumah tanpa peradaban. Rumah tak ada isinya. Rumah tanpa barang-barang yang pantas dipandang mata. Rumah yang hampir tak ada isinya kecuali rangsangan untuk berputus asa dan iba bagi siapa saja yang memasukinya.

Bisalah dipahami kenapa pintu-pintu rumah itu tak ada kuncinya. Karena tidak ada calon maling yang dungu sehingga merancang untuk mencuri sesuatu di dalam rumah itu. Satu-satunya yang bisa dicuri adalah Markesot itu sendiri. Dan adakah di muka Bumi ini pencuri tak punya otak yang ingin mencuri benda yang bernama Markesot?

Salah seorang teman Markesot pernah berpendapat, “Markesot itu epigon Sufi Nasrudin Hoja yang kalau ada maling masuk rumahnya malah bersembunyi, karena merasa malu kepada si malang: tidak ada barang apapun yang layak dicuri”.

Tapi dibantah oleh teman lain, “Saya kira tidak ada kaitannya. Markesot memang miskin. Kalaupun dia Sufi, itu karena memang miskin”