Catatan Mocopat Syafaat Januari 2016

Pintu Keadilan

Mocopat Syafaat malam ini menghadirkan wirid Wabal dan Tahlukah (Pintu Keadilan) yang sudah diawali di Kenduri Cinta oleh Cak Nun KiaiKanjeng.

Bertempat di dusun Jetis kelurahan Tamantirto, Mocopat Syafaat telah lama secara organis melahirkan aktivitas ekonomi bagi warga setempat. Awalnya pada tahun 1999 hanya satu dua warung yang buka, tetapi sejalan dengan waktu dan bertambahnya kebutuhan, kini kurang lebih sepuluh warung makan atau angkringan tergelar setiap kali tanggal 17 malam tiba. Para jamaah pun dapat mampir “ngangkring” sambil ngopi, atau menikmati “sego kucing” dll, sembari menunggu dimulainya acara.

Mereka duduk di angkringan sembari ngobrol-ngobrol di antara mereka. Sepertinya saling melepas kangen, setelah sebulan tak bersua. Para penjual terus melayani para jamaah yang ngantri memesan. Berbagai menu tersedia disana. Minuman panas, dingin, soto. Tak terpisah dari pemandangan itu, rokok pun terkepul dari hirupan sosok-sosok yang berdatangan dari berbagai daerah, tak hanya dari DIY.

Tak hanya warung, bentuk lain intregalitas Mocopat Syafaat terlihat pada parkir kendaraan yang dikelola oleh pemuda atau karangtaruna di desa ini. Mereka yang menjaga, menata, dan mengatur perparkiran yang terbagi di empat titik. Hasil uang parkir yang didapat dimasukkan kas untuk menunjang kegiatan mereka, salah satunya pengerasan jalan kampung.

Mocopat Syafaat Januari 2016 01
Menjelang Mocopat Syafaat 2016

Jamaah terus berdatangan. Tampak serombongan orang, rupanya dari Wonosobo, memasuki kompleks TKIT dan beberapa dari mereka membopong keranjang atau memikul kardus berisi sayur dan buah-buahan, hasil bumi dari Wonosobo yang memang salah satu kota penghasil sayuran. Mereka bawa semua itu untuk dihaturkan kepada Cak Nun dan keluarga. Suatu bentuk ketawadhu’an orang-orang desa kepada Kiai yang mereka hormati.

Memasuki pukul 21.00 lebih sedikit, ketika jamaah sudah penuh dan sebagian menempati area jalan dusun yang digelari tikar, Mas Ramli seperti biasa segera mengawali Mocopat Syafaat malam ini dengan nderes Al-Qur’an, kali ini sampai pada surat Qof. Suatu awalan yang sudah tertradisikan sejak lama di dalam Mocopat Syafaat, sebagaimana juga di forum-forum Maiyah lain seperti Padhangmbulan, Bangbang Wetan, Kenduri Cinta, dll.

Seperti sudah disiapkan, malam ini muatan Mocopat Syafaat adalah menghadirkan wirid Wabal dan Tahlukah yang sudah diawali di Kenduri Cinta oleh Cak Nun dan KiaiKanjeng. Selepas nderes, Mas Islam dengan didampingi tiga orang langsung membaca doa Tahlukah. Sebuah rangkaian doa yang lahir dari rahim perjalanan dan perjuangan Maiyah yang sifatnya lain daripada yang lain, yakni doa akhlaqi, doa kasih-sayang, yang di awal membacanya dimulai dengan permohonan kepada Allah agar dijauhkan dari setan, agar langkah mereka diselaraskan dengan qudroh dan irodah Allah, dan tepat pada titik termurninya, memohon kasih-sayang Allah untuk diri mereka, untuk sesama mereka, dan untuk digantikannya kehancuran dengan kelahiran dan kebangunan.

Malam ini Mocopat Syaafat pun spesial karena selain berisi pengijazahan dan pembacaan wirid Wabal, juga karena telah hadir bersama jamaah yaitu Syaikh Nursamad Kamba dan Cak Fuad, yang tak lain adalah marja ilmu-ilmu Maiyah. Ketika berlangsung sesi awal oleh Redaktur Maiyah, Syaikh Kamba dan Cak Fuad sudah berada di dalam rumah transit bersama Cak Nun dan beberapa rekan penggiat Maiyah lainnya, dalam kebersamaan yang indah karena terpancar cahaya ilmu dan perjuangan.

Saat ini Cak Nun dan segenap bapak-bapak KiaiKanjeng sudah berada di tengah-tengah jamaah dan segera memasuki semesta doa Wabal. Cak Nun langsung memimpin. Suasana kekhusyukan mewarnai dan memenuhi alam di sini. Para jamaah Mocopat langsung turn in, tanpa dilatih sama sekali, mereka dengan mudah masuk ke dalam tarikan suara pelan dan terukur Ya Dzal Wabal dan Syadidal ‘Iqab. Musik KiaiKanjeng berbunyi pelan-pelan, sangat terasa irama yang dihasilkannya mengantarkan jamaah membangun khidmat dan khusyuk. Mereka duduk dan menundukkan kepala, mengikuti dan meresapi setiap pergerakan bibir Maulana Muhammad Ainun Nadjib mengeja suku kata demi suku kata dalam Ya dzal wabal, yang kian lama kian terasa bahwa aransemennya diatur sedemikian rupa. Pelan, sedang, rendah, tinggi, pendek, dan panjang menukik. Setelah agak pelan, tiba-tiba Cak Nun meningkatkan volume suaranya melantunkan Ya Dzal Wabal. Bunyi-bunyi musik KiaiKanjeng mengorkestrasi. Suara-suara Cak Nun dan para petugas ru’us tahlukah tadi bersatu-padu mengucapkan Ya Dzal Wabal.

Suasana khusyuk saat pembacaan doa Wabal.
Suasana khusyuk saat pembacaan doa Wabal.

Semua jamaah, dalam posisi apapun, semuanya nyantel jiwanya pada kekuatan wirid ini. Sebagian dari mereka sudah meletakkan botol-botol minum mereka di atas panggung, untuk mewadahi aura dan barokah yang akan Allah hadirkan melalui doa Wabal ini.

Tak ada yang lain, selain konsentrasi jamaah kepada Allah dan Rasulullah. Dan benar-benar terasa getar hati mereka, pada saat musik berhenti, dan hanya suara jamaah serempak melantunkan lirih Ya Dzal Wabal, yang disusul kemudian Mas Islam mulai membacakan doa-doa, dan jamaah tetap pada posisi melantunkan Ya Dzal Wabal.

Berulang-ulang, terus-menerus, Ya Dzal Wabal dan Syadidal ‘Iqab terlantun. Suasana di kompleks TKIT Alhamdulillah menjelma sesuatu yang membuat diri merinding karena dihembus oleh gelombang doa Wabal yang mengitari mereka.

Orang-orang yang datang dan melingkar ini tak memakai seragam, seperti lazimnya pengajian yang massal. Mereka memakai jaket, kaos, celana jeans dan banyak yang tak mengenakan peci. Bahkan ada yang berambut mohawk khas anak punk. Jauh dari kesan simbol-simbol kealiman, tetapi orang-orang yang mayoritas anak-anak muda ini benar-benar khusyuk. Banyak sekali yang memejamkan mata dan dari bibir mereka terucap doa Wabal.

Dari utara dekat area parkir hingga paling selatan di kompleks TKIT ini, semua jamaah masuk ke dalam rohani rangkaian-rangkaian doa yang bermuatan kegelisahan, harapan, tetapi juga kematangan akhlak Maiyah, dan sepucuk kerinduan akan keadilan Allah atas tipu daya dan aniaya yang makin complicated berlangsung di muka bumi ini.

Tak sedikit terdengar suara tangis, sesenggukan, di antara jamaah saat Cak Nun mengajak mereka merayakan kedekatan dengan Allah atas waktu yang mereka bersabar atasnya, dan mengajak mereka meneriakkan penderitaan meraka, dan di puncaknya yang meninggi, Cak Nun mengantarkan mereka membaca surat al-Quran. Satu jam lamanya para jamaah menikmati kekhusyukan langit-langit doa Wabal.

Mbak Novia, Cak Fuad, Syeikh Nurshomad, dan tamu dari Turki
Mbak Novia, Cak Fuad, Syeikh Nurshomad, dan tamu dari Turki

Dari “langit” kembali ke “bumi”. Selepas doa Tahlukah dan Wabal, Cak Nun kembali merilekskan jamaah. “Duduknya tidak harus seperti tadi. Bisa begini, bisa seperti ini,” contoh Cak Nun mengajak jamaah untuk lebih santai. Kebetulan malam ini ada tamu dari Turki (dari Yayasan Pasiad), dan bersamaan dengan mengundang Syaikh Kamba dan Cak Fuad, dipersilakan pula tiga orang tamu dari Turki tersebut untuk bergabung ke depan. Juga tak ketinggalan Cak Nun meminta kesediaan Ibu Via untuk bergabung pula.

Untuk menyambung hati dan menyambut mereka, Ibu Via mempersembahkan lagu Turki Yansen Geceler yang pernah dibawakan Dik Haya dalam beberapa kesempatan Maiyah. Dan kemudian, sebuah sajian antar bangsa diberikan oleh Mas Imam Fatawi dengan nomor Campursari Sewu Kutho untuk ketiga tamu Turki ini. Walaupun tak paham bahasanya, mereka tersenyum dan menggerakkan kepala mengikuti irama Campursari ini. Orang Turki menikmati karya musik Jawa.

Ustadz Muhammed, nama tamu dari Turki yang sekaligus menjadi narasumber yang digali. Tetapi sebelum berbicara, dibantu seorang penerjemah, Ia menyatakan kebahagiaannya bisa hadir di sini. “Nanti kembali ke Turki, saya akan ceritakan kepada orang-orang di sana bahwa saya telah bertemu dengan Anda semua,” ujarnya. “Semoga Anda semua bahagia. Seandainya saya bisa berbahasa Indonesia, saya ingin menyampaikan apa yang saya rasakan dan ada di dalam pikiran saya secara langsung,” ujarnya lagi. Ustadz Muhammed tampaknya senang dengan seni dan keindahan. Ia mempersembahkan puisi dalam bahasa Turki, dan seperti biasa, Jamaah Maiyah adalah lintas bahasa, maksudnya memiliki bahasa understanding, sehingga sangat mengapresiasi, memberikan aplaus, dan sangat menerima kehadiran sang tamu.

Tak cukup puisi, ustadz Muhammed lalu menyanyikan sebuah lagu, tentu dalam bahasa Turki pula. Dan “bahaya” kalau seseorang berdendang tanpa iringan alat musik di depan KiaiKanjeng. Setelah Beliau menyanyi, KiaiKanjeng minta supaya diulangi lagi dengan disesuaikan nada antara Ustadz dengan peranti musik KiaiKanjeng. Walhasil, lagu yang tampaknya membawa pesan ukhuwah ini jadi sangat apik. Bernuansa Timur Tengah. Mirip-mirip orang berdzikir. Aplaus meriah diberikan usai Ustadz selesai menyanyikan lagu ini.

“Saya seperti bertamu di rumah saudara saya sendiri. Saya pun senang di sini karena melihat begitu banyak orang menjalankan shalat, di Turki tidak terlalu banyak orang melakukan shalat,” katanya beberapa kalimat setelah bersenandung tadi.

Cak Fuad adalah lambang kejernihan.
Cak Fuad adalah lambang kejernihan.

“Yang ditonjolkan oleh Turki adalah akhlaknya, dan itu sebenarnya cara untuk menyembunyikan kebaikan atau ibadah mereka. Terserah Islam kami disebut apa, tapi kami sebisa-bisanya berbuat baik. Kami tak ada formalitas, yang terpenting kami datang dengan hati yang jujur, bukan hati yang penuh kepentingan atau kebencian,” respons Cak Nun selepas kesempatan tanya-jawab dengan Ustadz Muhammed diberikan. Cak Nun juga mengingatkan jamaah untuk tidak gampang menelan mentah-mentah informasi yang beredar melalui WhatsApp atau berbagai medsos lain. Termasuk dalam soal perkembangan dan dinamika yang berlangsung di Turki. Ada yang tampaknya bagus, tapi sebenarnya tidak. Ada yang kelihatannya tak bagus, tapi sesungguhnya bagus. Dan masih bisa berlipat-lipat lagi. Ini Cak Nun jelaskan sebagai sikap yang perlu dimiliki jamaah Maiyah.

Cak Fuad adalah lambang kejernihan. Malam ini diuraikannya sejarah perjalanan Islam sejak masa Nabi berikut sejumlah contoh dialog-dialognya dengan para Sahabat yang menggambarkan keluasan jiwa dan agama, tetapi juga kemudian diceritakan sejarah umat Islam pasca Nabi dan Khulafaurrasyidin yang oleh berbagai peristiwa dan kondisi terbagi ke dalam berbagai firqah dan madzhab. Kemudian Cak Fuad menyajikan pandangan-pandangan yang jernih mengenai dinamika sejarah umat Islam, dilengkapi dengan mengutip pendapat-pendapat ulama Kontemporer seperti Syaikh Yusuf al-Qorodhowi dan Syaikh Said Ramadhan al-Buthi. Sehingga, jamaah Maiyah makin diperkaya keluasannya dalam memandang polarisasi Sunni-Syiah.

Beruntung para jamaah, malam ini Cak Fuad tak hanya menyampaikan wawasan, melainkan bahwa membawakan sebuah lagu. Tentu ini berkat kelengkapan Cak Nun dalam mengolah dan memandu bergulirnya tahap demi tahap bergeraknya muatan-muatan dalam Mocopat Syafaat. “Dalam (nomor) Wirid Padhangmbulan itu, suara Cak Fuad adalah genre. Karena itu tidak sah kalau malam ini Cak Fuad tidak menyanyikan satu lagu,” pinta Cak Nun. Dengan suaranya yang “kung”, lagu Bimbo berjudul “Tuhan” akhirnya dipilih dan dibawakan Cak Fuad diiringi KiaiKanjeng.

“Kalau mendengar wirid Wabal tadi, saya langsung teringat seruling Jalaluddin Rumi. Orang mendengarnya sebagai keindahan, tetapi sesungguhnya isinya adalah penderitaan. Itulah kalau kita melihatnya dengan tinjauan Mahabbah. Seolah-olah ada hasrat agar Allah membalas dendam kepada orang yang dholim. Tetapi konsep mahabbah tidak demikian. Setiap derita orang akibat tipu daya dan kedholiman kita serap lalu kita rintihkan kepada Allah,” ujar Syaikh Kamba mengenai wirid atau do’a Wabal yang di awal telah dilantunkan bersama. Syaikh Kamba berbicara tentang agama sebagai kekuatan transformasi, kesediaan memaknai, peradaban manusia, empat tahap Maiyah dalam sejarah, dan cinta. “Peradaban adalah kesediaan untuk masuk dan menerima makna-makna yang luas. Ayat-ayat al-Quran pun memiliki banyak wajah atau makna,” tegas Syaikh Kamba.

Dari paparan-paparan Syaikh Kamba lalu Cak Nun memberikan penegasan lebih prinsipil lagi. “Sejak 2013, atas konfirmasi kedua beliau (Cak Fuad dan Syaikh Kamba), saya menyusun hizib Tahlukah. Meskipun tingkatnya adalah hizib laksana bala tentara perang, saya tak ingin bikin doa yang tujuannya bikin orang tersiksa atau mengalami kehancuran. Ini adalah hizib akhlaqi, yakni kita mempertahankan akhlak supaya tetap cinta. Hal yang berbeda dengan kebanyakan hizib lainnya. Dan mulai sekarang saya menemukan atau menyebutnya sebagai ru’us Tahlukah. Ru’us itu bisa dikatakan hulu ledak. Nah doa Wabal itu adalah hulu ledaknya Tahlukah. Bagi saya ini sifatnya darurat. Kalau tahun ini Allah tidak menunjukkan dengan nyata keadilan-Nya atas kedhaliman-kedhaliman, saya hanya khawatir anak-anak kita kehilangan iman. Kehilangan kepercayaan kepada perjuangan, kebaikan, dan kesungguhan hidup.” Cak Nun tak ingin anak-anak dan cucu-cucu berpikir untuk apa berbuat baik atau berjuang toh keadaan tetap tak berubah dan begitu-begitu saja. Penuh dengan rekayasa, penindasan, dan tipu daya yang menyengsarakan banyak orang. Itulah sebabnya Cak Nun merasa hulu ledak Tahlukah tahun ini adalah doa wabal. Tetapi jamaah boleh sesuai kepentingan dan kebutuhan masing-masing menggantikan ru’us Tahlukah dengan ayat atau doa yang relevan dengan kebutuhan tersebut.

“Baca Tahlukah lalu pakai ru’usnya dan Anda boleh dengan berbagai pertimbangan menggunakan ayat yang lain. Saya tidak mengijzahi, sebab itu semua milik Allah,” tegas Cak Nun.

Sudah memasuki 03.00, tak terasa waktu bergerak, seakan tak cukup waktu buat mendayung kebersamaan Maiyah ini. Para jamaah masih bertahan setia. Tak beranjak. Tetap fokus menyimak apa-apa yang disampaikan Cak Nun dan dua marja Maiyah. Bahkan baru saja kesempatan tanya-jawab dibuka. Jam 03.00 dinihari tanya jawab! Alangkah “aneh” dan lain-nya Maiyah. Ini belum giliran Mas Sabrang dan Ustadz Muzammil.

“Ada dua jenis kebenaran. Kebenaran yang bisa dikonfirmasi bersama dan kebenaran yang dirasakan secara pribadi. Agama dibutuhkan agar manusia mampu hidup bergandengan, bersama-sama. Sains adalah jalan di mana kita harus melakukan penemuan. Tetapi tidak semua orang mampu melakukan penemuan. Intinya, pada sains yang primer adalah menemukan sesuatu lalu berguna. Sementara pada agama primernya adalah berguna/bermanfaat dulu baru kemudian menemukan. Baik pada sains maupun agama semua orang idealnya dipertemukan pada sisi kemanfaatan, dan itulah seharusnya yang menjadi cita-cita setiap orang,” papar Mas Sabrang turut sedikit merespons pertanyaan salah seorang jamaah mengenai ciri orang yang beragama.

Sudah tiba di batas waktu, menjelang subuh, akhirnya di puncak Mocopat Syafaat kali, Cak Nun mengajak semua jamaah melantunkan Ilahi lastu lil firdausi ahla, dan ditutup dengan do’a yang dipimpin oleh Cak Fuad.

Para jamaah khusyuk melantunkan syair Abu Nuwas dan mengamini dengan khusyuk pula do’a yang dibaca Cak Fuad. Tangan-tangan itu menengadah ke langit memohon keterkabulan atas segala hajat kebaikan. Para jamaah ini datang dari berbagai tempat, bahkan ada yang dari Lombok dan Kalimantan. Mereka kembali ke tempat masing-masing membawa ilmu dan atmosfer doa-doa yang telah terlantunkan. Badan mereka tetap sehat, dan siap melanjutkan aktivitas sehari-hari mereka.

Foto :

Adin