Daur (294)

Pinter Minteri

Tahqiq : “...setiap langkah seorang Presiden mungkin berposisi “diakali oleh sindikasi kekuasaan global”, mungkin sedang “mengakali rakyatnya sendiri untuk keteguhan posisi Presidennya di tengah peta global itu....”

Sundusin gelisah oleh kosakata “pinter” antara lain karena memproduksi pekerjaan “minteri”. Memang tidak lazim dalam Bahasa Indonesia kata “memintari”, sebab “minteri” memang adalah bahasa Jawa. Juga dalam Bahasa Indonesia kata “pandai” tidak menghasilkan kata kerja “mempandaii”. Tetapi tampaknya tidak adanya “memintari” maupun “mempandaii” bisa jadi disebabkan oleh karena Bahasa Indonesia yang masih sangat muda usia dan pengalaman sejarahnya, tidak bisa dibandingkan dengan kasepuhan peradaban Bahasa Jawa.

Juga ada sebab yang lebih teknis estetis: “memandaii” dan “memintari” itu tidak enak dan tidak mudah diucapkan, sehingga tidak bertumbuh subur. Akan tetapi jangan lupa bahwa Bahasa Indonesia “tidak menyerah”. Ia juga punya ekspresi makna yang identik dengan kata “minteri” dalam Bahasa Jawa. Yakni “membodohi”. Sementara kalau dalam Bahasa Jawa, ada kata “mbodoni”, maknanya adalah kerendahan hati seseorang yang sengaja menyembunyikan kepandaiannya dan tampil seakan-akan orang bodoh.

Kecemasan Ndusin sebenarnya lahir dari lebih tiga puluh tahun silam sesudah Markesot mengecam keras kedhaliman manusia dalam menggunakan bahasa yang menyangkut kosakata “akal”, atau ‘aql bahasa Arabnya. Manusia ini dianugerahi Allah derajat dan kualitas di atas alam benda, tetumbuhan, dan hewan dengan memberi perangkat ruhaniyah yang namanya ‘aql. Karena akal-lah maka manusia itu ahsani taqwim, makhluk paling utama, paling unggul. Karena diberi modal akal-lah maka manusia diamanati tanggung jawab menjadi Khalifah di Bumi.

Tetapi potensi akal ini dalam kebudayaan Bahasa Indonesia, yang kemudian juga dalam Bahasa Jawa, diaplikasikan untuk perbuatan-perbuatan yang hina, jahat, dholim, dan sangat menentang Allah. Perbuatan yang durhaka itu ialah menipu, mencurangi, memperdaya, atau menelikung, yang semua itu terkandung dalam satu kosakata yang berbunyi “mengakali”. Dalam Bahasa Jawa pun kata “ngakali” sangat kuat makna kejahatan dan kedurhakaannya.

Bahkan “ngakali” lebih licik dan keji dari “minteri”. Kalau “minteri” adalah perilaku sombong seseorang kepada orang lain, sikap menunjukkan bahwa ia lebih pinter dari orang lain, yang diekspresikan secara terang-terangan, bisa didengar, dan dilihat. Sedangkan “mengakali” justru sangat tersembunyi. Ekspresinya mungkin berupa kebaikan, kesantuan, penuh tatakrama, lemah lembut, tutur kata yang sopan dan menyenangkan orang lain — tetapi di balik itu terkandung niat dan tindakan yang sebenarnya akan merugikan orang yang disopaninya dan dilembutinya.

Padahal sesungguhnya fungsi akal memang untuk mengakali. Mengakali maknanya memperlakukan sesuatu dengan akal. Kata lain mungkin mengkreativi, menggali manfaat, dan mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan yang lebih luas dari sesuatu yang ada. Isi bumi diakali menjadi manfaat kehidupan. Cairan atau gumpalan tertentu di perut bumi diambil untuk diakali menjadi bahan bakar, menjadi alat-alat dari bangunan.

Padi diakali menjadi beras, beras diakali menjadi nasi. Al Qur`an diakali menjadi Peradaban. Rahmatan Lil’alamin diakali menjadi kegembiraan semua makhluk. Shalat diakali menjadi alat untuk mengikis “fakhsya dan munkar”. Segala sesuatu di alam, di dalam diri manusia, dan di mushaf AlQur`an diakali oleh manusia untuk “mamayu hayuning bawana”. Segala kreativitas teknologi dan kebudayaan, segala tata kelola sosial politik, semua apa saja potensialitas di dalam kehidupan diakali oleh manusia untuk menjadi kesejahteraan bersama jasmani rohani.

Sejak di awal-awal Patangpuluhan Markesot sangat sering mengemukakan keprihatinannya itu, yang sekarang diulang dan dikembangkan oleh Ndusin. Kalau peristiwa “ngakali” dan “minteri” itu hanya berlangsung antar individu manusia, mungkin akibat kemudaratannya tidak separah yang sekarang ini rasanya hampir menghancurkan perikehidupan di bumi.

Sebab tradisi, akulturasi, teknokrasi, dan peta strategi “minteri” dan “ngakali” itu berlangsung dalam volume ruang yang lebih besar, rentang waktu yang lebih panjang, peta perhubungan yang lebih ragam, serta detail-detail dan variabel-variabel yang semakin parah. Belum lagi kalau ia berskala internasional. Kalau setiap Negara dan Bangsa, sebagaimana Negara dan Bangsa Indonesia, adalah bagian yang proaktif maupun berposisi “pelengkap penderita” dari suatu desain besar yang bernama Globalisasi, yang ‘agama’nya adalah Kapitalisme Global — maka tidak mengherankan andaikan setiap langkah seorang Presiden mungkin berposisi “diakali oleh sindikasi kekuasaan global”, mungkin sedang “mengakali rakyatnya sendiri untuk keteguhan posisi Presidennya di tengah peta global itu”….