Daur (269)

Pijak Pandang

Tahqiq : “...Belum tentu para penjajah dari Utara itu memiliki pijak pandang yang benar-benar tepat dan akurat atas Indonesia. Tidak sesederhana yang mereka sangka....”

“Kalau pijakan nilai kalian sudah mendapatkannya secara lumayan tepat, dan itu yang membuat kalian berkumpul di sini. Tetapi yang dimaksud di sini adalah satu titik pijakan yang berpedoman kepada keseluruhan ruang di mana kalian berjuang….”

“Pijakan kenyataan, Pakde?”, Toling juga bertanya.

“Mungkin tidak sekadar pijakan kenyataan”, jawab Brakodin, “Meskipun kalian sudah mengenal sudut pandang, sisi pandang, jarak pandang, dan resolusi pandang, pada akhirnya yang harus ditetapkan adalah pijak pandang….”

“Pakde, Pakde, maaf”, Jitul menyela, “kalau bagi saya itu semua cuma kelengkapan istilah: sisi pandang, sudut pandang, jarak pandang, resolusi pandang, pijak pandang…. Itu cuma detail teknis tekno-intelektual. Tetapi yang utama adalah ketepatan memandang kenyataan, kan Pakde?”

“Lebih dari kenyataan”, Brakodin tidak mau kalah, apalagi dikalahkan oleh anak muda, “Andaikan seluruh ilmu manusia dikomprehensikan dan disepakati untuk ditentukan titik pijak yang paling akurat untuk dijadikan pijakan — pijak pandangnya masih belum benar-benar ketemu kalau tidak direkonfirmasikan dengan kemauan Tuhan….”

Junit tertawa. “Apa tema ini yang dulu kata Mbah Markesot menurut Pakde Paklik  bahwa iradat kita harus match dengan amar-nya Tuhan….”

“Ujung Surat Yasin itu”, Toling menyahut juga, “bahwa kehendak kita baru akan memproduksi kun fayakun apabila sudah menyatu di ujung jarum dengan perintah Allah”

Gantian Seger yang sekarang tertawa. “Kalau masuk ke ranah itu lagi, akibat minimalnya adalah relativitas, subjektivitas, kebingungan, dan ketidakmenentuan. Sedangkan akibat maksimalnya adalah akan mungkin dilahirkan Nabi-Nabi Palsu”

Sundusin muncul suaranya bertanya. “Memang kalian tidak selalu mengupayakan kesesuaian antara kemauan kalian dengan kehendak Tuhan? Entah melalui informasi tentang sunnah dan hukum Allah, atau melalui logika dan rasionalitas, atau melalui naluri dan intuisi, bahkan mungkin diperlukan shalat istikhoroh?”

“Sebenarnya itu kebiasaan yang otomatis, Pakde”, Junit yang menjawab, “kalau masalahnya sangat jelas pada aqidah atau syariat, hal itu tidak sukar disentuh. Tetapi kalau menyangkut solusi-solusi atas permasalahan yang besar, makro, berlapis-lapis, silang sengkarut, sophisticated atau ruwet seperti benang kusut –- sungguh sangat tidak mudah untuk menemukan apa maunya Allah….”

“Apa misalnya, Nit?”, sekarang Tarmihim yang bertanya.

“Misalnya gagasan tentang pengambilalihan kekuasaan. Tentang kudeta. People power. Revolusi. Rakyat mengepung rezim. Seluruh Nusantara mendesak Jakarta dan menyanderanya untuk hanya dilepaskan kalau memenuhi tuntutannya….”

Tarmihim tersenyum. “Sepengetahuan saya kalau tema itu, jauh sebelum modulasi antara iradat dangan amr ketemu momentum dan titik koordinatnya, jauh sebelum gagasan-gagasan manusia yang sebenar apapun menurut puncak ilmu mereka, dengan irama rencana Tuhan sendiri atas urusan manusia — kalian semua, termasuk Pakde Paklik dan semua sudah akan pusing tujuh keliling”

“Maksudnya, Pakde?”, Junit mengejar.

“Seberapa saksama, lengkap dan detail, hitungan kita tentang syarat rukun Revolusi umpamanya, termasuk sebab-akibatnya, akselerasi kejadian-kejadian berikutnya sesudah ia diledakkan. Bahkan mungkin Revolusi tak pernah kunjung bisa diledakkan karena ternyata masih banyak faktor yang ketelingsut dari hitungan-hitungan kita”

Tertawa terkekeh-kekeh Sundusin terdengar. “Apalagi ini Indonesia….”

“Kenapa kalau Indonesia, Pakde?”, Toling bertanya.

“Ya Indonesia. Bukan yang bukan Indonesia. Indonesia sendiri saja belum tentu benar-benar paham pada Indonesia, apalagi yang bukan Indonesia. Indonesia saja hampir selalu salah sangka terhadap Indonesia, apalagi yang bukan Indonesia”

“Bukankah konspirasi pemilik penggumpalan modal raksasa saat ini sudah sangat menguasai peta karakter Indonesia, sehingga mereka sudah terbukti sanggup melakukan penjajahan yang dahsyatnya jauh melebihi bangsa Barat yang dulu seakan-akan menguasai Indonesia lebih tiga setengah abad lamanya?”

Ndusin tertawa lagi. “Belum tentu para penjajah dari Utara itu memiliki pijak pandang yang benar-benar tepat dan akurat atas Indonesia. Tidak sesederhana yang mereka sangka….”.