Pesan-Pesan Pidato Ihtifal Maiyah Cak Fuad

Kita berkumpul setiap bulan karena Allah dan di dalam Allah. Itulah nilai-nilai dan jiwa Maiyah yang telah dibangun bertahun-tahun.

Ihtifal Maiyah bertujuan mengantarkan para Jamaah Maiyah menemukan tonggak-tonggak baru bagi kehidupan mereka, baik sebagai individu, kelompok, maupun masyarakat.

Pada suatu hari di antara hari-hari persiapan menuju Ihtifal Maiyah, redaksi CAKNUN.COM sempat bertanya kepada Cak Nun sesungguhnya apa inti atau esensi yang nanti bisa diambil oleh Jamaah Maiyah dengan berkumpul di Menturo itu. Beliau menjawab dengan satu kata: Tonggak.

Beberapa waktu kemudian tepatnya H-1 Ihtifal Maiyah, tanpa sengaja didapat informasi yang menyatakan besok tanggal 27 Mei 2016 pada sore hari matahari akan berada tepat di atas Ka’bah. Tegak lurus. Jika divisualkan garis itu jadinya seperti tonggak. Informasi itu seakan memberikan keyakinan dan legitimasi bahwa memang benar satu kata yang diucapkan Cak Nun itu beberapa hari sebelumnya.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Di dalam Ihtifal Maiyah, yang digelar pada hari di mana ternyata Ka’bah dan Matahari berada dalam garis tegak lurus, tonggak itu dapat diperoleh dengan cara melepaskan diri murni untuk berselancar merasakan serta menyerap apa saja yang berlangsung selama Ihtifal Maiyah dari pagi sampai menjelang pagi lagi.

Salah satu mata acara yang berlangsung di Ihtifal Maiyah adalah Pidato Maiyah oleh Cak Fuad. Sesudah beberapa rangkaian persembahan dari Simpul Maiyah dan Lagu Hati Matahari oleh KiaiKanjeng, Cak Fuad beranjak dari tempat duduk dan berjalan tenang dan matang menuju tengah panggung dan standing mic yang sudah disiapkan untuk sesi sambutan dan pidato. Seluruh perhatian Jamaah tertuju dan menanti apa yang akan disampaikan Beliau.

Cak Fuad menyampaikan pidato tanpa memegang teks, tetapi kalimat-kalimat Beliau tertata sangat rapi, clean, dan terartikulasikan dengan baik. Pertama-tama Cak Fuad mengungkap rasa haru terhadap apa yang terjadi pada Malam Ihftifal Maiyah. “Telah hadir saudara-saudara seiman yang sudah berikrar untuk saling mengasihi: Al-ahibba-u Fillah,” kata Cak Fuad.

Cak Fuad menggambarkan bahwa persaudaraan itulah yang selalu membuat rindu untuk bertemu, rindu untuk berjumpa, dan rindu untuk berkomunikasi. “Tiada lain semua itu hanya karena Allah Swt. Tidak ada sedikit pun pernak-pernik dunia yang menjadi tujuan dalam kebersamaan itu. Kita berkumpul setiap bulan karena Allah dan di dalam Allah. Itulah nilai-nilai dan jiwa Maiyah yang telah dibangun bertahun-tahun.”

Lalu sejenak Cak Fuad mengenang awal mula Padhangmbulan sebagai induk majelis Ilmu Maiyah. 23 tahun lalu di bulan Rajab di mushalla kecil yang sekarang telah menjadi masjid. “Betul-betul karena Allah, sehingga Padhangmbulan ini menjadi sarana silaturahmi anak bangsa, umat Islam, bahkan juga ada yang lintas agama, dari berbagai tempat di seluruh dunia. Semata-mata karena petunjuk Allah.”

Kemudian Cak Fuad berpesan, “Pegang teguhlah nilai-nilai yang selama ini sudah dikembangkan di Maiyah. Di dalam al-Quran surat al-Kahfi ayat 27 hingga 31 bahkan juga hingga 44 terkandung dan terhimpun nilai-nilai Maiyah. Termasuk di sejumlah ayat pada surat al-Ankabut. Pegang teguhlah. Kalau kita belum paham, coba pahami melalui pembelajaran terus-menerus. Dengan berpegang pada nilai-nilai itulah kita akan diberkati oleh Allah.”

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Cak Fuad mengatakan hidup memang sulit, tetapi Jamaah Maiyah tidak pernah kehilangan harapan. Ciri orang beriman adalah tidak pernah berputus asa. “Tetaplah jaga iman, insyaAllah kita akan terbebas dari kesulitan.”

Kemudian seraya mengutip seorang filsuf yang mengatakan kalau kita mau menghancurkan sebuah bangsa atau kaum, maka rusakkanlah keluarga, hancurkan pendidikan, dan musnahkanlah trust (kepercayaan) di antara sesama, Cak Fuad berpesan agar Jamaah Maiyah benar-benar menjaga hal-hal itu supaya tidak terjadi. Itulah sebabnya, di Yayasan Al-Muhammady dilakukan terus berbagai uji-coba dan loncatan pendidikan yang menggali dan menguatkan karakter siswa dan guru. “Bahkan Cak Nun sampai turun tangan langsung melalui Takdib Padhangmbulan. Itu semua wujud agar tidak runtuh pendidikan kita,” papar Cak Fuad.

Terakhir, Cak Fuad meminta kepada jamaah untuk mendoakan guru dan marja’ Maiyah yaitu Dr. Nursamad Kamba yang sedang sakit agar Allah segera menganugerahkan kesembuhan kepada beliau dengan cara apapun yang Allah lebih mengetahuinya.