Daur (130)

Pertahanan Terhadap Domba

Dulu kalau Kiai Sudrun membentaknya, Markesot sering-seringnya hanya tertawa. Cara Sudrun mentransfer ilmunya bisa dengan cara yang bermacam-macam. Marah, diam, menghilang, berlaku gila, tertawa tidak wajar, tidur dengan dengkuran yang aneh atau berlebihan. Atau banyak cara lagi.

Tapi ternyata di tempat itu ketika Sudrun membentak dan mengusirnya, Markesot tidak bisa tertawa. Ini memang sungguh bukan wilayah kehidupan seperti biasanya.

Sebenarnya kalau disebut Markesot merasa ketakutan oleh bentakan Sudrun yang sangat lantang dan memantul-mantul, tidak juga. Ia hanya seperti disihir. Dan mungkin pingsan. Kesadarannya tersisa hanya sangat sedikit dan tipis.

Markesot terlempar oleh suara lantang Sudrun itu ke suatu wilayah lain yang entah di mana. Tapi tanpa sengaja ia bergerak balik ke tempat semula. Dan anehnya ternyata Kiai Sudrun tidak marah melihat ia nongol kembali.

“Kenapa kamu kembali lagi ke sini?”, Sudrun bertanya. Dengan suara lunak. Tidak seperti sebelumnya.

“Maaf Kiai”, jawab Sudrun, “Saya tidak tahu bahwa saya kembali ke sini. Saat ini bahkan saya tidak bisa membedakan antara kembali dengan pergi. Apakah di semesta ini masih ada orang yang pergi, atau kembali?”

Kiai Sudrun tertawa terkekeh-kekeh.

“Bukankah pergi hanya dilakukan oleh makhluk yang belum sampai, Kiai?”

Kiai Sudrun semakin terkekeh-kekeh.

“Apalagi kembali. Jangankan di sini, Kiai, sedangkan di Bumi pun tidak ada kembali. Yang ada hanya pergi”

Sambil tersisa tertawanya, Sudrun menjawab:

“Itu yang membuatmu kurang betah di Bumi. Orang yang hidup di Bumi memang harus mempelajari dan membawa dirinya naik ke kesadaran Langit. Tetapi tetap harus dengan irama Bumi. Itu kelalaianmu. Kamu meraih-raih kesadaran Langit, sehingga sering kakimu tidak seirama dengan kehidupan di Bumi. Kamu terjungkal-jungkal, atau Bumi mentertawakanmu”

“Apakah selama menghuni Bumi, seseorang hanya boleh mencari, tanpa boleh menemukan?”

“Perjalanan mencari selalu sampai di tahap-tahap penemuan. Saya tahu kamu sudah cukup banyak menemukan, tetapi yang kamu sering lupa adalah keharusan untuk bertahan pada kesabaran mencari”

“Sejujur-jujurnya saya selama ini merasa sudah sangat bersabar, Kiai”

“Kamu sangat sabar untuk dirimu sendiri, tapi kamu sangat tidak sabar untuk tugasmu. Kamu tidak diperkenankan untuk menemukan sendiri. Penemuanmu harus penemuan bersama”

“Bersama domba-domba yang membosankan itu, Kiai?”

“Itu kalau kamu lihat dirimu sebagai penggembala”

“Sebenarnya saya tidak terlalu berani menggembalakan domba-domba, Kiai. Karena saya sudah sangat lama mengalami betapa berat dan susahnya berbicara kepada kambing. Jangankan mengantarkannya untuk paham. Berbicara saja pun seperti memukul udara tanpa pernah berhasil menyentuhnya…”

Kiai Sudrun kembali terkekeh-kekeh.

“Saya omong cahaya, kambing pahamnya bohlam. Saya bicara gelombang, kambing menyangkanya lautan. Saya kemukakan lukisan, kambing mengambil garisnya. Saya jelaskan tentang manusia, kambing menangkap terutama tulang dan dagingnya…”

“Setahu saya kamu dikerubungi banyak orang karena kesanggupanmu untuk memadatkan persoalan. Menguraikan sesuatu yang ruwet menjadi sederhana. Menjelaskan sesuatu yang berlapis-lapis menjadi bersahaja”

Ganti Markesot tertawa getir. “Itu ada benarnya, Kiai. Tetapi di ujungnya kambing-kambing berkeyakinan bahwa faktanya adalah sederhana. Padahal yang sederhana adalah cara saya menyampaikan faktanya. Fakta kehidupan itu sendiri sangat ruwet dan jauh dari sederhana”

Kiai Sudrun terkekeh-kekeh lama. “Maka kamu harus segera pergi dari sini, temui domba-dombamu kembali. Kamu tidak harus berhasil. Tapi sekurang-kurangnya kamu membuktikan sampai saat berakhirnya tugasmu, bahwa kamu sanggup bertahan hidup bersama masyarakat domba, kambing maupun manusia”