Daur (37)

Persaudaraan dengan Hujan

Markesot aslinya agak mengantuk juga mendengar beberapa sisa tulisan teman-temannya. Tapi agak bergairah lagi melihat beberapa yang terakhir, karena mulai menyentuh peristiwa yang lebih kongkret dan sehari-hari.

Memang ketika meminta tulisan “untuk anak cucu dan jm” mereka masing-masing, Markesot ada kecolongan bicara “pokoknya total merenung sampai tingkat mati”, atau bahasa lain “mati merenung”, khusus ketika mendalami sesuatu. Akibatnya banyak di antara mereka tidak tahan oleh hasil kerjanya sendiri.

Markesot diam-diam mengkritik dirinya sendiri. “Nggak usah berlebihan nuntut orang. Hidup di jaman ini nggak ngerti apa-apa nggak masalah, asal bisa makan, punya rumah, kendaraan dan bisa menyekolahkan anak. Pinter tidak wajib, ilmu gela-gelo thilang-thileng juga tidak apa-apa, asal dapat laba uang lebih banyak. Bahkan tak punya harga diri juga jalan terus, asal mampu menawar-nawarkan diri, ndusel-ndusel ngrampek-ngrampek mlipir-mlipir ke siapa-siapa yang pegang akses, menjilat-njilat pihak yang dibutuhkan….”

***

Anak cucuku dan para jm sudah mengerti bahwa kalau Tuhan menciptakan alam semesta ini hanya benda atau materi, maka tidak rasional dan tidak adil untuk menuntut orang tidak basah kuyup ketika berjalan di bawah hujan lebat.

Kalau kehidupan ini hanya yang padat dan cair yang tampak oleh mata, maka tidak masuk akal untuk meminta pakaian tetap kering ketika orangnya diguyur hujan deras. Kalau untuk mengkonsep kehidupan ini Tuhan hanya bikin barang satu dua tiga dimensi, maka kehujanan harus basah, kena api harus terbakar dan dipukul harus tergeser atau bahkan harus merasa sakit.

Kalau tidak ada yang seolah tak ada, kalau segala sesuatu indikator kenyataannya hanya panca indera, kalau yang bisa dilihat didengar dan diraba adalah satu-satunya fakta, kalau yang tak terlihat tak terdengar tak teraba volume atau jumlahnya atau ranahnya hanya sangat sedikit dibanding yang terlihat terdengar teraba, dan bukan sebaliknya, maka hujan deras harus mengakibatkan basah kuyup.

Bahkan Tuhan tidak hanya menciptakan langit yang berjumlah tujuh. Apakah Tuhan tidak Akbar sehingga kesanggupan penciptaannya hanya tujuh lapis langit. Sedangkan di setiap langit terkandung ketidakterbatasan yang tak terbatas. Jangankan sekedar peta antara terbatas dengan tidak terbatas. Sedangkan tak terbatas itu sendiri jumlahnya tak terbatas.

Kalau kehidupan ini hanya lever, yang padanya tak ada hati yang semesta keluasannya tak bisa dibatasi. Kalau segala yang diciptakan ini tanpa ruh, tanpa dimensi, tanpa nuansa, tanpa beda jauh antara rasa dengan roso, tanpa nurani dan tidak sama dengan sanubari, tanpa aku yang bukan saya, tanpa engkau yang bukan kamu, tanpa tampak langit yang sebenarnya bukan langit, tanpa badan yang bukan tubuh bukan jasad, tanpa ruh yang bukan nyawa bukan jiwa bukan sukma, tanpa rahasia tanpa sir tanpa misteri tanpa ghoib tanpa ghorib, bahkan tanpa hidup yang sebenarnya mati dan mati yang hidup — maka berhentilah pada kesadaran sangat lokal bahwa kehujanan itu basah kuyup.

***

Bahkan alkisah ada sebuah rombongan musik: di awal tahun 2000-an diminta pentas di sebuah lokasi terkenal nasional. Mereka bersama gamelan dan alat-alat modernnya diletakkan di panggung terbuka beratap langit. Sementara sebuah kelompok lainnya yang termasyhur, oleh Panitia dilindungi di bawah payung panggung besar.

Rombongan atap langit ini tidak disentuh oleh air tatkala sekitarnya hujan lebat. Sementara grup masyhur yang berada di panggung dengan atap besar kokoh, malah diguyur hujan habis-habisan.

Tentu sama sekali bukan karena ‘Rombongan-Alkisah’ ini memiliki kesaktian untuk tidak basah kuyup oleh hujan deras. Yang terjadi sangat sederhana. Arus hujan dari angkasa ke bumi dibikin tidak lurus dari atas ke bawah. Melainkan miring. Sehingga memasuki panggung kelompok terkenal itu.

Anak cucuku dan para jm tahu hujan tidak mengguyur seantero bumi. Hujan adalah paket dengan batas, yang bisa luas bisa sempit. Bahkan suatu curah hujan di suatu wilayah, hanyalah sepenggal kecil dibanding luasnya permukaan bumi. Dan jika dibandingkan dengan betapa luasnya alam semesta, maka sebuah curah hujan itu tak tergambar kecilnya oleh ujung pena yang terkecil.

Panggung terbuka Rombongan-Alkisah berada di luar batas lokal hujan itu, sementara kelompok terkenal itu berada di dalam lingkup perbatasan antara hujan dengan tidak hujan.Rombongan-Alkisahitu tidak tahu-menahu dan tidak pernah merencanakan apapun, apalagi memiliki kemampuan dan kesaktian ini itu. Bahkan sudah merelakan mereka akan terguyur hujan, karena tidak dilindungi oleh panggung besar seperti kelompok di belakangnya.

Kemudian ternyata hujan tak menyentuh mereka. Apakah yang melatarbelakanginya? Apakah ada urusan moral? Misalnya persepsi bahwa penyelenggara acara itu melakukan diskriminasi, kelompok terkenal itu dibikinkan pelindung hujan, sementara Rombongan-Alkisah dikasihkan bulat-bulat kepada hujan? Sampai hari ini Rombongan-Alkisah itu tidak mencatat momentum sejarahnya di awal 2000-an itu dengan mencantumkan kata diskriminasi, pelecehan, ketidakadilan atau apapun.

Mereka hanya bersyukur dan takjub kepada manajemen Tuhan.

***

Mungkin mereka membawa atau mempekerjakan seorang Pawang Hujan? Demikian juga penyelenggara acara itu pun ternyata memang menyewa seorang pawang yang mumpuni dan kelas paling pakar?

Dan Sang Pawang sesudah peristiwa hujan itu bergegas khusus menemui mereka untuk membungkukkan badannya, hampir seperti menyembah, untuk minta maaf dan mengakui bahwa ilmu kepawangannya tidak ada apa-apanya dibanding Pawang yang dibawa oleh Rombongan-Alkisah itu.

Tetua Rombongan-Alkisah merangkul pawang itu, mengajak minum kopi bersama, dan mempersaudarainya. Kemudian dengan hati-hati menjelaskan bahwa kelompok mereka tidak bawa pawang, tidak pernah kenal pawang hujan, sehingga selama lebih 4000 kali pementasannya tidak pernah menggunakan pawang.

Bahkan Rombongan-Alkisah tidak pernah memiliki keberanian untuk menolak hujan. Mereka selalu berpendapat bahwa hujan itu baik dan tidak hujan juga baik, sepanjang kita menyimpulkan bahwa hujan dan tidak hujan terjadi hanya karena Tuhan mengizinkan atau tidak menghalanginya untuk terjadi.

Di antara sekian ribu pemanggungan Rombongan-Alkisah, ada beberapa kali turun hujan, meskipun alhamdulillah tanpa bicara apapun: hujan tidak pernah menghalangi para hadirin untuk tetap bersama Rombongan-Alkisah itu, tidak membuat mereka pergi dari acara. Rombongan-Alkisah mengajak hadirin untuk mempelajari hujan, asal-usulnya, kehendak yang menurunkannya, baik buruknya bagi mereka, akibat-akibatnya dan apa saja yang terkait dengan turunnya hujan.

Puncak pencapaian diskusi tentang di bawah guyuran hujan biasanya adalah keikhlasan menerima hujan. Kemudian kesadaran baru bahwa hujan punya banyak fungsi. Misalnya menyaring siapa saja yang niat-niat baiknya sedemikian mendasar dan besar sehingga tidak bisa dibatalkan atau dihalangi oleh hujan. Bahwa hujan menjadi cermin bagi ketangguhan atau kerapuhan badan dan mentalnya. Bahwa hujan membuat mereka lebih kuat mentalnya, lebih meningkat daya berpikirnya, lebih sublim rohaninya, serta sangat jelas mengikis kecengengan hatinya.

Rombongan-Alkisah itu mengalami bahwa ketika ribuan orang di depannya itu bersama mereka mencapai ketepatan sikap terhadap hujan, mencapai kejernihan ilmu tentang hujan, mencapai keluwesan jasad dan perasaan terhadap hujan, atau mencapai nikmatnya hujan di antara pergaulan mereka dengan Tuhan dan alam — maka hujan kemudian bersikap kooperatif. Puncak kesadaran ribuan orang itu membuat hujan berhenti sesudah mengguyur 4-5 menit, bersabar dan toleran kepada ribuan sahabat-sahabat barunya. Menunda hajatnya. Menyingkir ke area di sekitarnya. Atau berpuasa beberapa jam dari haknya untuk mengguyur.

Nanti sesudah ribuan hadirin itu dengan Rombongan-Alkisah berdoa bersama dan acara diakhiri, pelan-pelan atau langsung, hujan turun kembali.

Dari cn kepada anak-cucu dan jm
10 Maret 2016