Daur (101)

Persatuan Bangsa-bangsa Indonesia

Markesot sendiri kemudian dihinggapi oleh semacam rasa malas untuk membukakan semua itu kepada pengetahuan sejarah masyarakat. Mudah-mudahan kemalasan itu sebenarnya adalah suatu cara atau strategi yang tak disengaja, atau justru disengaja oleh semacam pemeran rahasia, untuk keperluan menyimpannya sampai datang suatu saat ia akan efektif jika ‘pusaka sejarah’ itu diungkapkan.

Sebab suara tidak hanya urusan mulut yang memproduksinya, tapi juga membutuhkan kesiapan telinga untuk mendengarkannya. Bahkan telinga tidak bisa berperan sendiri, jika tidak ada yang bekerja merumuskan atau mengidentifikasi di belakangnya. Misalnya cara berpikir di akal pikirannya, juga kepekaan dan rasa batin di perangkat halus jiwanya.

Ibarat mau memperbaiki rumah, masalah yang ditemui bukan hanya keausan perangkat-perangkatnya. Bukan hanya proses pembangunannya yang banyak tidak halal. Bukan hanya kekacauan tata ruangnya. Bukan hanya dismanajemen sistem otoritas para penghuninya. Bukan hanya kerapuhan rumah dan penghuninya dari panas dan hujan. Bukan hanya aturan budaya pembagian ruang di dalam rumah. Bukan hanya tata etika siapa orang luar yang boleh masuk, boleh menginap dan boleh ikut tinggal, atau bahkan bikin kios jualan di halaman depan. Dan beratus ‘bukan hanya’ lainnya.

Lebih mendasar dari itu terus terang persoalannya juga adalah tidak bisa disimpulkan bahwa itu adalah rumah.

Ada beda serius dan mendasar antara rumah dengan kios pasar. Antara rumah dengan kantor, apalagi kantor perusahaan. Ada ketidaksamaan ideologis bahkan mungkin juga perbedaan aqidah antara rumah dengan yang wajahnya rumah tapi muatannya kapitalisme.

Kapital itu warga kehidupan yang sah dan memang dibutuhkan. Kapitalisasi dianjurkan sebagaimana Nabi pun berdagang. Tetapi kapitalisme, apalagi industrialisme, adalah suatu bangunan manajemen kehidupan di mana laba ekonomi merupakan ‘tuhan’ yang diutamakan.

Jadi, menurut Markesot, sia-sia membicarakan Reformasi kalau tidak terlebih dulu kita rembug yang paling sederhana dulu: apa benar ini rumah? Apa benar ini Negara? Apa benar ada Bangsa Indonesia? Cobalah himpun semua teori tentang Bangsa, mana mungkin orang Sasak sebangsa dengan orang Batak? Mana mungkin orang Dayak sebangsa dengan orang Sunda? Mana mungkin orang Irian Jaya sebangsa dengan orang Jawa?

Yang saat ini disebut Indonesia adalah Persatuan Bangsa-Bangsa.

***

Mungkin karena itu Markesot untuk sementara ini selalu menyebut Negeri Khatulistiwa, atau terkadang Negeri Nusantara Khatulistiwa.

Negeri. Kalau mau Negara, sebentar dulu. Supaya jelas dan mudah dipahami. Negeri itu jelas, suatu lingkup teritorial di mana sekian manusia bertempat tinggal. Berkumpul. Saling mempersaudarakan diri satu sama lain. Menyusun perjanjian untuk melahirkan aturan-aturan.

Letak utama ikatan janji dan aturan itu di dalam hati kolektif mereka serta cita-cita bersama yang relatif tidak berbeda. Kalau ada yang disebut nasionalisme, maksudnya adalah muatan hati kolektif para penduduk yang sejak nenek-moyang bertempat tinggal di wilayah tanah itu. Nasionalisme adalah rasa sekeluarga dan kesetiaan untuk saling menyayangi antara semua orang yang hidup di lingkup tanah dan air itu.

Adapun Negara, sejauh ini selalu berubah-ubah. Pengertian tentang Negara tidak pernah konsisten. Selalu diganti-ganti sesuai dengan kepentingan penguasanya atau pihak-pihak lain yang menjajahnya.

Pernah ada batasan tentang Negara, yang semacam pengertian Negeri. Tapi kemudian tanah dan air di lingkup Negara itu pelan-pelan menjadi bukan lagi milik penduduk yang tinggal di situ. Pernah juga Negara dikasih batas berdasarkan eksistensi bangsa atau kumpulan manusianya. Tapi kemudian eksistensi kebangsaan itu dibaurkan atau dikaburkan dengan eksistensi semua ummat manusia.

Sehingga siapa saja boleh ikut memiliki Negara, menguasai keuangannya, memonopoli perdagangannya, mendominasi aturan-aturannya, sehingga si Bangsa itu akhirnya malah berposisi sebagai buruh, pekatik, batur, pelengkap penderita, yang dalam banyak hal sesungguhnya diperbudak oleh orang-orang yang bukan bangsanya. Bahkan sangat banyak hamparan jutaan hektar tanah-tanah, saham perusahaan-perusahaan Negara, dan berbagai kekayaan Bangsa lainnya — yang dimiliki oleh bukan bangsa yang tinggal di Negara itu, melainkan oleh sindikat mafia, entah Mafia Putih, kemudian Mafia Kuning, atau koalisi antara keduanya.

Kemudian Negara berubah lagi. Ia hanya menjadi semacam kios atau unit dari Pasar Besar Dunia. Orang-orang yang diberi mandat dan upah untuk mengurusi Bangsa melalui pengelolaan Negara, malah menjadi agen dari pimpinan-pimpinan Pasar Dunia. Hakikat Negara menjadi batal karena tidak bekerja untuk melindungi dan menyejahterakan Bangsa yang mengamanatinya.

***

Yang paling parah menurut Markesot adalah para pemegang Amanat itu diinfiltrasi pikirannya untuk mengubah aturan-aturan, yang tujuan mendasarnya adalah mengaburkan batas pengertian antara Negara dengan Pemerintah.

Tujuan berikutnya, dengan ketidakjelasan batas antara Negara dengan Pemerintah, konstitusi dan hukum menjadi salah tingkah. Pasal-pasal yang seharusnya bersifat padat dan memiliki kepastian yang tinggi, menjadi cair, relatif, rentan terhadap penafsiran, terutama penafsiran berdasarkan kepentingan-kepentingan yang merugikan amanah dasar kebangsaan.

Tujuan puncaknya adalah penguasaan, perampokan dan pengambilan hak-hak milik Bangsa oleh bangsa lain, di mana para pemimpin Bangsa justru menjadi makelarnya.

Itu menurut Markesot.

Jadi, jangan terlalu percaya atau terlalu memasukkannya ke hati.

Dan dia memang dalam berbagai kesempatan sering menjelaskan sampai detail contoh-contoh kerancuan antara Negara dengan Pemerintah.

Sudah pasti pandangan seperti itu tidak populer, tidak disukai oleh para pemimpin, apalagi oleh sejumlah lembaga informasi publik yang peranannya sudah progresif dan berkembang tidak lagi menjadi lembaga pengontrol kekuasaan. Melainkan menjadi partner, menjadi sahabat kerjasama, menjadi tandem sindikasi, bahkan berada di garda depan stakeholderspembentukan pemerintahan, penentuan pemimpin dan sosialisator aturan-aturan baru ke-Negara-an yang tidak mengabdi kepada Bangsa.

Markesot sangat kecewa oleh kenyataan itu. Sesudah melewati beberapa jengkal waktu, kekecewaan itu menjadi kemarahan. Amarah itu mendorongnya untuk melakukan sesuatu yang besar dan mengguncangkan. Tapi kemudian ia hitung segala sesuatunya dan menyimpulkan guncangan itu akan hanya menambah malapetaka bagi kebanyakan orang yang umumnya tidak memiliki kesiapan pikiran, ilmu, pengetahuan, kedewasaan dan kematangan. Sebagai diri pribadi, apalagi sebagai kumpulan Bangsa-bangsa.

Maka akhirnya niat itu menghantam kepalanya sendiri sampai serasa akan retak.