Catatan Ngaji Bareng Masjid Walisongo, Gresik 20 Oktober 2016

Perjuangan Pemuda Indonesia Pelem Dodol

Bahagia karena Cak Nun dan KiaiKanjeng akhirnya benar-benar hadir di dusun mereka. Juga menangis haru melihat perjuangan teman-teman.

Acara Tadabburan yang berlangsung di halaman Masjid Walisongo Pelem Dodol Pelem Watu Menganti Gresik ini bermula dari semangat para pemuda dusun ini. Untuk niat baiknya itu, mereka ingin sekali menghadirkan Cak Nun dan KiaiKanjeng. Tapi mereka tak tahu bekal apa yang dipunya. Sekali dua kali rapat, tetapi masih keraguan yang dihasilkan. Baru pertemuan ketiga, mereka bertekad bulat. Sedemikian bulat tekad mereka, untuk menjaga semangat, di rumah-rumah mereka, mereka pasang foto Cak Nun.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Langkah demi langkah ditempuh. Anak-anak muda itu mempersiapkan segala sesuatu. Mereka punya keyakinan yang diamalkan, yakni barangsiapa niat dan sungguh-sungguh, nanti pasti ada jalan. Seminggu menjelang hari H, di mana sejumlah item tampak belum jelas bagaimana pemenuhannya, keyakinan mereka sedikit demi sedikit menemukan buktinya. Tangan-tangan itu mengulurkan keikutsertaan. Bahkan hingga lebih. Makanan-minuman dan beberapa item lainnya beres semua. Saat tim KiaiKanjeng sore tadi ngobrol dengan ketua panitia, sang ketua panitia lebih banyak menangis. Bahagia karena Cak Nun dan KiaiKanjeng akhirnya benar-benar hadir di dusun mereka. Juga menangis haru melihat perjuangan teman-teman untuk merealisasikan cita-cita mereka.

Cita-cita dan niat mereka ada dua. Menumbuhkan semangat dan kesadaran hormat atau khurmat kepada leluhur, di tengah semakin pudarnya kesadaran akan sangkan paran dan asal-usul. Mereka sedang menyelenggarakan khaul Mbah Sanggrok dan Mbah Tasrifan. Mbah Sanggrok berapa ratus tahun lalu adalah orang yang babat alas di sini serta mendidik masyarakat mengenal ajaran agama Islam.

Kedua, mereka ingin dengan Tadabburan ini masyarakat belajar kembali akan pentingnya kerukunan sebagai sesuatu yang perlu dimenangkan. Mereka sebagai generasi muda kadangkala merasa kehilangan figur yang dapat mereka anut dan rujuk, karena orang-orang tua seringkali menunjukkan kekurangkompakkan. Mereka para muda ini ingin membangun masa depan yang lebih baik.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Sampai saat acara mulai berlangsung, para muda penyelenggara Tadabburan ini tetap pada posisi berjuang melayani masyarakat yang hadir. Ada yang bertugas menjaga parkir, mengawal cek sound dan persiapan panggung, merapikan audiens, berkoordinasi dengan pihak-pihak termasuk para tokoh masyarakat, memastikan transit KiaiKanjeng, dan lain-lain. Kini para jamaah sudah memenuhi lokasi acara, mengikuti acara dengan enak, nyaman, dan antusias terhadap apa-apa yang disampaikan Cak Nun dan KiaiKanjeng. (hm/adn)