Daur (186)

Perjalanan Penderitaan

Ta’qid : “...karena kita orang bawah, rakyat kecil yang tidak berdaya, tidak punya modal untuk membiayainya, tidak punya akses internasional untuk support, tidak memiliki massa, tidak punya kesaktian atau apapun yang menjadi syarat perubahan mendasar kehidupan Negara dan Bangsa”

Ketika Markesot sedang suntuk tertekan oleh masalah langkanya Manusia Gravitasi, titik adil, khoirul umuri ausathuha, tiba-tiba datang seorang teman lamanya yang sudah dua puluh tahun lebih baru nongol lagi. Wajahnya agak berbunga-bunga, seperti sedang penasaran oleh sesuatu, atau memang bergembira.

“Mungkin anak ini sukses hidupnya”, Markesot bergumam dalam hati, “mungkin dia kaya sekarang, pakaiannya necis, wajahnya klimis. Mungkin akan mengajak ke warung entah apa untuk makan enak”

Sebenarnya belum selesai kepala Markesot berputar-putar oleh pikiran tentang bagaimana menjelaskan banyak kebobrokan sosial yang terjadi sekarang ini, melalui amsal kuda-kuda lurus antara titik pusat bumi dengan Kursi Allah, yang menjadi sumber berbagai macam kasus yang ia jumpai.

Dari posisi dan ‘nasib’ per orang, keluarga dan komunitas-komunitas, sampai tingkat makro: kemiringan Negara, keambrukan, bahkan keterbalikannya. Yang itu semua semakin memastikan masa depan ambruk dan rubuh-nya. Meskipun kebanyakan orang baru mengerti sedang ambruk ketika bentuknya sudah seperti kiamat kecil yang kasat mata: Negara bangkrut, gedung-gedung perekonomian mangkrag, putaran uang melamban dan macet, krisis pangan, antre jatah beras, langka air, sekolah libur, listrik byar satu pet sepuluh, dan penderitaan-penderitaan fisik semacam itu.

Markesot membayangkan ia akan memulai kembali berangkat dari tatanan sosial yang paling bawah. Melakukan atau melayani semacam “perjalanan penderitaan”, meneliti kembali akibat-akibat mikro dari kemiringan-kemiringan gravitatif makro, sambil melihat apakah ia bisa sedikit membantu penyelesaian masalah. Markesot menemukan bahwa seluruh kasus-kasus yang terjadi, semua permasalahan sosial di bawah atau menengah, sesungguhnya prosentase terbesarnya adalah merupakan akibat dari sebab-sebab makro dan elite nasional serta internasional.

Tapi tiba-tiba teman itu datang, tanpa melihat-lihat situasi Markesot, langsung saja nyelonong dengan wajah polos yang berbunga-bunga.

“Sekarang saya baru mengerti apa yang Cak Sot omongkan tiga puluhan tahun yang lalu”, ia langsung menusuk, tanpa sapaan basa-basi layaknya seorang tamu.

“Omongan apa?”, Markesot balik tanya.

“Tentang mundur ke depan dan maju ke belakang. Begitu Cak Sot dulu menggambarkan perjalanan bangsa kita”

“O, itu”, jawab Markesot, “Ya, saya ingat sedikit-sedikit tapi samar karena sudah terlalu lama”

“Cak Sot menyatakan tidak ikut arus perjuangan bangsa yang mengejar ketertinggalan, yang diposisikan sebagai Bangsa dan Negara terbelakang. Cak Sot bilang bahwa arah perjalanan yang Cak Sot tempuh berbeda, bahkan mungkin terbalik, dari arah perjalanan mayoritas bangsa ini terutama mainstream kepemimpinannya.”

“Tapi kan saya tidak melawan”, sahut Markesot, “Saya tidak makar, tidak berontak, tidak merancang kudeta, tidak berambisi untuk mengambil alih kekuasaan, tidak berpikir revolusi atau apapun yang bisa malah menambah kekacauan perjalanan bangsa ini”

“Ya, Cak Sot bilang semua itu tidak akan kita lakukan karena kita orang bawah, rakyat kecil yang tidak berdaya, tidak punya modal untuk membiayainya, tidak punya akses internasional untuk support, tidak memiliki massa, tidak punya kesaktian atau apapun yang menjadi syarat perubahan mendasar kehidupan Negara dan Bangsa”

“Saya bilang begitu dulu?”

“Seingat saya, ya”

“Dan kamu serta kawan-kawan percaya?”

“Tidak perlu percaya atau tidak percaya. Karena kenyataannya memang begitu. Kan Cak Sot sering bilang bahwa kepercayaan itu diperlukan untuk menjadi jembatan antara kita dengan sesuatu yang kita belum bisa menyentuhnya. Lha keadaan kita kan sudah jelas, sudah nyata, dan posisi kita sudah menyatu dengan kenyataan itu, bahwa kita memang rakyat kecil yang tak berdaya”

Markesot tersenyum kecut. “Jadi apa yang membuatmu tiba-tiba nongol ke sini? Apa yang menyebabkan kamu senyum-senyum dengan wajah yang berbunga-bunga?”

Temannya menjawab, “Karena kemarin saya tiba-tiba menemukan bahwa yang Cak Sot sampaikan dulu ternyata benar”

“Memangnya ada apa sehingga kamu berkesimpulan seperti itu?”

“Saya membaca sebaran tulisan tentang kata-kata seorang Kiai di Magelang, yang dalam tumpukan pengetahuan saya menegaskan kebenaran kata-kata Cak Sot bahwa Sampeyan tidak ikut arus perjuangan bangsa yang mengejar ketertinggalan, yang diposisikan sebagai Bangsa dan Negara terbelakang. Cak Sot bilang bahwa arah perjalanan yang Cak Sot tempuh berbeda – dan seterusnya seperti saya bilang tadi…”

“Kiai siapa nama beliau?”, Markesot bertanya.

“Tidak ada namanya di tulisan itu”

Teman Markesot kemudian mengeluarkan handset-nya, membuka aplikasi tertentu, kemudian menunjukkan ke Markesot tulisan yang dimaksud.