Daur (32)

Perhimpunan nJarem Nasional

Semua tulisan yang sudah dibacakan sebelum Markesot menginterupsi, maupun yang tersisa, sebenarnya memang yang demikian itu yang diharapkan oleh Markesot. Tetapi ternyata itu membuat dirinya makin merasakan njarem, di hatinya maupun tubuhnya.

Sangat jelas sebabnya. Tulisan-tulisan itu memang lahir dari rasa njarem masing-masing penulisnya, meskipun njarem kolektif ini belum disadari oleh teman-temannya. Mereka ini cocoknya mungkin berkumpul di dalam Perhimpunan Njarem Nasional.

Ungkapan-ungkapan yang lahir tidak dari hati yang kebal. Karena di Universitas Patangpuluhan memang disepakati bahwa mereka melarang diri mereka sendiri untuk memasuki, mempelajari, melatih dan memperkembangkan Ilmu Kebal. Baik Kajiwan maupun Kanuragan.

Komunitas Patangpuluhan menemukan bahwa upaya pengkebalan badan itu menyinggung perasaan Tuhan. Ilmu Kebal berposisi menolak sunnah atau tradisi hukum alam yang diregulasi oleh Tuhan bagi makhluk manusia. Salah satu dimensi keindahan hidup manusia antara lain adalah rasa sakit, meskipun jangan sampai memproduksi rintihan yang berlebihan dan ratapan yang berkepanjangan.

Rasa sakit mungkin membawa manusia pada ketidakseimbangan struktur kejiwaan. Tapi bersamaan dengan segala sesuatu yang menyakitkan, sudah disediakan juga perangkat dan metode untuk menawarnya. Sakit badan atau hati tidak perlu membawa manusia ke kelumpuhan tubuh atau sakit jiwa, karena ia adalah bagian dari kelengkapan “sebab musabab”, untuk dikelola oleh manusia menuju ketangguhan, kedewasaan, kematangan dan kesaktian.

Ketangguhan tidak sama dengan kekebalan. Kedewasaan tidak sama dengan kebebalan. Kematangan tidak sama dengan fatalisme. Dan kesaktian adalah kekuatan rahasia yang disimpan oleh Tuhan di dalam diri manusia, di luar kekuatan alamiahnya. Kalau pakai Kitab suci, kekuatan alamiah itu disebut “quwwah”, sedangkan kesaktian itu “sulthan”.

***

Tuhan mengizinkan “sulthan” untuk dilantikkan sebagai pinjaman resmi dari-Nya kepada manusia, sesudah berbagai tahap ujian, perjuangan, tawar-menawar kewajiban dan hak antara manusia sebagai pelaku kehidupan dengan Tuhan sebagai Maha Pelaku segala lakon yang dikehendaki-Nya.

Maka di kalangan para pejalan ilmu lelaku di Patangpuluhan, mereka memberanikan diri berdoa memohon kepada Tuhan, “La haula wa la quwwata wa la sulthana illa billahil ‘aliyyil ‘adhim”, sebagai dorongan ekstra di tengah riyadlah perjuangan mereka membangun kemanusiaannya.

Dari “quwwah” menuju “sulthan” terhampar luasnya kemungkinan bekerja selama waktu yang tersedia, di ruang sempit yang bernama dunia, yang sama sekali bodoh untuk menjadikannya sebagai tujuan perjuangan.

Kenyataan-kenyataan sosial membuat njarem. Tipu daya negara dan pasar bebas membuat njarem. Pencitraan eksistensi dan kemunafikan para pemimpin membuat njarem nasional dan internasional. Adzab Tuhan berupa ketoprak kepemimpinan, sandiwara ketokohan atau kepalsuan negara dan pemalsuan pemerintahan, menimbulkan njarem massal.

Kenapa di media-media komunikasi ummat manusia dan bangsa Negeri Katulistiwa tidak ada atau sekurang-kurangnya tidak ditonjolkan tema tentang kepemimpinan, apalagi kepemimpinan sejati? Karena sistem yang sedang diterapkan harus menghindari dan menghalangi munculnya Pemimpin Sejati.

Kenapa kesadaran tentang sejarah dan penghormatan kepada Leluhur diupayakan agar semua orang terutama generasi muda meremehkannya? Karena hal itu merupakan penghalang besar bagi pola penjajahan yang sedang dijalankan. Kalaupun ada yang mendasar dan mendalam secara nilai dari masa silam bangsa Negeri Katulistiwa, harus dirumuskan dengan istilah yang meremehkan, menyempitkan dan membuat rendah diri, yakni: kearifan lokal.

Kenapa wacana tentang kemunafikan tidak boleh dibiarkan menjadi trending-topic pada suatu jangka waktu yang melebihi batas strategi kaum penjajah? Karena kesadaran, detail dan komprehensi ilmu tentang kemunafikan akan membuka aib-aib besar para stake-holders kekuasaan, bisa merusak tananan, membubarkan mekanisme yang sudah ditata secara seksama.

Akal bulus politik, hipokrisi kebudayaan, manipulasi agama, penipuan-penipuan kata dan bahasa melalui pelembagaan gagasan dan ideologi — dari demokrasi, liberalisme, moderat, fundamentalisme, radikalisme, madzhab, sekte, trend dan berbagai macam hologram pikiran lainnya — membuat njarem, linu-linu, pegal-pegal, rasa lumpuh, remuk redam.

Himpunlah data-data teknis, statistik, bagan-bagan, jurnal-jurnal atau bentuk apapun dari media massa, dunia maya, buku-buku, perpustakaan dan apapun, untuk memperoleh pengetahuan teknis mengenai itu semua. Lakukanlah pendataan sebagaimana kaum terpelajar di dunia dan Negeri Katulistiwa. Tetapi di tulisan yang manapun di sini tidak akan kutambahi rasa njarem nasional-globalmu dengan membeberkan hal-hal semacam itu.

***

Aslinya selama hidup Markesot sendiri hampir tak pernah berhenti merasakan njarem. Dan sebenarnya ia meminta teman-temannya berkumpul di Patangpuluhan ini tak lain tak bukan semata-mata untuk melaksanakan semacam niat jahat menjebak mereka semua agar menyatu dalam kebersamaan njarem.

Dan ketika kemudian ternyata empat puluh orang itu memang datang dengan njarem-nya masing-masing, akibatnya Markesot malah menjadi lebih parah njarem-nya. Sumbangan njarem dari seluruh Negeri Katulistiwa yang dihimpun di rumah hitam Patangpuluhan itu jelas membuat tidak selalu stabil menjaga citra kematangan dan ketenangannya.

Markesot tidak terus-menerus bisa berpura-pura bahwa ia seolah-olah bagian dari kehidupan modern abad ini. Tatkala rasa njarem-nya tak tertahankan, keluarlah perwujudan bahwa belum tentu ia murni keturunan Homo-Sapiens. Muncullah manusia purba yang selama ini acting memperkenalkan dirinya sebagai Markesot. Atau andaikan bukan manusia purba, sekurang-kurangnya ia bukan manusia asli Bumi. Mungkin ia transmigran dari entah planet apa di tatasurya tetangga matahari atau dari belahan galaksi jauh di sana.

Gilanya muncul. Liarnya ketahuan. Cambuk keluar dari balik kostum sandiwaranya. Ledakan-ledakan aneh memecah udara. Suara tertawa-tawa yang susah diidentifikasi itu impressi dari sesuatu yang lucu, atau ekspresi dari kegembiraan. Tapi bukankah kandungan tawa itu lebih banyak rasa deritanya?

Salah seorang teman Markesot membisiki sebelahnya. “Sesungguhnya keliaran Markesot tadi menunjukkan bahwa ia adalah manusia sejati. Dia orang biasa. Penderitaan jiwanya dan ekspresi komunikasinya relatif sama dengan kita semua dan rata-rata orang….”