Perdikan Teater dalam Paseduluran Maiyah

Bagi Perdikan Teater, yang lebih utama adalah silaturahminya, persambungan dan kekeluargaannya. Sedangkan pementasan teater hanya satu bagian di dalamnya.

Para teaterawan Yogyakarta sejak era 1970-an dari berbagai komunitas teater beberapa hari terakhir berkumpul di Rumah Maiyah, Kadipiro. Mereka berkumpul pada tanggal 10, 13, 14, 15, 16 Juni untuk menyambung paseduluran, silaturahmi melalui proses latihan teater. Perdikan Teater – Yogya akan menggelar pementasan Dramatik Reading pada Mocopat Syafaat di Kasihan, Bantul nanti malam. Pementasan ini mengangkat naskah yang berjudul “Mencari Buah Simalakama”, sebuah naskah karya Simon HT dan Fajar Suharno.

20160617-esai-01
Suasana latihan Perdikan Teater di Rumah Maiyah Kadipiro, Jogja.

Berkumpulnya para teaterawan lintas komunitas teater ini, yakni dari Bengkel Teater, Teater Gadjah Mada, Teater Alam, Sanggar Bambu, Drama Kecil, Sanggar Salahuddin, Teater Dinasti, Pondok Teater, Sanggar Sastra Indonesia, UNY, ISI dan Teater Pintu, merupakan sebuah bentuk paseduluran yang diberi wadah Perdikan Teater – Yogya.

Menurut Cak Nun yang mendampingi latihan, mengungkapkan bahwa Perdikan Teater ini sendiri lebih dari sekedar kelompok ‘teater’. Bagi Perdikan Teater, yang lebih utama adalah silaturahminya, persambungan dan kekeluargaannya. Sedangkan pementasan teater hanya satu bagian di dalamnya. Berteater adalah alat ekspresi. Simon HT dan Fajar Suharno, penulis naskah “Mencari Buah Simalakama” dari Teater Dinasti yang menginisiasi terbentuknya ikatan silaturahmi dalam wadah Perdikan Teater.

20160617-esai-02
Koordinasi Perdikan Teater.

Proses latihan Dramatik Reading yang sengaja ‘digenjot’ setiap malam ini agar dapat meyajikan performa terbaiknya pada gelaran Mocopat Syafaat. Mas Fajar Suharno, sang sutradara pementasan ini pada latihan terakhir di Kadipiro tadi malam mengungkapkan, “Proses latihan kali ini sebagaimana mengulang apa yg menjadi tradisi di Patangpuluhan,  bahwa setiap pemain memiliki kemerdekaan dan tidak tergantung pada satu orang figur.”

Judul naskah ini pun menarik karena umumnya orang menghindari buah simalakama, tapi ini malah mencari buah simalakama. Simon HT pada latihan tadi malam sedikit menjelaskan terkait situasi memilih yang ibarat buah simalakama, “Pemerintah atau Negara itu Bapak, sedangkan Alam Semesta adalah Ibu. Saat ini Bapak dan Ibu ini sedang tidak akur, bertentangan terus. Nah, kita, rakyat sebagai Anak dihadapkan untuk memilih Bapak atau Ibu.”

20160617-esai-04
Gladi Bersih Perdikan Teater di Kasihan menjelang Mocopat Syafaat.

Cak Nun menekankan jika secara substansi, pementasan naskah ini senyawa dengan Maiyah. Jamaah Maiyah yang hadir adalah orang-orang yang berijtihad mencari ilmu dan hikmah dari bentuk apapun, termasuk pementasan ini yang memiliki filosofi sangat bagus. Jamaah Maiyah mengerti ada ruh agama dalam setiap hal.

Selain latihan di Pendopo Rumah Maiyah Kadipiro, juga diselenggarakan Gladi Resik di lokasi Mocopat Syafaat, halaman TKIT Alhamdulillah, Kasihan-Bantul pada tanggal 14 Juni kemarin. (HAR/AJJ)