Daur (121)

Perbudakan Pancaindra

Begitu entengnya manusia membuka mulut. Begitu mudahnya manusia menggerakkan bibir. Begitu gampangnya manusia mengekspresikan pendapatnya. Sampai-sampai akalnya diam-diam memprotes. Kenapa tidak pernah diajak bermusyawarah dalam proses pengambilan keputusan. Tentang segala sesuatu yang akan dinyatakan keluar darinya, kepada sesama manusia dan mungkin didengarkan oleh tidak sedikit manusia lainnya. Bahkan Malaikat dan Iblis pasti mendengarnya. Jin bisa ya bisa tidak. Kalau Tuhan, jangan dipertanyakan: Beliau mendengar segala yang diungkapkan maupun yang disembunyikan.

Hanya karena Mbah Sepuh dipanggil Allah pada posisi bersujud ke arah selatan, manusia dengan enteng menyikapinya dengan sinis: “Ternyata menyembah Nyai Roro Kidul ya?” Itu pun tidak benar-benar tahu Nyai Roro Kidul itu apa atau siapa. Tidak melacak itu kenyataan ataukah dongeng. Tidak pernah mencari tahu kenapa ada Nyai, ada Nyi, ada Nyi Roro Kidul, ada Kanjeng Ratu Kidul. Pokoknya apa saja yang masuk lewat telinganya, cukup dirunding langsung dengan mulutnya, dan kemudian mulut ditugasi untuk melontarkannya.

Jangankan berpikir kreatif, misalnya sekali-kali mulut yang disuruh mendengarkan dan telinga yang ditugasi menyatakan pendapat. Sekadar mengelola organisasi pancaindra saja tidak maksimal. Manusia sangat mudah ditipu, diperdaya, dibikin kagum dan terpesona, diseret, dikendalikan dan akhirnya diperbudak. Cukup lewat pancaindra.

Pendayagunaan pancaindra itu pun dipersempit. Misalnya bukan mengeksplorasi seluas mungkin segala sesuatu yang bisa diakses oleh pancaindra. Melainkan pancaindra hanya ditunggangi untuk menyentuh dan mendapatkan apa yang diinginkannya, kepentingannya, nafsunya, ambisinya. Mata hanya dipakai untuk melihat uang dan harta benda. Telinga hanya dipakai untuk mencari bunyi-bunyian yang menghibur, karena pemilik telinga itu selalu berada dalam keadaan yang kesepian. Kalaupun pakai otak untuk berpikir, penggunaannya hanya untuk menghitung laba materi. Kalau laba, lantas lupa diri. Kalau rugi, hasilnya galau dan frustrasi.

Sesekali melebar sedikit keluar dari pancaindra. Manusia menyebutnya indra keenam. Kalau seseorang merasa punya indra keenam, dalam waktu singkat ia akan menjadi sombong, merasa lebih dan unggul dibanding manusia lain. Sementara manusia-manusia lain juga menyambutnya dengan riang gembira: kalau ada orang dianggap punya indra keenam, ia segera diperlakukan seperti Nabi, bahkan seperti Tuhan.

Kasihan benar kehidupan manusia. Oleh Tuhan diistimewakan, malah jadi paling tidak istimewa. Oleh Tuhan sangat disayang, malah banyak yang jadi pengkhianat atau penyelingkuh Tuhan. Oleh Tuhan sangat diunggulkan dan dimanjakan, malah akhirnya menjadi paling inferior.

Secara keseluruhan keadaan manusia dengan peradaban dan kebudayaannya, terutama dengan perpolitikannya, sangat diprihatinkan oleh para Malaikat, menjadi tertawaan di kalangan masyarakat Jin, bahkan oleh energi-energi liar yang manusia menyebutnya hantu, manusia cenderung dipermainkan.

Karena pengenalannya kebanyakan sangat rendah atas dirinya sendiri yang sebenarnya sangat dimuliakan Tuhan, maka kecenderungan utama budayanya adalah mencari kambing hitam, untuk dijadikan sasaran kesalahan setiap kali ada sesuatu yang negatif yang menimpa mereka. Kapan saja mereka melakukan kesalahan, yang disalahkan adalah Setan atau Iblis. Kalau ada koruptor, disebut budak Iblis. Para pelaku Mo-Limo, judi, mabuk, melacur, madat dan maling: disebut orang-orang yang tergoda oleh Setan. Pokoknya apa saja yang buruk pada manusia, yang salah adalah Iblis dan Setan.

Kebanyakan manusia juga tidak peduli-peduli amat terhadap Iblis dan Setan itu sama atau tidak, beda atau tidak, sekeluarga atau se-suku atau entah bagaimana posisinya. Kebanyakan manusia sangat malas belajar. Tuhan mengajari mereka berdoa: “Aku berlindung kepada Pengasuhnya manusia, Rajanya manusia, Tuhannya manusia, dari keburukan Setan yang bersembunyi, yang membisik-bisikkan kejahatan ke dalam dada manusia, dari golongan Jin dan manusia…..”

Banyak manusia yang sangat rajin membaca doa itu, tetapi malas memahaminya. Mereka berdoa demi kepentingan keselamatannya, tetapi keselamatannya itu ditujukan untuk menjadi landasan bagi tercapainya keuntungan dan kesejahteraan dunia. Mereka malas untuk sedikit saja memasuki muatan kalimat yang diajarkan langsung oleh Tuhan dengan kalimat-kalimat yang sangat gamblang.

Kalimatnya jelas: “yang membisik-bisikkan kejahatan ke dalam dada manusia, dari golongan Jin dan manusia ”, tetapi tetap saja yang mereka tuduh adalah makhluk-makhluk di luar diri mereka. Atau tetap saja Setan itu disimpulkan sebagai makhluk lain di luar diri mereka. Padahal sangat terang benderang di kalimat itu bahwa yang disebut Setan itu berasal dari keadaan tertentu di dalam diri Jin atau manusia.

Tentu saja di dalam pernyataan-pernyataan lain dari Tuhan, ada formula-formula atau parameter-parameter yang dimensi dan konteksnya berbeda tentang Setan. Tetapi itu juga tidak penting bagi kebanyakan manusia. Yang penting di dalam tradisi budaya kebanyakan manusia: kalau sesuatu itu baik maka itu diaku sebagai jasa manusia. Kalau sesuatu itu buruk, maka yang salah adalah Setan atau Iblis, dan itu bukanlah manusia.

Mungkin itu merupakan “fitnah zaman” yang lebih besar dan lebih serius dibanding yang menimpa Mbah Sepuh. Atau juga merupakan contoh dari yang diungkapkan oleh Saimon bahwa kebanyakan manusia “cenderung  berlaku tidak sebagaimana dirinya”.

Sampai-sampai pada suatu malam Markesot menggurat-guratkan pensilnya di atas kertas:

Puisi buat Iblis

Yang manusia tak perlu baca
Sebab kutulis puisi ini bukan untuk mereka
Sehingga tak kususun-susun dalam trauma aturan-aturan
Tak kupuitik-puitikkan, tak kuindah-indahkan
Dengan semangat jiwa sakit yang tak berkesudahan

Puisi ini buat Iblis, as-Sajid yang tangguh
Yang bertugas melatih keseimbangan hidup
Yang menebar kegelapan demi cahaya
Yang firman Tuhan mengutuknya, tanpa pernah
Manusia menyelami kandungan rahasia hati-Nya

Boleh juga dibaca oleh setan-setan, yang manapun
Besar, cerdas, licin, tekun, atau yang kerdil atau lumayan
Yang bersedih meratap-ratap sepanjang zaman
Sebab tak dianugerahi kemungkinan kecuali menjadi setan

Meskipun berterima kasih tak disuruh jadi manusia,
yang hidupnya sangat memalukan

Wahai Iblis kusaksikan andhap-asor-mu, takdzim-mu
Kepada Muhammad makhluk pertama sesepuh kita bersama
Allah mengabulkan permintaanmu untuk hidup sampai kiamat
Bersegeralah meralat dan memohon kematian
Daripada berurusan dengan manusia
yang cengeng dan menjijikkan

Wahai Baginda Smarabhumi, Ya Roki’ waya Sajid
Tinggalkan aku, kami semua ummat manusia, tinggalkan
Kami tak memerlukanmu lagi untuk menempuh kehancuran
Kami asfala safilin tak berwajah, rasa malu kami kepadamu
tak terperikan
Sebab kasih sayang para Nabi, kami balas
dengan pengkhianatan.