Mukadimah Majlis Gugur Gunung 29 Oktober 2016

Peran Imajiner

Dewata Wanna be

Jika ada sebuah jaman dimana masyarakatnya dipenuhi gairah perubahan nan besar, itulah jaman dimana sesungguhnya masing-masing pihak sangat paham secara bawah sadar keterpurukannya. Namun, masing-masing pihak lantas berlomba-lomba menisbatkan diri sebagai pihak paling kredibel dalam mrantasi berbagai keterpurukan. Dan, masing-masing pihak akan saling membuktikan diri, siapa sesungguhnya yang paling Dewata. Politik — Agama — Ekonomi — Ideologi — Kekuatan Militer — Sosial Budaya — Entertainment — Media Massa — Sains, dll, Masing-masing bagaikan Dewa-Dewa yang hendak menjawab carut marut keadaan.

Peran Imajiner
Majlis Gugur Gunung Oktober 2016, Peran Imajiner

Agama, yang seharusnya tidak patut ikut berderet di sana pun ikut menjadi peserta Dewata Wanna be (keinginan menjadi Dewa). Karena agama masih belum benar-benar ditangkap oleh pemeluknya sebagai karunia informasi yang sesungguhnya meng-atas-i apa-apa yang ada di bumi.

Masing-masing pihak sama-sama tidak sadar bahwa keterpurukan itu terjadi bukan karena jamannya yang terpuruk namun karena kualitas Manusianya yang terpuruk. Dan, Manusia-Manusia yang terpuruk ini saling menganggap dirinya sendiri sebagai pihak tercerahkan dan siap mengkoreksi banyak hal.

Gejala apakah ini jika bukan kondisi menina-bobokkan diri dengan mimpi-mimpi kebangkitan namun dengan modal pengetahuan dan strategi yang begitu pemula yakni,”di saat engkau tak bisa membawa kebangkitan, buatlah semua rendah, tumbang dan terpuruk agar sedikit tampak kontras tinggi rendah yang menimbulkan efek kebangkitan”.

“Di saat engkau tak bisa membawa kebangkitan, buatlah semua rendah, tumbang dan terpuruk agar sedikit tampak kontras tinggi rendah yang menimbulkan efek kebangkitan.”

Maka tidak heran bukan jika kemudian masing-masing pihak yang masih mengandalkan strategi ini — akan merasa tampil sebagai pahlawan dan tokoh paling kredibel dalam perjuangan membangun kebangkitan. Bukan karena benar-benar mengajak beranjak dengan kesadaran yang murni namun jika sudah berhasil merendahkan dan membantah segala macam lalu-lintas pendapat yang tidak berasal dari dirinya sendiri.

Mengelola Informasi

Untuk menjadi Manusia haruslah cacat-cela. Sedangkan untuk menjadi Dewa haruslah sempurna. Kalaupun tidak, minimal menjadi Manusia setengah Dewa, tetap punya cacat namun berkekuatan Dewa bahkan lebih kuat lagi. Nah, bagaimana kemudian wajah sebuah peradaban jika diisi oleh para Manusia Dewata yang sanggup menganalisi banyak hal, mengeksplorasi dan memberikan rumusan-rumusan, mampu berbicara dalam banyak kontek dan interdisiplin keilmuan? Semua masalah besar maupun kecil pasti akan beres dan seimbang, cepat terjadi harmonisasi dan tidak banyak hambatan untuk membangun perkembangan ruhani.

Pertanyaannya; Siapa Manusia yang ingin cacat cela? semuanya atau paling tidak sebagian besar Manusia akan sangat terdorong memilih menjadi yang tanpa cela. Artinya setiap Manusia ingin menjadi Dewa impiannya. Berlagak-laku bagai Dewa, namun peran ke-Dewa-an ini tetap dilakukan oleh Manusia yang sama sekali bukan Dewa. Maka kehadiran “Dewata” tampil dalam sebuah format ketidak-sempurnaan yang akut. Ia sangat rajin dan gigih memperjuangkan diri untuk tampak sebagai Dewa sesungguhnya, segala kata, gerik, polah, dan tindakan sebisa mungkin menjadi informasi bahwa dirinya adalah Dewata. Dan setiap kali tampak tidak tinggi, segera rendahkan oranglain. Saat mulai tampak kecil, segera tambal dengan meremehkan pihak lain. Itu semua agar tetap tampak tinggi dan besar.

Apakah ada kaitan sikap mental seperti ini dengan pengelolaan informasi? Sangat ada! Ada kecenderungan seseorang yang telah tersugesti secara bawah sadar bahwa dirinya Dewa akan merasa kompatibel berkomentar dan merasa ahli terhadap semua kasus dan fenomena yang jelas-jelas diluar jangkauannya. Dari fenomena keracunan, penggandaan, pilgub, pembalap, etnis dan agama, tafsir dan ekstrimis, syiah — sunni, selingkuhan si anu, simpanan si itu. Bahkan si Dewa jadi-jadian ini akan merasa berhak menentukan siapa tokoh baik dan tokoh jahat sesuai seleranya, dan masih banyak lagi perilaku yang ia sangka sebagai perilaku keDewataan yang tak mungkin salah dan maha benar.

Benar tidak? Semoga, jadi kita punya kesempatan kembali untuk menjadi Manusia.