Reportase Lima Tahun Maneges Qudroh

Peradaban Kendi

5 tahun MQ memaknai dirinya sebagai sebuah kendi, menjadi lebih dewasa daripada usianya, tidak sebagai makna bendanya namun sebagai makna kerjanya.

5 tahun tentunya bukan waktu yang singkat dalam membangun sebuah wadah. Wadah yang tidak biasa, wadah tanpa tepi. Wadah yang telah istiqomah menggali sumur laboratorium peradaban yang bermuara di Menturo, Jombang dengan nama PadhangmBulan. Berkat sumur tersebut kita menjadi kendi yang siap menimba air segar dari sumbernya dan kemudian kita bawa air tersebut untuk menjadi pelepas dahaga bagi yang lain dalam proses dan laku perjalanan kehidupan ini.

Kendi pula merupakan identitas kearifan lokal yang acapkali digunakan pada momentum minum bersama guna melepas dahaga dengan kerabat baik di teras, pendopo ataupun ladang. Kendi kerap kali berisi air tawar matang dan dingin khas karena tersimpan pada sebentuk benda yang terbuat dari tanah liat/gerabah. Bersamaan pula karaktek kendi serupa dengan Maneges Qudroh yang berfungsi sebagai Majelis Ilmu dan Wadah Paseduluran. Kendi sebagai manifes budaya dan minum kembulan wujud sebuah paseduluran, serta air sebagai simbol dari tetesan ilmu. Maka, 5 tahun Maneges Qudroh semoga menjadi momentum untuk kembali merefleksikan nilai tersebut dan terus menjadi oase bagi para pencari.

“Semoga di dalam lingkaran kita, tidak ada kesalahan niat, kekotoran batin, kedangkalan pikiran, apapun saja yang membuat Muhammad menitikkan air mata atau bahkan membatalkan kasih sayangnya kepada kita”

(Janji awal persaudaraan Maneges Qudroh, 5 Februari 2011, Gedung Mirota Pabelan)

Tentunya air yang mengendap di dalam kendi akan menjadi rusak, tidak segar, memunculkan biota, atau bahkan penyakit. Maka prinsip berbagi tiada henti menjadi spirit bersama dalam perjalanan mengarunginya. Kali ini pada momentum 5 tahun Manages Qudroh (MQ), selain melingkar seperti malam-malam sebelumnya juga turut berbagi lewat donor darah dan outbond anak TPQ.

Outbond anak TPQ dan kegiatan lain dalam Lima Tahun Maneges Qudrah.
Outbond. Foto: MQ.

5 Tumpeng untuk 5 tahun Maneges Qudroh

Bertempat di kediaman Bapak Usamah, Gergunung, Mungkid 6 Februari 2016 digelarlah sarasehan MQ. Diawali dengan tadarus dan dilanjutkan penghaturan sholawat, wirid Padhangmbulan, Maulan Siwallah, serta Duh Gusti semakin menambah khusyuk para dulur-dulur yang melingkar.

Pak Dadik yang didapuk moderator oleh Pak Eko (MC) langsung menyampaikan prolognya dan mempersilakan para sesepuh menempati area di depan backdrop. Mas Wahyu mengawali proses kenapa sampai mengangkat tema kendi dalam momentum emas ulang tahun MQ. Tak lain karena Kendi di eranya merupakan sebentuk manifes budaya yang penuh dengan pesan arif kehidupan. Setidaknya kendi masih banyak digunakan 20 tahun silam mengandung nilai keikhlasan, kebersamaan, spirit untuk berbagi dan kehidupan yang semeleh juga menyegarkan. Pak Eko pula menimpali buah dari pengetahuan adalah perbuatan. Sehingga air yang sudah masuk dalam kendi tersebut tak boleh lama-lama berada di dalamnya, ia harus segera didistribusikan.

Begitupula filosofi Tumpeng yang juga memiliki fungsi budaya yang sama dengan kendi. Pak Dadik menuturkan bahwa di dalamnya juga terdapat peristiwa sosial kultural gembulan/makan bersama bersumber dari satu nampan tersebut. Tumpeng sebagai wujud merayakan kebahagian berbagi bersama yang tak lain seperti peristiwa ketika orang menyediakan kendi penyejuk dahaga bagi para pejalan. Kendi untuk minum bersama, sedang tumpeng untuk makan bersama.

Pak Nur Hamid, sesepuh MQ turut pula mengingatkan semuanya untuk kembali menata niat, agar segala yang dilakukan mendapat cahaya dari Allah. Pada kesempatan tersebut, beliau mengingatkan sebuah doa agar selalu mendapat pencerahan yang diawali dengan Allahumma nawwir qulubana kama nawwartal ‘ardlo binuuri syamsika abadan birohmatika yaa arhamar rohimin, Ya Allah terangilah hati kami  sebagaimana Engkau menerangi bumi dengan matahari-Mu berkat kasih sayangMu wahai Dzat Yang Sebaik-baik Melimpahkan Cinta Kasih Sayang. Di malam yang penuh harap tersebut beliau juga meminta salah satu penggiat untuk menyanyikan lagu Sebelum Cahaya.

Sementara itu Pak Edi mengurai kita tetap menjadi kendi, berusaha dengan lokalitas kita yang sudah turun temurun dibudayakan oleh para pendekar Nusantara sejak lama. Indahnya penggunaan bahasa Jawa Kromo oleh para sesepuh atau antar penggiat turut pula menambah suasana guyub, ajur ajer dan dalam rangka menjaga budaya agar tak lekang oleh arus zaman.

Selain itu Pak Dadik juga memanggil Mas Anang untuk ke depan dan menyampaikan testimoninya. Mas Agus beserta rombongan dari Maiyah Gugur Gunung Semarang turut pula menyemarakkan acara malam tersebut.

Menurut Mas Agus, umumnya usia 1-9 tahun adalah fase mengidentifikasi dirinya. Usia tunggal sebagai pusat semesta, pusat perhatian. Ibaratkan anak-anak kalau ada pemberian hadiah pasti inginnya yang paling bagus dan besar, atau ia menjadi seperti benda. Usia tersebut untuk mengetahui bahwa dirimu ada. Sedangkan ketika 5 tahun MQ memaknai dirinya sebagai sebuah kendi maka dia menjadi lebih dewasa daripada usianya, tidak sebagai makna bendanya namun sebagai makna kerjanya.

Namun terkadang di usia 5 tahun ini ternyata kita masih byayakan, maka semoga ke depan bisa menjadi api yang lebih tenang, lebih terkoordinasi. Kata byayakan bukan diproduksi oleh orang yang lupa, namun orang yang ingat untuk selalu eling lan waspodo. Dan lebih lanjut dalam usia tunggal ini juga mengajarkan  berfilosofi omongno neg sek tunggal ki ming Gusti Allah. Usia selanjutnya harus mengingat kalau keberadaan dirimu itu didukung oleh keberadaan-keberadaan yang lainnya.

Warok Bocah besutan Mas Handoko Pakis, Lima Tahun Maneges Qudrah.
Warok Bocah. Foto: MQ.

Tak terasa waktu telah menunjuk pukul 12 malam, Pak Eko memungkasi bahwa peringatan kelahiran ialah kembali ke titik awal perjalanan dan merefleksi langkah yang telah dijejakkan. Untuk terus mengendentifikasi menemukan rumus-rumus sehingga terbentuk bangunan atau wadah yang ideal di masa-masa yang akan datang. Terus berusaha meng-compatible-kan diri dengan Kehendak Allah agar ketika berjumpa dengan benturan atau tersandung masalah bisa tetap tegak melanjutkan dengan langkah yang semakin mantap. Puncaknya ialah pembacaan doa, prosesi potong tumpeng dan makan bersama seluruh hadirin.

Berbagi Kehidupan

7 Februari 2016 masih di tempat yang sama, tak lelah-lelahnya MQ yang menggaet PMI unit Donor Darah Kabupaten Magelang untuk memberikan wadah bagi warga masyarakat desa Gergunung dan sekitarnya yang ingin menjadi pendonor. Pak Dadik dalam muqoddimahnya menyampaikan bahwa donor darah  tak lain merupakan proses memberi tanpa kehilangan. Lewat donor darah kita dapat mengaplikasikan ungkapan “memberi tanpa kehilangan” satu kantong, 350 cc yang disedot dari tubuh ternyata tidak berarti hilang. Justru yang hilang ini memungkinkan berlangsungnya pembaruan sel darah dalam tubuh. Hilang berarti membarui. Hilang dan akan kembali, itulah penjelasan matematis-biologisnya.

Para pendonor pun dihibur dengan gegap gempita warok bocah besutan Mas Handoko Pakis, tak ayal ratusan mata pun memandang dengan seksama teatrikal para bocah, penari, dan pemuda menarikan warisan leluhur tersebut.

Dan dalam aksi donor darah tersebut Pimpinan PMI menyampaikan rasa bahagia dan syukurnya karena sukses menghimpun 24 kantong darah dari 40-an peminat donor darah. Dan besar harap dari pimpinan PMI untuk ke depan secara intens bisa menggandeng PMI di kegiatan-kegiatan lainnya.

Berbagi Keceriaan

Tak habis-habisnya berbagi. Setelah penggalangan darah, para penggiat MQ bekerjasama dengan pemuda pemudi desa Gergunung mengadakan outbond ceria yang diikuti oleh 50-an anak-anak dari TPQ Al-Jihad. Berbagi keceriaan yang mendidik itulah tagline event tersebut. Dunia anak sejatinya adalah dunia bermain. Dalam menangani anak, sebagai pendidik atau orang tua harus masuk ke dunia mereka. Mereka tidak bisa dipaksakan untuk menjadi seperti kita. Dalam rangka meningkatkan kecerdasan anak dan meningkatkan kreatifitas perlu adanya sebuah gambaran tentang bagaimana kita mengaplikasikannya ke dalam permainan-permainan yang menarik.

Permainan tidak hanya sekedar menumbuhkan keceriaan, karena toh anak kita dalam fitrahnya sudah pakar dalam menumbuhkan keceriaan dan kegembiraan, akan tetapi bagaimana bisa membekali anak dengan motivasi untuk menumbuhkan keyakinan diri, ketangkasan, kecepatan berfikir dalam menentukan setiap keputusan, kepemimpinan, daya imajinasi, kreativitas, dan patriotisme.

Lewat dasar pemikiran tersebut tim kreatif menyusun rangkaian pos, seperti pos pemberangkatan yang digawangi Pak Eko, pengetahuan keagamaan, puzzle dengan petugas Mas Yuli, membaca puisi dijaga Pak Dadik, transfer sarung, transfer air dengan sarung, meniup tepung, balon goyang diampu dengan semangat oleh Mas Fani, Mbak Shofa dan Bu Nur.

Dari raut muka anak-anak tersebut, tiada tergambar sedikitpun kelelahan meskipun menempuh jarak antar pos yang cukup jauh. Hujan tak pula menurunkan semangat mereka melanjutkan game yang sudah disusun. Dipuncaki dengan pembagian hadiah, acara pun usai pukul 2 siang.

Filosofi Tumpeng yang juga memiliki fungsi budaya yang sama dengan kendi.
Filosofi Tumpeng. Foto: MQ.

Kita belajar dengan mereka dan kita berusaha berbuat dengan peduli terhadap bangunan akhlaq mereka juga. Semoga Allah menjadikan rangkaian ini sebagai pembuka kesadaran kita semua bahwa bagaimanapun anak-anak kitalah yang akan membangun masa depan peradaban ini.

Maneges dalam Kancah Kehidupan

Menurut sejarah, Maneges diambil dari kisah Anoman Maneges. Sedangkan Qudroh tak lain merupakan ketentuan Allah Swt yang bersifat khusus. Maneges Qudroh adalah sebuah forum pencarian dan perenungan dari takdir kekuasaan dan kasih sayang Allah yang  dapat terbaca melalui ayat-ayat suci-Nya baik yang tersirat secara tertulis di lembaran kertas, maupun yang terasakan melalui tanda-tanda kehidupan ini. Juga merupakan sebuah forum dari pengembangan cita-cita Jamaah Maiyah untuk menjadi obor penerang bagi lingkungan sekitar agar dapat merasakan artinya sebuah kebersamaan.

Persaudaraan maiyah kerap kali mengharu biru. Disana para salikinal maiyah benar-benar mencoba mengamalkan nilai-nilai maiyah yang tak lain amanah dari Allah dengan sekuat hati dan tenaga. Cinta segitiga Allah, Kanjeng Nabi Muhammad dan kita mencoba dihadirkan dengan segenap hati dalam setiap langkahnya. Entah berapapun waktu, tenaga dan biaya yang tercurah namun semua itu tak lain untuk menyongsong dan membangun peradaban baru, peradaban dunia akhirat yang masih memegang teguh nilai kebenaran kebaikan dan keindahan dan tentunya keadilan termasuk di dalamnya.

Persaudaraan maiyah mencoba untuk tidak keliru menentukan jalan, cara, atau wadah dengan tujuan sejatinya kehidupan. Sebab jika keliru maka akan hancur karena menuhankan dunia. Persaudaraan maiyah nguri-uri prinsip lingkaran, dari innalilahi wa innailaihi roji‘un, eling sangkan paraning dumadi.

“Semoga ke depannya Maneges Qudroh semakin kuat memanggul amanah cinta persaudaraan maiyah. Dapat selalu menjadi wahana bagi berkumpulnya beranekaragam ilmu. Menempatkan ilmu itu sendiri secara tepat hingga mencapai titik pertemuan dengan dzat Allah. Semoga Allah senantiasa menguatkan hati kita dan mengokohkan kaki kita hingga kita bisa melangkah, berusaha, bergerak dan tumbuh dalam konsistensi menuju kebaikan. Menjadi kendi-kendi dan menularkan pada kendi-kendi baru di ranah yang lebih luas lagi,“ harap Pak Dadik, suhu Maneges Qudroh.

Nafisatul Wakhidah