Daur (52)

Peradaban Bayi-Bayi

Orang yang menjalani hidup di jalan keinginan, cukup berbekal nafsu, ditambah sedikit ilmu yang kompatibel dengan nafsunya itu. Tapi orang yang melakoni kehidupan mencari yang ia butuhkan, bekal yang ia perlukan sejak awal adalah ilmu.

Bayi adalah tahap manusia ketika sama sekali masih belum mengerti beda antara keinginan dengan kebutuhan. Bayi ditemani staf-stafnya Tuhan  untuk menunjukkan kepada Ibunya apa yang ia butuhkan, tapi si bayi itu sendiri tidak mengerti bahwa itu kebutuhan.

Kasdu dulu mendengar Markesot pernah nyeletuk, “Sekarang ini sampai dewasa manusia tidak belajar membedakan antara keinginan dengan kebutuhan. Rancangan pembangunan, kreasi kebudayaan dan teknologi, hampir seluruh sisi peradaban ummat manusia di abad ini, menunjukkan sangat jelas ketidakmengertian pelaku-pelakunya bahwa yang mereka bangun dengan gegap-gempita itu bukan kebutuhan, melainkan keinginan.”

“Yang berlangsung sekarang ini adalah peradaban bayi-bayi. Bayi tidak bisa disalahkan, meskipun ia membanting gelas, melempar Ibunya dengan piring, atau bahkan membakar rumah. Bayi tidak percaya, atau tepatnya, belum paham, ketika dikasih tahu bahwa yang ia lakukan adalah perusakan dan penghancuran”.

“Saya sudah bersumpah kepada diri saya sendiri”, kata Markesot, “tidak akan ngasih tahu apa-apa kepada bayi. Bayi memimpin masyarakat, menjadi kepala negara, menyusun pasal hukum, mendaftari para calon penghuni neraka, menjadi pemegang urusan hal-hal yang ia muati dengan keinginan dan nafsunya. Tidak. Saya tidak akan senggol mereka. Kecuali hal itu menjadi bagian dari tagihan Tuhan kepada saya kelak di akhirat, saya tidak akan sentuh. Dan apakah itu tagihan atau bukan, saya tidak punya pengetahuan kecuali Tuhan menginformasikannya kepada saya”.

***

Ada saat-saat Kasdu dan Tonjé menyesali bahwa dalam hidup yang cuma sekali dan sebentar ini mereka kenal Markesot.

Pergaulan dengan Markesot membuat pandangan hidup mereka jadi kacau. Kehidupan di dunia ini menjadi tampak berbeda. Sangat berbeda. Dunia ternyata bukan kampung halaman. Bukan rumah. Bukan tempat di mana manusia membangun kemapanan dan kejayaan. Dunia ini hanya area kerja bikin batu-bata, untuk bangunan rumah mereka kelak di kampung halaman yang sejati.

Ada saat di mana pandangan itu membuat hidup mereka menjadi tegar, tangguh dan tenang. Tapi di saat lain muncul situasi di mana mereka seperti ditimpa kesedihan dan rasa putus asa.

“Ngawur orang-orang itu”, Tonjé nyeletuk.

“Siapa? Ngawur bagaimana?”, Kasdu bertanya.

“Kebanyakan orang yang mengenal saya menyimpulkan bahwa hidup saya ini serabutan dan spekulatif”

“Bukannya memang begitu?”

“Saya menjalani hidup tidak dengan spekulasi, melainkan dengan iman yang jelas, kepercayaan yang teguh kepada kehidupan”

“Maksud orang-orang itu kamu tidak punya pekerjaan yang pasti sebagaimana umumnya orang”

“Berani dan meyakini bisa hidup tanpa pekerjaan yang pasti, apa artinya itu selain mencerminkan iman yang total kepada Tuhan”

“Mungkin mereka tidak tega melihat anak istrimu kalau kamu tidak punya profesi yang jelas”

“Istriku mau kawin dengan saya justru karena kagum kepada keberanian dan iman saya itu”

“Apakah iman kepada Tuhan berarti hidupmu bergantung kepada kemurahan Tuhan melulu?”

“Lho tapi saya selalu bekerja keras”

“Kerja apa?”, Tonjé tertawa keras, “kerja apaan?”

***

“Ya seketemunya. Pokoknya kerja keras. Tidak tergantung satu jenis pekerjaan. Saya bekerja keras melangkah dari pekerjaan satu ke pekerjaan yang lain, yang kebanyakan tidak saling berhubungan. Selesai satu pekerjaan, cari pekerjaan berikutnya”

“Itu namanya tidak punya pekerjaan tetap”

“Kan yang utama pekerjaan, tetap atau tidak tetap itu soal lain”

“Semua orang menyimpulkan bahwa lelaki, apalagi suami, terlebih lagi seorang bapak atau kepala keluarga, haruslah punya pekerjaan tetap”

“Di mana ada pekerjaan tetap untuk saya? Saya tidak mau jadi anak buah, juga tidak mau jadi boss. Satu-satunya kemungkinan hanya saya mengbossi diri saya sendiri dan menganakbuahi diri saya sendiri”

“Terus letak orang selain kamu di mana?”

“Ya di hadapan saya di setiap pekerjaan. Saya butuh sebanyak mungkin orang untuk berunding, tawar menawar, bertransaksi, atau juga tolong-menolong, dalam posisi tidak sebagai boss atau anak buah”

“Apakah menjadi anak buah atau menjadi boss itu salah?”

“Sama sekali tidak. Cuma saya tidak sanggup berada di posisi seperti itu. Saya sekeluarga butuh makan dan mengawal masa depan anak-anak saya, dan saya bekerja keras untuk itu, tapi hanya bisa di luar posisi boss atau anak buah”

“Tapi sudah menjadi kesimpulan umum bahwa setiap lelaki harus punya pekerjaan tetap. Di situ letak harga diri hidupnya”

“Pekerjaan tetap kamu apa?”

“Nggak ada juga sih…”

***

Mereka berdua tertawa berkepanjangan. Tonjé dan Kasdu sadar benar bahwa hidup mereka memang paling kacau dibanding teman-teman sesama jebolan Patangppuluhan.

“Tapi kan tidak sekacau Markesot”, kata Kasdu.

“Markesot itu bukan kacau”, kata Tonjé, “tapi pengecut”

“Kok pengecut?”

“Tuhan bilang harta dan anak adalah fitnah dalam kehidupan di dunia. Maka dia tidak beristri tidak beranak. Mau enaknya sendiri”

“Saya sepertinya mengerti pertimbangan Markesot”

“Gimana”

“Kan Tuhan juga, melalui Nabi-Nya, menentukan bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah hiasan. Dan hiasan yang terindah adalah istri yang salehah, keluarga yang sakinah”

“Terus?”

“Markesot ngeri untuk punya istri dan anak, atas dua pertimbangan. Pertama, bisa saja punya istri salehah dan membangun keluarga sakinah. Tapi anak-anak kita besok-besok? Apa kita jamin bisa juga? Belum lagi cucu? Cicit?”

“Di situ itu gunanya iman dan kepasrahan kepada Tuhan”

“Markesot khawatir seluruh anak-cucunya sampai turunan keseratus keseribu pun masih membawa risiko tanggungjawab Markesot. Kalau cicitnya besok-besok melakukan kedhaliman, Markesot ikut menanggung dosanya. Karena hidup ini mengendarai waktu, di dalam ruang. Hidup ini akseleratif, struktural dan historis, dari belakang maupun ke depan”

“Markesot memang ruwet”

“Pertimbangan yang lain yang membuat Markesot tidak berkeluarga lebih mengerikan. Tuhan menyuruh kita berproses menyatukan diri dengan-Nya. Kita harus tidak eman kehilangan apapun asalkan diterima bertauhid kepada-Nya. Kehilangan rumah dan harta benda, bisa kita tanggung. Tapi kehilangan anak istri, demi penyatuan dengan Tuhan, berani kamu?”

“Oo itu yang yang Markesot takut”

“Ada tokoh besar menyatakan ‘Wahai dunia, jangan coba rayu-rayu aku, sebab aku sudah mentalak-tiga kamu’. Markesot bertanya, talak tiga itu termasuk ke anak dan istrinya atau tidak? Markesot waktu itu membisiki saya: ‘Tokoh itu punya dua putra. Yang satu diracun oleh istrinya, yang lain dipenggal kepalanya oleh musuhnya’. Berani kamu menantang dunia untuk menganggapnya kecil dan meninggalkannya?”

“Lho tapi kalau Markesot jadi panutan, semua orang lantas tidak kawin, tidak berkeluarga, mandeg dong polulasi dan peradaban manusia?”

“Itu sudah saya tanyakan kepada Markesot dulu”

“Apa jawabnya?”

“Itu namanya kiamat. Alhamdulillah. Semakin cepat kiamat tiba, semakin segera jelas keadaan kita. Daripada hidup di dunia menantikan akhirat di dunia yang tanpa akal, penuh penghuni sakit jiwa, dan disiksa oleh bangunan-bangunan kemunafikan yang tak ada hentinya”