Penjajahan Cara Berpikir Struktural

Rakaat Kedua

Penjajahan atas manusia Indonesia di mana Ummat Islam merupakan mayoritas dari bangsa Indonesia di negara Indonesia, telah berlangsung sangat lama dengan bentuk yang sangat beragam di segala bidang. Penjajahan itu berlangsung secara sistematis, strategis, dan menusuk hingga ruang privat dalam jangka waktu yang sangat lama. Bentuk-bentuk penjajahan itu sangat terstruktur mulai dari pondasi dasarnya, yaitu cara berpikir.

Setelah sebelumnya kita belajar bersama bahwa secara umum sistem kehidupan di bumi ini dikendalikan kelompok elit kecil yang menguasai kelompok masyarakat besar, salah satunya dengan cara pengendalian cara berpikir. Kali ini kita akan coba mengurai lebih dasar lagi bentuk penjajahan mindset itu dan kira-kira apa yang ingin dicapai dari pengendalian itu. Berikutnya nanti kita juga akan masuk ke dalam bentuk-bentuk penjajahan lainnya.

Kiranya kita mestinya bisa belajar dari para pakar terkait penjajahan mindset ini. Salah satunya yang bisa menjadi rujukan adalah Dr. Manu W. Padmadipura Wangsawikrama. Beliau adalah ahli filologi Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Pada tanggal 28 Oktober lalu, Koran Jakarta merilis wawancara dengan beliau yang cukup membuka wawasan yang bisa menyadarkan kita.

Dari wawancara tersebut, kita bisa memahami gambaran penjajahan cara berpikir itu mewujud dalam Bahasa Indonesia yang mengadopsi tata bahasa struktural. Dalam beberapa Maiyahan, Cak Nun juga sering menjelaskan bahwa Bahasa Indonesia sejatinya diambil dari Bahasa Melayu Pasar yang tumbuh dalam kultur perdagangan di Nusantara. Dengan kata lain, ia merupakan bahasa dagang yang tentunya adalah bentuk turunan dan penyederhanaan dari akar bahasanya yaitu Melayu Tinggi yang berabad-abad mengandung kekayaan sebuah peradaban.

Bahasa Indonesia mengadopsi struktur bahasa kolonial. Di sana ada subyek, predikat, obyek, dan keterangan (SPOK). Selain itu, Bahasa Melayu Pasar ini karena sifatnya bahasa dagang, maka ia miskin kosakata. Ia mengalami kerepotan jika harus menerjemahkan bahkan dari bahasa Jawa yang kaya akan kosakata. Seringkali Cak Nun ketika akan menjelaskan pemikiran yang akarnya dari bahasa Jawa mengalami kesulitan mencari padanan yang pas. Seperti saat Maiyahan di Blitar beberapa waktu lalu, tidak ada kata yang pas dalam Bahasa Indonesia dari kata Mangano dan Panganen. Dalam Bahasa Indonesia keduanya diartikan sama: makanlah. Padahal ia sangat berbeda akurasi maknanya.

Bangsa Nusantara ditakdirkan Allah memiliki ragam bahasa hingga ribuan jumlahnya. Perjalanan manusia nusantara dalam berinteraksi memahami tahapnya dari makhluk menjadi insan kemudian ‘abdullah dan terakhir khalifatullah memunculkan kekayaan khazanah peradabannya sendiri. Manusia nusantara menyadari posisinya di muka bumi ini terdapat sinergi kesetaraan dengan seluruh semesta. Wujudnya dalam bahasa yang mengandung penghayatan estetik dalam kosakatanya. Ini disebut rasa bahasa.

Empat Tahapan Manusia
Empat Tahapan Manusia

Di dalam estetika bahasa tersimpan seluruh pengetahuan. Di Jawa, untuk menyebut beras saja ada pari, gabah, beras, menir, yang masing-masing menandakan hubungan-hubungannya yang berbeda dengan diri manusia dan alam. Dan di sinilah letak miskinnya Bahasa Melayu Pasar. Bahasa dagang ini berikutnya juga mengalami masalah jika harus membahasakan etika, moral, peradaban, kebudayaan, diplomasi politik, ideologi, bangunan sosial, dan seterusnya.

Sisi rasa bahasa perlahan hilang ketika kolonial menerapkan pendidikan dengan sistem kelas (klasikal) hingga seperti yang kita rasakan hari ini. Meskipun di sekolah diajarkan bahasa ibu kita, apakah itu Bugis, Jawa, Sunda, Mandar, Madura, Banjar, dan sebagainya, tetapi memahami bahasa-bahasa itu dengan cara berpikir kolonial, atau tata bahasa struktural tadi (SPOK). Seperti dalam Bahasa Jawa, jejer diposisikan sebagai subjek, wasesa adalah predikat, lisan itu objek, dan keterangan menjadi katerangan. Struktur kolonial ini mengakibatkan mindset manusia Indonesia juga berpikir struktural. Yaitu manusia adalah subyek dan alam adalah obyek yang harus dikuasai. Pola pikir struktural ini ditanamkan kepada generasi ke generasi utamanya melalui sistem pendidikan.

Jika manusia Jawa kepada alam berlaku setara, horizontal, tidak ada subyek maupun obyek karena dalam kosakata Bahasa Jawa semua merupakan kesatuan yang utuh, maka dalam cara berpikir kolonial ini, alam diperlakukan sebagai obyek eksplorasi untuk keuntungan materi belaka. Tanah, air, dan sumber daya alam lainnya dengan serakah dikeruk manusia struktural hingga merusak ekosistem. Tanah pertanian dipacu kesuburannya dengan pupuk-pupuk kimia demi produksi yang lebih banyak agar lebih menguntungkan, yang pada akhirnya merusak unsur-unsur terbaik tanah itu. Juga mematikan makhluk lain yang terhubung dalam rantai ekosistem tanah.

Warga seputar Merapi memahami jika gunung itu bergejolak hingga menyebarkan keberkahan melalui lahar dan wedhus gèmbèl-nya, mereka mengatakan Merapi sedang punya hajatan. Sedangkan manusia modern dengan mindset struktural menyebut hajatan Merapi itu sebagai bencana.

Mengutip wawancara Dr. Manu di Koran Jakarta, bahwa bahasa juga berkembang bersama ekologi manusianya. Iklim tropis dan tanah nusantara yang subur membuat peradaban nusantara cukup maju seperti tersimpan dalam sejarah pertanian, artefak arkeologis, teks-teks yang berisi kekayaan kosakatanya.

Masuknya bangsa Barat ke Nusantara menjadi sejarah berikutnya yang kemudian keberhasilan penguasaan mereka atas kita. Ratusan tahun mereka di sini, salah satunya membawa perkembangan filsafat dan bahasa di sana yakni filsafat strukturalisme. Dr. Manu menduga Revolusi Prancis menjadi awal dari berkembangnya seluruh bangunan masyarakat Barat yang berlangsung dalam sistem kehidupan dunia hari ini yang di dalam bahasanya tersimpan struktur subjek predikat objek tersebut.

Tapi kesadaran baru masyarakat Barat tersebut, yang memang membawa keberhasilan tertentu dalam teknologi yang menjadikan alam sebagai objek dan manusia sebagai objek itu, kalau mau melihat sejarah panjang peradaban sebenarnya belum bisa dikatakan sebagai peradaban yang benar-benar unggul. Karena baru berapa ratus tahun Barat menguasai dunia, kita bisa lihat alam sudah sedemikian rusak.

Melalui pendidikan juga, intelektualitas rakyat Indonesia dan ummat Islam dimanipulasi yang akarnya sejak Revolusi Perancis atau Renaissance dengan dogma-dogma sekuler. Awalnya Tuhan dipisahkan dari agama yang turunannya mewujud dalam pemisahan Tuhan dari ilmu pengetahuan. Selain itu juga dilakukan pelemahan-pelemahan cara berpikir yang diperkuat oleh media, khususnya televisi melalui tayangan-tayangannya. Pembodohan demi pembodohan secara gencar lewat pemberitaan-pemberitaan. Terkait pembodohan ini, semoga bisa dijelaskan pada rakaat-rakaat berikutnya.

Meskipun penjajahan secara fisik, yakni penempatan pasukan angkatan bersenjata penjajah sudah berakhir 71 tahun yang lalu, penjajahan itu tetap berlangsung hingga hari ini. Karena penjajahan atas rakyat dan Ummat Islam Indonesia yang terjadi selama ini secara mendasar berawal dari pengubahan mindset, maka peperangan panjang juga dihadapi mulai dari sana. Peperangan mereka yang sangat panjang ini memerlukan nafas dan jurus yang panjang pula. Juga memerlukan kesiapan mental dan kesadaran bahwa ini sebuah peperangan yang panjang.

Mudah-mudahan melalui gambaran terkait struktur bahasa dan rasa bahasa kali ini, melalui Dr. Manu, kiranya sekali lagi pantas dikutip pesan beliau sebagai sangu generasi milenial yang akan membangun peradaban nusantara ke depan.

Kita bisa mulai lagi membuka kekayaan masa lalu kita melalui penelusuran sejarah dan bahasa kita sendiri. Membuka lagi bagaimana manusia berhubungan dengan sesamanya dan alam semesta karena mereka pun, bangsa Barat itu, mengambil begitu banyak kekayaan pengetahuan kita sesuai dengan kesadaran mereka atas alam dan seluruh isinya. Kita harus bergerak sampai akar untuk mengerti diri kita sendiri. Kalau sudah tidak ada yang peduli dengan akar lagi, kita akan selamanya kulakan gagasan tentang dunia ini dari Barat. Mereka yang merumuskan, membuat, menjual eceran kepada kita. Dan kita hanya akan jadi konsumen gagasan dan produk turunan dari mereka. Kalau identitas saja tidak punya bagaimana mau punya tujuan?