Wedang Uwuh (4)

Penistaan atas Simbah

Kedaulatan Rakyat, 8 November 2016

“Andaikan omongan kalian tadi di depan orang banyak”, saya meneruskan, “bisa jadi akan ada cucu Simbah yang lain entah siapa, melaporkan kalian dengan kasus penistaan atas Simbah”

“Kalimat yang mana yang menistakan Simbah?”, Beruk bertanya.

“Pasal hukum dalam undang-undang yang berlaku di Negara kita yang mana yang mau dipakai? Kalau pasal 156 dan 156a KUHP apa ada kosakata penistaan?”, Gendon menambahi.

Pèncèng menimpali juga dengan tertawa. “Memang Simbah ini siapa kok GR ada yang menistakan. Kayak firman Tuhan saja…”

Saya coba uji anak-anak ini. “Lho saya adalah firman Tuhan”

“Ah, Simbah ini…”, kata Pèncèng.

“Semua ciptaan Tuhan adalah ayat. Ayat artinya tanda. Tanda kehebatan Tuhan. Kebesaran dan keagunganNya. Seluruh alam semesta dan jagat raya beserta isinya, kata para Sesepuh dulu, adalah ayat kauniyah. Sedangkan Kitab Suci, dari Taurat, Zabur, Injil hingga AlQur`an adalah ayat-ayat qouliyah. Ayat literer, menggunakan bahasa dan kata yang dikenal oleh manusia. Semua yang di luar kata dan bahasa firman itu, termasuk Simbah, kalian Pèncèng Gendon Beruk, daun-daun, cacing, kecoa, siang dan malam, kadal dan gathul, piyik dan meri, planet dan galaksi, apa saja, juga para Nabi Rasul Jin Setan Iblis dan Malaikat, adalah ayat-ayat wujudiyah, firman yang dihadirkan sebagai wujud, bukan yang dikomunikasikan melalui kata dan bahasa….”

Pèncèng tertawa lagi. “Wah, njur tenanan iki, Simbah….”

“Jadi bukan hanya ayat Kitab Suci saja yang bisa dinistakan, Mbah?”, tanya Beruk.

“Menista itu memuat berbagai kemungkinan serangan kepada makhluk Tuhan: mengejek, meremehkan, melecehkan, bahkan mungkin menghina. Kalau kalian menista Simbah, berarti kalian menista ciptaan Tuhan yang notabene adalah ayat atau firmanNya. Kalau kalian menista ayat Tuhan, berarti kalian menista prinsip Negara yang menghormati Tuhan Yang Maha Esa dan ayatNya. Dengan kata lain, kalian melecehkan Pancasila”

“Ah, ngombro-ombro Mbah…”, Penceng menyela.

“Lho sejati fakta dan masalahnya memang demikian”, saya menjawab, “makanya hati-hati kalau omong dan bersikap. Kalau kalian anak kecil, nggak apa-apa gembelengan. Tapi kalian berposisi memimpin, berarti sudah nyunggi wakul, jangan sekali-sekali gembelengan. Jaga mulut, jangan sakiti siapa-siapa, justru setiap tindakan dan ucapanmu harus mengayomi, membesarkan hati rakyat, memberi ruang, memperluas ketenteraman dan keseimbangan hubungan. Kalau nggak, nanti wakul amanah kepemimpinan kalian akan ngglimpang, dan segane tumpah dadi sak-latar

“Tapi dari yang kami katakan tadi tidak ada materi pidana yang bisa dijadikan bukti penistaan, Mbah”, Beruk coba membantah.

“Andaikan kami dituduh menistakan Simbah, kami akan dihukum atau tidak, itu tergantung perdebatan intelektual para ahli atau antara Jaksa dengan Pembela, karena pasalnya sendiri sangat debatable, bisa diisi oleh seribu macam tafsir”

“Dihukum atau tidak”, jawab saya, “tapi wakul sudah ngglimpang, meskipun bisa diambil dan disunggi lagi…”

“Juga, anak-anak”, saya meneruskan penjelasan, “hukum itu hanya bagian kecil dari manusia dan kehidupan yang luar biasa luas dan ragam dimensinya. Yang bisa dirangkum atau diikat oleh hukum adalah warganegara, tetapi manusia sebagai manusia jauh lebih luas dan multi-dimensional dari itu. Ketahuilah bahwa saya menuntut kalian atau tidak, bukan terutama berdasarkan kata-kata kalian tadi, melainkan Simbah ukur berdasarkan situasi-situasi panjang hubungan antara kalian dengan Simbah, yang di dalamnya ada nuansa, dimensi-dimensi, nada, hawa, aura, energi positif atau negatif. Dan sudah pasti Simbah tidak akan menuntut kalian karena hawa kalian kepada Simbah adalah cinta dan kasih sayang. Andaikan proses hubungan kita berisi kebencian dan nafsu untuk menguasai, mencurangi, atau apalagi ada remang-remang tipudaya – Simbah akan lakukan sesuatu yang lain, dan belum tentu Simbah andalkan tangan hukum Negara…”.