Pengantar Tak Dikenal

Setelah dijawab hendak ke acara Maiyah, seolah paham orang itu segera mempersilakan keluarga itu masuk ke mobil. “Mari saya antar, saya juga mau ke sana”.

Pada H-1 Ihtifal Maiyah, suasana di kompleks Padhangmbulan Menturo Jombang sudah terlihat diwarnai kesibukan. Para penggiat simpul Jamaah Maiyah dari berbagai daerah mulai berdatangan.

Isim Maiyah Harianto yang sedari siang tadi sudah berada di sana melaporkan bahwa rombongan Waro’ Kaprawiran Madiun datang awal. Tak lama tiba di lokasi, mereka segera berinisiatif menyiapkan kendaraannya untuk menjemput rombongan dari simpul lain yang akan datang berikutnya.

Mereka lakukan hal itu tanpa komando, seakan tahu apa yang harus dikerjakan. Ada yang begitu masuk kamar mandi dan dilihat ada yang kurang bersih segera ia bersihkan. Sebagian lain segera menggelar tikar yang diperlukan buat tempat duduk lesehan.

Tetapi yang menarik, anak-anak muda simpul Jamaah Maiyah itu begitu turun dari kendaraan segera bergegas menuju Sentono Arum untuk ziarah dan berdoa di makam Ibunda Halimah.

Suasana Menturo menjelang Ihtifal Maiyah.
Suasana Menturo menjelang Ihtifal Maiyah. Foto: Zakki.

Ada kisah unik yang menyertai jamaah yang mulai berdatangan itu. Seorang JM tiba di stasiun Sumobito, bingung naik apa dan bagaimana ke Menturo. Tiba tiba datang seorang pengendara motor yang menawarkan jasa mengantar ke Menturo. Dikiranya ojek, ternyata bukan. Dan anehnya pengendara motor itu juga belum tahu Menturo. Sesampai di lokasi dia segera bergegas pergi dan tak meminta ongkos antar.

Tidak berselang lama datang juga sekeluarga jamaah dari Jogja, yakni seorang bapak, ibu dan anak balita. Dari jogja mereka naik bus umum jurusan Surabaya, turun di Peterongan. Saat mencari angkutan ke Menturo, tiba-tiba datang mobil menghampiri dan tanya mau ke mana. Setelah dijawab hendak ke acara Maiyah, seolah paham orang itu segera mempersilakan keluarga itu masuk ke mobil. “Mari saya antar, saya juga mau ke sana”.

Keluarga Jogja itu menduga bahwa itu adalah panitia yang memang disiapkan untuk penjemputan, ternyata dugaannya salah. Si mobil itu begitu menurunkan penumpang dari Jogja itu langsung pergi entah kemana.

Selain dari Waro’ Kaprawiran, teman-teman dari Relegi Malang juga sudah datang, pun rombongan dari Purwokerto, Kebumen, Bandung, Lampung, Mandar, dan kota lain. Sebagian besar mereka adalah para penggiat simpul yang sengaja datang lebih awal dengan harapan bisa ikut bantu-bantu panitia. Besok siang mereka akan melingkar dan bersilaturahmi.