Daur (301)

Pendidikan Kesempitan dan Kedangkalan

Tahqiq : “...Bangsa dan Ummat ini secara intelektual dilahirkan dan dibesarkan oleh situasi pendidikan kesempitan dan kedangkalan. Secara politik dilahirkan oleh atmosfer penjajahan....”

“Itulah yang saya lihat ditangiskan oleh Mbah kalian Markesot”, kata Brakodin mencoba menjelaskan.

Cak Sot tidak menangis. Ia menangisi dan menangiskan. Ummat Islam bukan hanya bukan Ummah Wahidah, firqah-firqah di dalam diri mereka saling menegasikan. Yang satu berjuang, lainnya menjegal. Yang sini berjihad, lainnya ambil keuntungan. Sebagian memerangi Iblis, lainnya merayu Iblis, bahkan mengemis. Sebagian mufarraqah dengan Setan, lainnya minta dikawini oleh Setan.

Yang berjuang juga tidak mengawali dengan inisiatif mempersatukan diri dengan lain-lainnya. Berangkat perang dengan gegap gempita, sambil merasa kecewa kenapa lainnya tidak ikut berperang. Sesudah kecewa, mengecam. Sesudah mengecam, mengkafirkan. Sesudah mengkafirkan, menuduh yang tidak ikut bersamanya berarti bagian dari pasukan Setan.

Yang berperang sibuk dengan identitas dan kostumnya, sehingga kebanyakan saudara-saudaranya yang lain mengalami kesulitan kultural dan kontekstual untuk melibatkan diri. Menyusun tata gelar peperangan tanpa terlebih dahulu merundingkan siapa Panglima dan pimpinan pasukan-pasukannya. Sehingga sangat banyak saudara-saudaranya tidak berangkat perang karena berdasarkan sejarah yang panjang: tidak bersedia menjadi prajurit yang dipanglimai oleh tokoh yang tidak dilahirkan atas kesepakatan bersama.

Ummat Islam tidak bergerak mempersatukan diri atas dasar iman kepada Allah, ketaatan kepada Rasulullah, dan penghormatan kepada Kitab Suci mereka bersama. Atmosfer yang dibangun adalah pemersatuan atas dasar kemarahan, kebencian, dan dendam kepada musuh. Itu pun pemetaan tentang musuh tidak dirembug bersama. Medan perang dipersempit, cara berperang tidak dirunding. Sangat banyak prajurit iman yang tidak bisa melangkahkan kakinya untuk memasuki barisan karena merasa terfetakompli oleh waktu yang ditentukan secara parsial, maupun oleh segala faktor yang menyangkut peperangan panjang.

Pasukan yang berperang hanya bergerak setengah improvisatoris, berpikir satu-dua pertempuran, tidak menyusun pemetaan dan strategi panjang berdasarkan komprehensi dan skala luas medan perang yang dihadapi. Pasukan yang maju perang menargetkan seorang musuh harus dipenjarakan. Dan meskipun si Setan menjanjikan minggu depan SP21 difinalkan dan paling lambat sepuluh hari kemudian pengadilan pasti digelar, tetap dianggap itu adalah strategi tipu daya Setan. Pasukan jihad maunya musuh itu di hadapan mereka langsung ditangkap oleh Setan dan dicampakkan ke dalam Lembaga Pemasyarakatan saat itu juga.

Pasukan Jihad meyakini mereka sedang menjalankan tugas kemalaikatan melawan rezim Setan. Sementara si rezim Setan meyakini bahwa mereka juga sedang menjalankan tahap-tahap pelaksanaan kebenaran kemalaikatan. Di manakah Cak Markesot berada? Apakah berada di pasukan Malaikat ataukah di barisan Setan? Bolehkah Markesot memiliki pandangan sendiri tentang yang mana Setan dan yang mana Malaikat?

Markesot sudah puluhan tahun menegaskan bahwa karena aku Islamis maka aku Nasionalis, karena aku Nasionalis, maka aku Islamis. Markesot tidak bisa berpendapat bahwa pasukan yang ini adalah Malaikat dan yang itu adalah Setan. Markesot menemukan bahwa di kedua pasukan terdapat peran Malaikat maupun Setan sekaligus, dengan takaran yang berbeda, dengan tonjolan energi dan konteks yang tidak sama.

Brakodin melihat bahwa Markesot dari suatu wilayah sudah menunjukkan dukungan dan dorongan kepada pasukan yang meyakini berada di pihak Malaikat untuk jangan mundur memperjuangkan kebenaran Tuhan. Tapi Markesot juga memasuki markas rezim Setan untuk memberi dorongan agar mereka menunjukkan keseriusannya menangani proses si musuh yang dihajar karena dituduh menistakan Kitab Suci.

Akan tetapi keduanya tidak berada pada ketenangan jiwa untuk adil, tidak berada pada keseimbangan berpikir untuk lebih tepat melangkah. Markesot mencoba mengungkapkan tema “Rakaat Panjang” atau “Jurus Jalan Panjang”, misalnya, tetapi itu tidak efektif ketika ternyata tafsir terhadap jalan panjang itu menggunakan pikiran pendek. Kalau Rakaat pertama bentuknya demostrasi massa, disangka Rakaat lanjutannya adalah demo berikutnya.

Bangsa dan Ummat ini secara intelektual dilahirkan dan dibesarkan oleh situasi pendidikan kesempitan dan kedangkalan. Secara politik dilahirkan oleh atmosfer penjajahan. Secara sosial dibesarkan oleh rusaknya tatanan-tatanan….