Pendekar Tongkat Bambu

“Orang yang tertindas dan yang menidas itu sama-sama bukan manusia. Yang menindas menghilangkan kemanusiaannya dan orang yang tertindas dihilangkan kemanusiaannya”

Pagi masih berselimut sepi, tapi Bang Jo sudah mulai berpidato di depanku.

Memang sengaja pagi itu aku mampir ke rumahnya, karena semalam ketika dia mengirim pesan singkat menanyakan kabar, aku sudah keburu tidur pulas sebelum sempat membalas. Menjadi kebiasaan Bang Jo, tengah malam mengirim pesan-pesan singkat atau ‘meme-meme’ lucu yang menyiratkan kegalauan. Biasanya saat-saat seperti itu pertanda Bang Jo sedang dilanda rindu. Rindu berat untuk segera menghisap tembakau hitam kesukaanya. Dan pagi itu aku datang ke rumahnya dengan membawakan sebungkus tembakau hitam itu.

Bukannya ia tidak tahu bahayanya menghisap asap tembakau hitam bagi dirinya, dan juga sudah berkali-kali ia diperingatkan oleh dokter untuk mengurangi bahkan menghentikan kebiasaan itu. Tapi bukan Bang Jo namanya kalau tidak menemukan seribu alasan untuk melawan. Ada banyak argumentasi yang disiapkan untuk melegalkan kebiasaannya itu. Mulai dari alasan ilmiah akademis sampai argumentasi dasar kemanusiaan. Alhasil, pagi itu kami berdua pesta kecil-kecilan menikmati asap tembakau hitam.

Bang Jo, Pendekar Tongkat Bambu

Tapi tunggu dulu, aku amati sejak mulai menyulut korek api, mengapa Bang Jo nampak gelisah. Ada apa?

“Jangan sampai ketahuan ibu kalau aku ngerokok ya…”

Rupanya di balik keberanian dan kegarangannya, diam-diam Bang Jo juga tipe Suami Takut Istri.

“Bukannya takut, tapi aku mencoba patuh dengan kesepakatan keluarga. Bukan tidak berani, tapi ini urusan cinta kasih”

“Tapi, tetap saja itu melanggar Bang”

“Kan masih mending, tidak terang-terangan melanggar”

Benar saja, begitu sang istri tercinta keluar menemui kami, secepat kilat Bang Jo melempar puntung rokok ke selokan samping rumah.

***

Udara segar menjadi teman setia bincang-bincang kami di teras rumah. Secangkir kopi dengan beberapa potong kue buatan istrinya terhidang bersama aroma tanah dan tumpukan jerami basah. Dan tak ketinggalan dua, tiga ekor kucing manis mendekat seolah ingin ikut serta menikmati hidangan kami.

Rumah Bang Jo memang berada di antara hamparan sawah. Untuk mencapai halaman rumah, harus terlebih dulu menyusuri galengan. Satu-satunya jalan yang bisa dilewati. Saluran irigasi, yang sekaligus difungsikan sebagai jalan setapak. Butuh kewaspadaan, butuh kehati-hatian ekstra, kalau meleng sedikit bisa kejebur ambyur masuk lumpur.

Suatu ketika salah satu teman yang berkunjung ke rumahnya pernah berkomentar, “Kowe neng alam dunyo wae ora intuk dalan, piye sisuk neng akherat?” (Kamu di dunia saja tidak punya jalan, bagaimana besuk di akhirat?). Dengan cepat Bang Jo menjawab, “lho justru kuwi nggo latiyan je!” (lho, justru itu untuk latihan)

Dan jangan kaget, begitu sampai di depan rumah, Bang Jo menyambutmu keluar dari balik jendela. Begitulah rumahnya. Jendela panjang itu difungsikan sebagai pintu.

“Lho, kan yang penting fungsinya. Bahwa bentuknya seperti jendela itu hanya kebiasaanmu melihat jendela seperti itu. Kalau ini memang difungsikan sebagai jalan keluar masuk rumah. Berarti ini pintu. Iya kan. Pintu kan. Terus kamu mau apa.”

***

Sore itu, setelah seharian di markas KiaiKanjeng, Bang Jo nunut bareng pulang. Sesampai di pangkal jalan setapak yang tadi aku ceritakan, ia turun dari boncengan.

“Saya temani sampai depan rumah ya Bang.” Aku khawatir ia jatuh ke selokan, sebab beberapa hari sebelumnya ia tampak kurang fit. Badannya terlihat loyo dan mukanya sedikit pucat. Sepertinya dia memang sedang sakit.

“Tidak usah, sudah sampai sini saja. Aku bisa jalan sendiri. Seperti kakek-kakek peyot saja harus dituntun jalannya.”

Akupun bergegas pergi.

Karena rasa penasaran bercampur khawatir kalau ada apa-apa dengannya, kubalik arah kendaraan. Berbalik menuju ke tempat dimana Bang Jo turun. Dan apa yang terjadi.

Dari balik gapura tua yang berdiri di pangkal jalan menuju rumahnya, Bang Jo membungkuk dan tangannya menggapai-gapai, seperti hendak mengangkat sesuatu. Aku semakin penasaran. Dari pojok bangunan di seberang jalan terus kuamati gerak geriknya. Apa yang sedang dia lakukan?

Dan, ternyata ia mengangkat sebatang bambu. Tongkat bambu. Untuk apa gerangan?

Sejurus kemudian, Bang Jo sudah berjalan menyusuri galengan sawah dengan menggenggam tongkat bambu di tangan kanannya. Selangkah demi selangkah, khusyuk, konsentrasi tinggi, karena sedikit oleng bisa-bisa terjebur ke parit atau ke kubangan lumpur sawah.

Oalah, baru aku tahu, mengapa Bang Jo setiap kali kuantar pulang selalu meminta aku untuk segera bergegas. Mengapa seakan-akan ada sesuatu yang disembunyikan dan dirahasiakan dariku. Ternyata dia tak ingin ketahuan kalau berjalan dengan bantuan tongkat bambu.

Ternyata dia tidak berkenan aku menyaksikan adegan itu. Mungkin dia malu kalau terlihat rapuh, atau tidak ingin dikatakan sudah tua, reot dan renta. Bisa juga khawatir kalau-kalau aku memotret dan menyebarkan melalui media sosial, dan ngeri kalau-kalau foto itu kemudian dijadikan meme lucu dengan tulisan mencolok di bawahnya “Pendekar Tongkat Bambu”. Itupun masih mungkin. Sebab hanya Bang Jo dan Tuhan saja yang tahu.

“Tapi Bang, maaf kalau aku tidak bisa terharu menyaksikan adegan itu. Ngapunten, bukan aku tidak empati dengan penderitaan Abang, tapi justru aku bangga, karena aku paham itulah caramu menyembunyikan derita. Itulah caramu menyemangati kami. Engkau tak pernah mau terlihat rapuh, engkau tak pernah ingin tampak lemah di depan kami.”

Dalam hati aku berbisik lirih, Tuhan beri dia kekuatan. Jadilah Engkau tongkat yang mengokohkan langkahnya. Jadilah Engkau pemandu jalannya.

Dan sedikit aku berkhayal, suatu saat kelak tongkat itu menjelma ular raksasa yang menelan ular-ular kecil ketakutan hidup, ular-ular palsu kekerdilan diri, ular-ular ilusi kelemahan bangsa yang disihirkan orang-orang jahat anak buah Raja Fir’aun yang lalim dan rakus.