Catatan Sinau Bareng Satu Hati, Madiun 30 Desember 2016

Pencak Silat Menyambut Kedatangan Mbah Nun

8 perguruan: SH Teratai, SH Winongo, IKSPI, Tapak Suci, Cempaka Putih, Pandan Alas, Bunga Islam, dan PSHP. Foto: Adin.
8 perguruan: SH Teratai, SH Winongo, IKSPI, Tapak Suci, Cempaka Putih, Pandan Alas, Bunga Islam, dan PSHP. Foto: Adin.

Saya selalu tergetar setiap kali melihat orang melakukan persembahan penghormatan kepada orang lain, terlebih orang yang bersangkutan adalah seseorang yang memiliki kedudukan yang dimuliakan. Itulah yang berlangsung malam ini Lapangan Gulun Madiun.

Lima puluhan pesilat dari pelbagai perguruan di Madiun bersatu untuk menyambut kedatangan Cak Nun memasuki panggung Sinau Bareng ini. Sebelum Cak Nun datang, mereka — para pesilat remaja — sudah duduk rapi lesehan sekira tiga meter di depan panggung. Saat Cak Nun tiba, seseorang yang memimpin mereka menyongsong kedatangan Cak Nun dengan gerakan dan kembangan yang mengantarkan Beliau sampai di depan panggung dan selanjutnya naik ke atas panggung.

Kembangan yang merupakan buka lapangan ini, lalu dilanjutkan salam IPSI dan salam masing-masing kelompok. Salam-salam itu dihaturkan kepada Cak Nun. Sembari duduk iftirosy, Cak Nun kemudian menyaksikan masing-masing kelompok memeragakan jurus, gerak, dan pencak, juga peragaan dengan menggunakan toya, maupun alat lainnya. Salah satunya, toya dipukulkan ke badan atau tangan salah satu pesilat dan toya tersebut patah.

Di bagian awal prosesi sambutan ini, narator mengungkapkan bahwa menjadi pesilat bukanlah dimaksudkan untuk menjadi orang yang jagoan atau mengalahkan orang lain, melainkan menjadi orang yang bertanggung jawab di dalam kehidupannya. Eksposisi yang dihadirkan anak-anak ini pun kontan mengundang aplaus dari jamaah dan masyarakat yang hadir di sini.

Para pesilat ini datang dari paling tidak delapan perguruan: SH Teratai, SH Winongo, IKSPI, Tapak Suci, Cempaka Putih, Pandan Alas, Bunga Islam, dan PSHP. Selain bernaung di bawah IPSI mereka punya concern di tingkat grass root untuk menjaga dan nguri-nguri pencak silat sebagai khasanah seni dan kebudayaan nusantara. Untuk ini, mereka berkumpul dan membentuk komunitas bernama Pasukan Perdamaian Pencak Silat Indonesia. Setiap seminggu sekali mereka bertemu, ngopi bersama, dan saling sharing.

Usai beberapa peragaan dari masing-masing perguruan, satu gerakan salam penutup kembali dihaturkan kepada Cak Nun. Tempat yang tadi dipakai para pesilat segera ditempati para jamaah untuk nempel dan rapat dengan panggung, seperti biasanya. Dari bibir Cak Nun segera terdengar suaranya yang teduh dan menenteramkan. Cak Nun mengapresiasi, senang, berterima kasih, dan memuji para pesilat ini.

“Silat bukan hanya untuk kuatnya badan, tapi untuk kuatnya hati dan pikiran. Supaya kuat menjalani kehidupan. Kuat dari ujian-ujian. Kuat tidak terpengaruh oleh berita-berita yang jelek. Kalau pemerintah mau belajar kepada silat, mereka tau silat akan lebih kuat dari kungfu. Silat bukan soal bela diri, tapi jurus dalam menghadapi kehidupan, menghadapi masa depan, supaya tidak mudah dikungfu oleh penjajah…,” Cak Nun langsung membabar filosofi dan fungsi silat menurut keyakinan dan pemahaman Beliau.

Silat memberi ilmu kepada ibadahmu, ibadahmu memberi ilmu pada silatmu.
Silat memberi ilmu kepada ibadahmu, ibadahmu memberi ilmu pada silatmu. Foto: Adin.

Para pesilat yang merupakan tunas-tunas bangsa ini menjadi salah satu harapan Cak Nun untuk masa depan Indonesia. Sempat Cak Nun mengingatkan agar tahun 2017 nanti pemerintah harus belajar kepada potensi rakyat atau potensi budaya masyarakat. Kepada para pesilat ini, Cak Nun berpesan, “Bawalah silat untuk memahami kehidupan. Supaya Anda menang terhadap siapapun dan apapun yang menjajah dan menghancurkan Indonesia dan Islam.”

Untuk banyaknya perguruan pencak silat di Madiun dan kota-kota sekitar, malam ini Cak Nun senang mendengar bahwa perguruan-perguruan itu semakin solid dan kompak. Dan terutama sekali Cak Nun mengingatkan dan mengonfirmasi bahwa silat yang mereka jalani ada hubungannya dengan Allah dan ibadah mereka. “Silat memberi ilmu kepada ibadahmu, ibadahmu memberi ilmu pada silatmu.”

Saya tergetar melihat penghormatan para pesilat muda ini kepada Cak Nun. Satu di antara bentuk dan ekspresi penghormatan yang kerap saya lihat diberikan kepada Cak Nun, misalnya tari anak-anak yang menyambut Cak Nun saat bersilaturahmi ke kediaman Bunda Cammana di Mandar Sulbar. (hm)

Bawalah silat untuk memahami kehidupan. Supaya Anda menang terhadap siapapun, apapun yang menjajah dan menghancurkan Indonesia dan Islam.