Daur (240)

Pemimpin Yang Mencahayai

Tahqiq : “...orang yang nasibnya digelapkan, yang hak-haknya direbut dan dibuang ke dalam kegelapan, yang hari-hari sejarahnya ditimpa penggelapan-penggelapan, tema hati dan pikirannya tinggal satu: cahaya”

Kalau orang dikurung di dalam kegelapan, maka impian terbesarnya adalah cahaya, dan daya juang yang lahir dari dalam dirinya adalah berkembangnya upaya keilmuan dan percobaan-percobaan perilaku untuk memperoleh cahaya.

Makhluk manusia dilahirkan dari akselerasi kesekian dari penciptaan cahaya. Maka cahaya bukan sekedar menjadi kebutuhan dasar hidupnya atau merupakan suatu tujuan yang dikejarnya, lebih dari itu cahaya seakan-akan merupakan hakikat dan syariat dirinya sendiri. Sehingga tatkala manusia menempuh usaha-usaha untuk menggapai cahaya, dari yang kecil sehari-hari hingga yang besar yang panjang seperti kebudayaan dan peradaban, sesungguhnya yang ia lakukan adalah pencarian menuju penemuan atas dirinya sendiri.

Cahaya bukan sesuatu yang bukan dirinya dan berada di luar dirinya. Cahaya adalah bagian dirinya, dan setiap kali cahaya dicabut atau dicampakkan dari diri manusia, maka ia akan berjuang untuk mendapatkan kembali bagian dari dirinya sendiri itu. Jika ia dikurung di dalam kegelapan, maka apapun saja yang ada pada dirinya adalah demi cahaya dan menuju cahaya. Sampai pada suatu nuansa di mana bisa dibilang impiannya adalah cahaya, ilmu dan pengetahuannya adalah cahaya, perilaku dan perjuangannya adalah cahaya, bahkan seolah-olah ‘Agama’nya adalah cahaya.

Orang yang dihimpit oleh kegelapan, dipenjarakan dalam kegelapan, dikurung hampir absolut di dalam kegelapan, kalau ditanya apa yang kamu maui?

Ia menjawab, “Cahaya”

Ingin saya kasih apa?

“Cahaya”

Mau makan apa?

“Cahaya”

Minum?

“Cahaya”

Perlu obat?

“Cahaya”

Ada kata-kata yang ingin kamu ucapkan?

“Cahaya”

Firman Tuhan yang mana yang kamu ingin baca?

“Cahaya”

Dari mana asalmu?

“Cahaya”

Siapa orang tuamu?

“Cahaya”

Beriman kepada apa?

“Cahaya”

Siapa Tuhan sesembahanmu?

“Cahaya”

Kalau kelak Allah menghendaki mereka memimpin kehidupan, maka mereka adalah jenis pemimpin yang mencahayai.

Orang yang dibungkus eksistensi dan wujud kehidupannya dengan kegelapan, ia pasti melakukan satu hal: berjuang untuk menerbitkan cahaya di dalam dirinya.

Orang yang nasibnya digelapkan, yang hak-haknya direbut dan dibuang ke dalam kegelapan, yang hari-hari sejarahnya ditimpa penggelapan-penggelapan, tema hati dan pikirannya tinggal satu: cahaya.

Generasi Junit, Toling, Jitul dan teman-temannya di zaman ini pasti sangat getol mempelajari cahaya. Mereka sedang belajar dan berlatih untuk menyerap cahaya, memproduksi cahaya, menerbitkan cahaya, bahkan terdapat peluang untuk menjadi cahaya.

Ilmu adalah cahaya bagi kebodohan. Makanan adalah cahaya bagi yang kelaparan. Bangkit adalah cahaya bagi orang yang jatuh dibanting. Obat dan kesembuhan adalah cahaya bagi yang sakit. Solusi adalah cahaya bagi yang dibelit oleh permasalahan. Kemudahan adalah cahaya bagi orang yang diserimpung oleh kesulitan.

Di Patangpuluhan dulu beberapa orang bertanya kepada Markesot, kenapa konsep dasar kehidupan manusia yang dirumuskan oleh Tuhan adalah “minadh-dhulumati ilan-nur”, dari kegelapan menuju cahaya, dari penggelapan menuju pencahayaan.

Sundusin bahkan pernah memberanikan menyusun kalimat pertanyaan yang tidak normal bagi kebanyakan orang:

“Kalau memang sejak awal Allah menciptakan cahaya terpuji atau Nur Muhammad, kenapa tidak dikonsep saja oleh Allah kehidupan makhluk-Nya adalah cahaya, pencahayaan, saling mencahayai satu sama lain. Allah sendiri adalah Maha Cahaya, kemudian mencipratkan diri-Nya menjadi makhluk bermacam-macam yang sejatinya serpihan-serpihan cahaya Allah sendiri”

Markesot dulu tersenyum-senyum mendengarkan deraian pertanyaan Sundusin.

“Kenapa Allah tidak memilih kemesraan langsung saja: percintaan Maha Cahaya dengan cahaya, kasih sayang sesama cahaya. Sehingga cahaya yang memadat dan me-materi menjadi jagung atau padi, oleh manusia yang sadar cahaya diaplikasikan menjadi cahaya kembali untuk menyatu atau nyawiji dengan Maha Cahaya”

Senyuman Markesot semakin lebar. Ndusin meneruskan.

“Kenapa mesti berputar atau ulang-alik terlebih dulu melewati kegelapan. Sedangkan jalanan dan jarak antara kegelapan dengan cahaya sedemikian licinnya, sedemikian membahayakannya, sehingga mungkin kebanyakan manusia akan cenderung tergelincir ke wilayah kegelapan”

Senyuman Markesot berkembang mengeluarkan suara tertawa, kemudian bahkan tertawanya keras dan terpingkal-pingkal. Dan Sundusin melengkapkan pertanyaannya.

“Kalau memang hubungan antara Allah dengan makhluk-Nya semata-mata bertemakan percintaan dengan metode cahaya, kenapa mesti rutenya minadh-dhulumati ilan-nur, kenapa tidak langsung saja minan-Nur ilan-nur wa ilan-Nur…?”.