Daur (212)

Pemimpin Yang Malati

Ta’qid : “Allah Maha Besar, Maha Agung dan Maha Perkasa untuk bisa disakiti oleh siapapun. Tetapi Allah sangat peka terhadap rasa sakit yang dialami oleh kekasih-Nya”

“Hubungan antara Nabi dianggap gila dengan adzab Allah?”, Sundusin mencoba menjawab Tarmihim, “Saya jawab, tapi mohon diketahui ini sebenarnya jawaban yang saya ambil dari penjelasan-penjelasan Cak Sot dahulu kala. Jangan berpikir ini hasil pikiran saya sendiri. Juga jangan berharap jawaban ini akan persis sebagai dulu Cak Sot menerangkannya”

“Ya. Apa?”, desak teman-temannya.

“Karena Allah itu Maha Pecinta. Sejak awal mulanya, Allah membuat semua goro-goro kehidupan ini berangkatnya dari semangat cinta. Sejak Allah memanifestasikan cinta-Nya dengan menciptakan Cahaya Terpuji Nur Muhammad. Kemudian pernyataan-Nya bahwa hanya karena cinta-Nya kepada Nur Muhammad itulah maka Ia berinisiatif untuk melanjutkan inisiatif-inisiatif kreasi-Nya: bikin alam semesta, menghamparkan jagat raya, menyusun ekosistemnya, membuat makhluk-makhluk secara bertahap dan bergradasi secara kuantitatif maupun kualitatif…”

“Aduh kok makin tidak jelas”, seorang teman memprotes.

Sundusin tertawa. “Saya ini sambil mengingat-ingat kalimat-kalimat Cak Sot zaman dulu”

“Biarkan Ndusin menata ingatannya”, Tarmihim menyela.

“Maka Allah melakukan apa saja berangkatnya dari cinta-Nya”, Ndusin meneruskan, “Ia bertindak atau mengambil keputusan apa saja berlandaskan emosi dan energi cinta-Nya. Ia menciptakan alam yang mengagumkan, ragam tanaman dan hewan-hewan yang tak terkirakan indahnya, peristiwa-peristiwa yang Allah melebarkan pagarnya dengan rumus ‘min haitsu la yahtasib’ atau yang tak bisa diduga, disangka atau dihitung-hitung oleh makhluk-Nya — itu semua berangkat dari momentum-momentum kenikmatan cinta-Nya kepada Nur Muhammad”

“Jadi Allah mengambil keputusan untuk menurunkan adzab juga berdasar cinta-Nya?”, Tarmihim mengejar.

“Seingat saya Cak Sot memperkirakan seperti itu. Kita yang hidup di abad yang jenis keedanan perilaku politik, kebudayaan, dan peradaban sudah sangat berlebihan dan amat parah menurut kita — mungkin ternyata tidak mengusik hati-nya Allah, sehingga tidak tergerak untuk menurunkan adzab”

“Bagaimana nalarnya”

“Allah menyatakan bahwa kalau seluruh makhluk mematuhi-Nya, itu tidak membuat Allah menjadi gembira atau mendapatkan laba apa-apa. Juga kalau semua manusia mengkhianati-Nya, mengkafiri-Nya, melanggar ketentuan-ketentuan-Nya: itu sama sekali tidak mengusik perasaan-Nya”

“Belum jelas”

“Tetapi kalau di antara ummat manusia atau suatu bangsa ada seseorang yang dicintai oleh-Nya, sebagaimana Ia dulu mencintai para Nabi, Rasul dan kekasih-kekasih-Nya, sehingga kedholiman ummat manusia, bangsa atau masyarakat itu membuat sedih hati para kekasih yang dicintai-Nya itu, maka Allah murka, dan berinisiatif untuk menghukum dan menimpakan adzab”

Tarmihim tersenyum.

“Maksudmu”, katanya, “Di zaman sesudah era Nabi-Nabi tidak ada lagi manusia yang Ia cintai semendalam dan sekhusyu cinta-Nya kepada Nabi-Nabi itu?”

“Seingat saya begitu maksud Cak Sot dulu”, jawab Ndusin, “kebobrokan hidup dan khianatnya ummat manusia, terutama para pemimpin politiknya dan pelaku-pelaku penjajahan dan tipu muslihat sedunia, separah apapun, tidak membuat Allah merasa sakit hati sesedikit atau seringan apapun. Sehingga tak ada pantulan dari kedhaliman manusia itu ke kemungkinan adzab Allah. Dialektika antara kedhaliman dengan adzab hanya berlangsung kalau ada kekasih-Nya di dunia yang disakiti atau merasa tersakiti. Allah Maha Besar, Maha Agung dan Maha Perkasa untuk bisa disakiti oleh siapapun. Tetapi Allah sangat peka terhadap rasa sakit yang dialami oleh kekasih-Nya”

Sundusin menceritakan wacana tentang seorang teman Markesot yang menyimpulkan bahwa dalam peristiwa Hijrah Nabi dan Kaum Muslimin dari Mekah ke Madinah, ada peristiwa di mana Nabi menghindari pasukan kafir pimpinan Abu Jahal dengan memasuki sebuah Gua, bersama sahabat Abu Bakar As-Shiddiq. Nabi menghibur Abu Bakar dengan mengatakan “Jangan takut dan jangan sedih, Allah bersama kita”.

Menurut temannya Markesot, karena tingkat ilmu dan kearifannya, yang ditakutkan oleh Abu Bakar bukanlah pasukan kafir akan mengetahui keberadaan mereka sehingga kemudian akan menyerbu dan membunuh Nabi dan Abu Bakar. Yang dikhawatirkan oleh Abu Bakar adalah “kalau sampai Allah murka gara-gara kekasih-Nya disakiti oleh kaum kafir itu, siapa bisa menghalangi Allah akan menurunkan adzab-Nya yang menghancurkan atau bahkan memusnahkan seluruh masyarakat Mekkah, bahkan Madinah dan seluruh Jazirah Arab.

“Kata Cak Sot”, lanjut Ndusin, “Allah Maha Pecinta. Jangan sakiti hati kekasih-Nya. Persoalan kita sekarang, siapa di antara penduduk bumi sekarang ini, satu saja, yang benar-benar dicintai oleh Allah karena kekokohan tauhidnya, karena ketangguhan perjuangannya, karena totalitas kesetiaannya kepada Allah, sebagaimana yang dicapai oleh para Nabi dan Rasul dahulu? Siapa? Satu saja. Kalau tidak ada, maka atas dasar apa Allah mengadzab para pembangkang dan pengkhianat, meskipun jumlah mereka memenuhi seluruh permukaan bumi — sedangkan Ia tidak merasa rugi apapun atas kekufuran semua makhluk-Nya”

Tarmihim tersenyum. “Di antara kita tidak ada manusia, apalagi pemimpin, yang — kata orang Jawa: malati”, katanya, “Sekarang ini Allah tidak menemukan manusia yang pantas untuk Ia cintai, yang bisa membuat-Nya murka kalau ia disakiti….”