Daur (251)

Pemimpin Tipa-tipu

Tahqiq : “Manusia kebanyakan menunggu tua untuk mengetahui dan menyadari tipuan-tipuan dalam kehidupan. Kami tidak perlu menunggu tua untuk tidak tertipu. Itulah sebabnya kami sangat gembira setiap kali berjumpa dengan Pakde Paklik....”

Jitul yang selama ini seakan-akan pendiam, ternyata agresif juga kalau sudah bicara.

“Usulan Pakde Brakodin untuk menunggu Mbah Sot dan menantikan oleh-oleh panggraita-nya itu termasuk idaman saya dan kami semua”, katanya, “tetapi itu tak berarti kami tidak perlu menimba ilmu dan pengetahuan dari Pakde Paklik. Menantikan hasil hutan rimba Mbah Sot adalah idaman, tetapi mengobrol ilmu dengan Pakde Paklik adalah kebutuhan…Apalagi sekarang ini keadaan zaman sudah darurat….”

Agak kaget juga Tarmihim dan Sundusin mendengar zaman daruratnya Jitul.

“Darurat bagaimana, Tul?”, ia bertanya.

“Maaf, Pakde….”, sahut Jitul.

“Kami orang-orang tua sudah cukup lama merasa hidup dalam sejarah yang semakin darurat”, Sundusin menyambung, “tetapi tidak menyangka kalau anak semuda kamu punya kesimpulan yang sama”

“Sekali lagi maaf Pakde”, kata Jitul lagi.

“Tidak ada yang salah”, Tarmihim merespons, “kami kaget justru karena kagum. Kalian ini masih berada pada usia-usia menikmati hidup: runtang-runtung ke sana kemari, ngrumpi di café-café, jalan-jalan di Mal, lalu lalang di tempat-tempat hedonisme modern yang penuh fasilitas-fasilitas canggih, IT, Wifi, chatting, browsing, online games, seminar maya, menelusuri kuliner Barat maupun tradisional domestik yang dielitkan, bikin klub-klub ultramodern, ngobrol how to be rich and famous, surfing di tren-tren budaya baru, pokoknya segala sesuatu yang serba gaul… Lha kok malah nempel ke komunitas jadul Pakde Paklik ini…. Mestinya generasi kalian berpendapat bahwa Mbah Markesot cocoknya hidup di zaman sebelum peradaban Masehi, meskipun bukan pra-sejarah….”

Sekarang gantian Jitul yang tertawa.

“Kami bukannya tidak kagum kepada gemerlap zaman saat ini, kepada gedung-gedung besar dan segala perangkat peradaban modern yang semakin canggih”, jawab Jitul, “Kami juga sempat menikmati itu semua. Kami tidak dekaden. Kami tidak ketinggalan zaman. Kami lumayan updated hal-hal yang seaktual apapun. Sebagian kami juga tukang oprek internet, smartphone, dan segala hutan belantara dunia maya. Kami bukan anak-anak dusun dan generasi udik.”

“Ya, terus?”, Ndusin mengejar.

“Tetapi kami tidak merasa berharga pada posisi hanya sebagai pelengkap penderita. Sebagian dari generasi kami tidak bisa membangun martabat di dalam diri kami sendiri kalau dalam peta peradaban seperti itu kami hanya berposisi sebagai konsumen. Sebagai narapidana, tahanan, sandera. Yang terhanyut oleh arus. Kami bukan buih dan bukan sampah. Kami bukan barang mainan di telapak tangan para stakeholder, penguasa-penguasa modal yang melemparkan kami ke dalam hedonisme modern yang membius. Kami bukan penikmat narkoba kebudayaan….”

“Jadi?”, Tarmihim ikut mengejar.

“Juga kami tersinggung karena seluruh kemewahan itu, semua gedung dan peralatan-peralatan yang gemerlap dan gegap gempita itu, semua yang serba menggiurkan itu – ternyata bukan milik bangsa kita. Bukan milik Bapak Ibu kami, Kakek Nenek kami….”

“Apalagi milik Pakde Paklik ini….”, Ndusin menggoda.

“Semua kemewahan yang mempesona pancaindra itu, ya barang-barangnya, ya tanahnya, ya putaran keuangan dan labanya, ya segala unsurnya, adalah milik orang-orang lain, milik tamu-tamu asing yang kita sudah terlanjur menerima mereka sebagai saudara sendiri. Namun mereka hanya memfokuskan kepentingannya pada materialisme mereka sendiri. Bahkan laba mereka itu dilemparkan ke luar negeri untuk menyimpannya. Sedangkan teman-temannya Pakde Paklik hanya menjadi Satpam, pengepel lantai, tukang listrik, sopir atau kuli. Sementara para pemimpin pribumi di atas, pekerjaannya adalah mengemis untuk menjadi tangan kiri dan kaki kiri para tamu-tamu asing itu, tanpa pernah bisa menjadi kepala kepemilikannya. Menjadi jari jempol pun tidak. Bahkan pucuk pemimpin Negara Bangsa kita ini juga orang suruhan tamu-tamu asing itu….”

Tarmihim dan Sundusin menarik napas panjang.

“Jitul kamu omong itu karena pengetahuanmu sendiri, atau karena dengar-dengar? Karena kesadaranmu sendiri atau karena terseret oleh isu yang sampai kepada kalian?”

“Tidak penting bagaimana asal-usul pendapat, keyakinan, dan sikap kami itu”, jawab Jitul, “yang penting kami memegang teguh dan berpikir keras bahwa lambat atau cepat peta zaman harus diubah”

“Lantas apa hubungan prinsipmu itu dengan Pakde Paklik serta Mbah Markesot?”

“Bukan hanya berhubungan”, jawab Jitul, “salah satu dukun bayi kesadaran kami adalah Mbah Markesot, Pakde, dan Paklik….”

“Waduh”, kata Tarmihim, “kami merampas kenikmatan masa muda kalian….”

“Justru kami diantarkan untuk menemukan kenikmatan yang lebih nyata dan awet. Kenikmatan yang akan kami rasakan sampai kelak di usia tua. Bahkan kalau berdasarkan ruang pandang Mbah Markesot, itu kenikmatan yang akan terbawa hingga ke sorga. Apa yang dirasakan sebagai kenikmatan di masa tua oleh manusia, itulah kenikmatan yang lebih sejati. Maka kami tidak perlu menunggu tua untuk mengetahui dan merasakan kenikmatan yang dirasakan oleh orang-orang tua. Manusia kebanyakan menunggu tua untuk mengetahui dan menyadari tipuan-tipuan dalam kehidupan. Kami tidak perlu menunggu tua untuk tidak tertipu. Itulah sebabnya kami sangat gembira setiap kali berjumpa dengan Pakde Paklik….”

Tarmihim tertawa terkekeh-kekeh. “Kalian anak-anak muda yang sangat penuh kasih sayang kepada orang-orang tua. Kalian sangat pandai menghibur hati Pakde Paklik, meskipun ada semacam unsur tipuan juga di balik hiburan itu. Kalian akan menjadi ahli diplomasi, pakar ushlub, canggih balaghah, sehingga di masa depan bangsa kita akan dipimpin oleh generasi yang tidak lagi gampang diperdaya, mudah kagum, mudah terseret, mudah digiring dan dibohong-bohongi seperti para pemimpin sekarang, sampai-sampai mereka menjadi canggih juga untuk membohongi rakyatnya, untuk menjadi pemimpin tipa-tipu….”