Daur (214)

Pemimpin Ternak

Ta’qid : “Setiap manusia terancam rebah Alifnya, rubuh tongkat tauhidnya, terombang-ambing presisi keilahiannya, oleh kehidupan dunia yang remeh dan penuh kehinaan. Oleh lalu lintas perkara di muka bumi...”

Terkadang Markesot membumikannya.

“Demikianlah kehidupan berlangsung. Kehidupan adalah gerak yang kontinyu. Gerak yang permanen. Ketetapan untuk bergerak. Gerak yang disiapkan untuk abadi, dengan frekuensi dan kadar yang akhirnya menjadi getaran”.

“Demikianlah Tuhan dan makhluk-Nya saling bergetar. Demikianlah alam dan manusia saling bergetar. Demikianlah suami dan istri, pemimpin dan yang dipimpin, Raja atau Kepala Negara dengan rakyatnya, setiap lingkung ekosistem kemakhlukan, bergetar satu sama lain, di dalam cinta, kenikmatan dan kesetiaan. Kalau pemimpin di antara manusia tidak mampu mensubjeki, merangsang dan memacu getaran itu dengan yang dipimpinnya, maka ia bukan hanya bukan pemimpin. Tuhan menuding pemimpin-pemimpin semacam itu sebagai “mereka seperti hewan-hewan ternak, bahkan lebih rendah atau lebih hina dari itu”.

“Pemimpin-pemimpin peradaban saat ini bahkan tidak mampu mencapai tingkat getaran dan kemuliaan batu-batu dan benda-benda, pepohonan dan tanam-tanaman, apalagi hewan yang selalu hidup dalam getaran dengan sanak familinya, komunitasnya, pun dengan Tuhan Maha Penciptanya”.

“Boleh ada jutaan atau miliaran manusia yang menolak getaran dengan Tuhan, tetapi ia tidak bisa lari dari ketetapan hakiki dan syariat getaran dalam kehidupan yang satu-satunya. Tidak ada kehidupan selain yang ini. Tidak ada ruang atau wilayah apapun yang terbebas dari getaran dengan Allah. Jika ada makhluk yang mengingkari dan melakukan perlawanan terhadap getaran itu, tidak berarti ia bisa menghindar darinya. Sebab tidak ada ruang dan waktu selain yang di dalamnya berlangsung getaran dengan Tuhan.”

“Bedanya, jika makhluk Tuhan memposisikan diri dalam kesetiaan sunnah di dalam aransemen dan ekosistem getaran Tuhan, ia akan terlibat di dalam cinta dan kenikmatan. Jika ia menolak posisi itu, getaran yang ia alami adalah pergesekan atau perbenturan yang menghasilkan panas, seperti tata arus listrik yang mengalami korsluiting, menghasilkan letikan-letikan, keterbakaran, atau ledakan-ledakan yang menghanguskan dan menyiksa”

“Itu salah satu gambaran atau penjelasan tentang sorga dan neraka. Makhluk Allah, terutama manusia, yang diposisikan sebagai duta kepemimpinan Tuhan, Khalifah di bumi, tidak punya jalan lain kecuali jalur ke sorga atau jurusan ke neraka. Tidak ada jalan lain dan tidak ada tempat lain. Manusia mungkin tidak akan ditagih oleh Allah keberhasilan atau kegagalannya dalam mengkhalifahi seluruh kehidupan di bumi, tapi pasti ia diadili dan dinilai lingkup kepemimpinannya atas dirinya sendiri dan keluarganya.”

“Manusia yang maksimal menggunakan akalnya akan cenderung menghindari lingkup yang lebih besar dari tanggung jawabnya yang akan diperhitungkan oleh Tuhan, sesudah hari terakhir masa ujian di bumi. Khalifah yang tahu diri, yang memahami keterbatasannya, pasti mensyukuri bahwa tagihan Tuhan sangat minimal kepadanya: “Jagalah diri dan keluargamu dari api neraka”. Skala sangat kecil itu pun tidak mudah untuk menyetiainya, untuk mengistiqamahinya selama hidup yang sebenarnya hanya sangat sebentar. Menjaga satu kata kebenaran selama satu hari satu malam, belum tentu manusia mampu memelihara penjagaan itu di hari esoknya. Apalagi di bulan dan tahun berikutnya. Jangankan lagi sepanjang usianya.”

“Menjaga satu huruf, misalnya Alif, tidak mudah bagi manusia siapapun, yang konsentrasi jiwanya naik turun karena pergantian siang malam, karena kepungan permasalahan, karena urusan-urusan yang tak berkesudahan. Terutama karena himpitan nafsu dan api yang terbit dari dalam dirinya sendiri. Keinginan, ambisi, egoisme dan khayalan-khayalan yang sangat berkobar-kobar di dalam dirinya. Syaikhuna Syahid, Sunan Kalijaga, dicintai Allah karena lulus menjaga tongkat Alif selama jangka waktu yang ditentukan”

“Setiap manusia terancam rebah Alifnya, rubuh tongkat tauhidnya, terombang-ambing presisi keilahiannya, oleh kehidupan dunia yang remeh dan penuh kehinaan. Oleh lalu lintas perkara di muka bumi yang sesungguhnya hanya berupa asap-asap halusinasi, belitan-belitan khayal, telikungan-telikungan persangkaan dan gelembung-gelembung hologram. Manusia menyangka ia hidup hanya sejak lahir hingga mati. Dari bayi hingga dicabut nyawanya. Ia pikir ia akan bisa mengelak dari keabadian. Ia sangka ia bisa absen dari urusan-urusan, perhitungan, hisab dan peradilan di depan pintu gerbang sorga atau neraka”

“Akan tetapi memang”, kata Markesot, “Saya tidak pernah sanggup menjadi manusia yang dewasa dan matang untuk mampu tidak bersedih. Karena di bumi ini selalu lahir manusia-manusia yang dididik untuk bodoh, pandai mencelakakan diri, mempelajari manajemen yang dasar regulasinya terbalik. Mereka bersaing, berkejaran, berhimpitan, berlomba, bertanding, saling menjatuhkan, untuk justru memperluas lingkup dan mempersulit kadar tanggung jawabnya kepada Tuhan. Mereka berjalan mendekat ke pintu gerbang keabadian dengan memanggul tanggung jawab yang tak mampu disangganya”.