Daur (220)

Pemimpin Subjektif

Ta’qid : “Anak-anak muda wajib ikut campur, sebab kalian adalah pelaku utama masa depan, sekaligus yang paling menanggung akibat-akibat dari apa saja yang dilakukan oleh Bapak-bapak kalian di masa kini”

“Maaf Mbah Sot”, terdengar sebuah suara menginterupsi, dan mengagetkan semua yang hadir, “Jadi Tuhan itu subjektif ya?”

Markesot pun terkejut.

“Tuhan itu Maha Pemimpin. Kalau Tuhan bersikap subjektif dalam kepemimpinan-Nya atas kehidupan makhluk-makhluk-Nya, bagaimana kalau subjektivitas itu ditiru oleh para pemimpin manusia?”

Rupanya suara itu berasal dari Junit, seorang anak muda, keponakan salah seorang teman Markesot yang hadir. Sepertinya nama aslinya Junaidi atau Junaid, entah apa kelengkapannya, kemudian dipanggil Junit, sesuai dengan cuaca estetika atau rasa budaya lingkungannya.

Pakdenya beranjak dan beringsut mendekat ke Markesot. “Maaf itu keponakan saya”, bisiknya ke telinga Markesot, “Sejak lama dia selalu tertarik kalau saya mengutip kata-kata Sampeyan, atau sesekali bercerita tentang Sampeyan”

Markesot mengangguk dan tersenyum.

“Kaum muda terpelajar ini”, Ndusin membisiki Tarmihim.

“Modern”, sahut Tarmihim, “tidak seperti kamu atau Pakdenya”

“Generasi milennial…”, Ndusin meneruskan.

“Lumayan. Pertanyaannya mendasar. Nadanya sangat mempertanyakan. Saya merasa optimis setiap ketemu anak muda yang kritis dan berpikir dari akar”

“Ya”, kata Ndusin, “kita melangkah ke gerbang maut dengan agak sedikit tenang, kalau di sekitar kita terdapat anak-anak muda mau belajar muhasabah, berhitung ke depan”

“Bisa dijelaskan agak sedikit panjang tentang Tuhan itu subjektif?”, Markesot bertanya.

“Mohon maaf saya ikut campur…”, anak muda itu menjawab.

Markesot tersenyum. Wajahnya bersemangat. “Anak-anak muda wajib ikut campur, sebab kalian adalah pelaku utama masa depan, sekaligus yang paling menanggung akibat-akibat dari apa saja yang dilakukan oleh Bapak-bapak kalian di masa kini. Kalian memang wajib menemukan peluang untuk sedini mungkin turut berproses dalam setiap pengambilan keputusan di masa kini. Kalian harus mengantisipasi untuk jangan sampai diwarisi bencana yang dihasilkan oleh keputusan-keputusan yang salah dari generasi sebelum kalian”

“Terima kasih Mbah”, Junit menyahut, “Hal Tuhan subjektif itu menyangkut tidak diturunkannya adzab kepada ummat yang rusak di zaman sekarang. Pertama, kok Allah tidak menggunakan landasan pertimbangan substansial, melainkan formal dan prosedural…”

Tarmihim dan Sundusin berpandangan satu sama lain.

“Bagus… Terus…“, kata Markesot.

“Sekali lagi mohon maaf sebenarnya saya belum tahu apa-apa, saya lancang dan sok tahu…”, kata Junit.

“Tidak. Tidak lancang”, sahut Markesot.

“Meskipun di zaman sekarang ini tidak ada Nabi yang hidup bersama kita, tapi keedanan yang berlangsung sekarang kan hakikatnya menyakiti hati para Nabi juga. Bahkan menyakiti Tuhan…”

”Tuhan tidak bisa disakiti dan tidak menjadi sakit meskipun disakiti”, Sundusin memotong, “Tuhan tidak bertambah apa-apa pada keagungan-Nya oleh kepatuhan kita, dan tidak berkurang apa-apa dari keperkasaan-Nya oleh pembangkangan manusia”

“Pasti Tuhan tidak masalah”, Junit meneruskan, “tapi Nabi Muhammad dan semua Nabi Rasul kan melihat, menyaksikan, dan merasakan apa saja yang berlangsung di dunia sekarang ini. Mereka kan pasti merasa sakit hati, atau setidak-tidaknya berada pada posisi disakiti oleh zaman super edan sekarang ini”

Markesot menyela, “Kita belum mengerti dan belum punya pengalaman apapun tentang ekosistem alam kehidupan yang sedang dijalani oleh para Nabi dan Rasul di arasy nun jauh di sana. Kita tidak bisa berasumsi sedikit pun apakah beliau-beliau merasa disakiti dan merasakan sakit atau tidak”

“Tapi hakikat objektifnya kan keedanan kehidupan di dunia sekarang ini menyakiti beliau-beliau, mengkhianati, membangkang, dan mengkufuri beliau-beliau”, Junit meneruskan, “Mohon maaf itu yang saya maksud Tuhan subjektif. Sebab kalau objektif, fakta menyakiti dan disakiti itu ada sangat nyata. Bahwa para Nabi tidak hidup secara fisik bersama penduduk dunia saat ini, itu faktor lain yang tidak mengurangi kadar substansi fakta menyakiti dan disakiti itu”

Markesot tersenyum lebar. Tanpa sengaja ia bertepuk tangan, dan ternyata spontan pula diikuti oleh semua yang hadir. Kecuali Pakdenya Junit, agak salah tingkah, menoleh kesana kemari.

“Maaf itu yang pertama”, Junid melanjutkan, “berikutnya yang saya bingung: kalau tadi disimpulkan bahwa tidak turunnya adzab itu karena di zaman-zaman sepeninggal para Nabi tidak seorang manusia pun yang dicintai oleh Allah dengan kadar sebagaimana Allah mencintai para Nabi, terutama yang Ulul ‘Azmi, dan lebih utama lagi Nabi Pamungkas Muhammad Saw — bukankah selama ini ada dua fakta di muka bumi, yang mestinya memiliki kompatibiltas dengan cinta Allah. Pertama, frekuensi peribadatan massal, yang mahdloh, dzikir, wirid, thariqat, shalawat, istighotsah, muhasabah dan macam-macam cara taqorrub kepada Allah. Apakah akumulasi dari semua itu tidak mungkin mendekati tingkat atau bobot kualitas perjuangan yang memungkinkan Allah mencintai mereka, meskipun tidak benar-benar selevel dengan cinta Allah kepada para Nabi?”