Daur (221)

Pemimpin Raja Tega

Ta’qid : “Kenapa Allah seperti tega kepada rakyat yang pemimpinnya tega menyakiti mereka? Bagaimana memahami kenyataan bahwa Allah seperti terlalu lama membiarkan pemimpin-pemimpin manusia mengkhianati rakyatnya?”

Semua yang hadir seperti tampak menjadi tegang. Beberapa di antara mereka melirik satu sama lain, yang berdekatan saling senggol satu sama lain. Tarmihim dan Sundusin senyum-senyum penasaran.

Dan Junit meneruskan.

“Maksud saya, kalau Allah mencintai para pecinta-Nya, mencintai hamba-hamba-Nya yang rajin beribadah, berjuang maksimal untuk berbuat baik, berdzikir, berwirid, ber-halwat, ber-riyadloh, bershalawat, serta berbagai pentradisian cara-cara untuk mendekati Allah — kapan fakta itu akan dianggap cukup oleh Allah sehingga Ia akan bereaksi secara lebih langsung kepada pelaku-pelaku kejahatan atas mereka? Membuat Allah membalas agak lebih cepat para penindas, penipu, pendusta, dalam lingkup kekuasaan lokal, politik nasional, dan global? Merangsang Allah untuk lebih nyata membela ummat yang didhalimi, rakyat yang dikejami, dan masyarakat yang terus-menerus diperdaya tanpa henti?”

Markesot terus tersenyum. Mengangguk-anggukkan kepala pada momentum-momentum tertentu di sela-sela pernyataan Junid.

“Terlebih lagi Allah sendiri yang menjanjikan untuk mudah mengabulkan doa hamba-hamba yang dianiaya. Tidak cukup parahkah kesengsaraan rakyat selama ini? Tidak cukup mendalamkah penderitaan ummat selama ini? Tidak cukup massalkah penindasan dan tipu daya atas kebanyakan orang selama ini oleh pemimpin-pemimpin mereka? Allah menjanjikan bahwa Ia berkemauan untuk mengangkat derajat hamba-hamba-Nya yang dianiaya di atas bumi, kemudian mengangkat mereka menjadi pemimpin, serta mewariskan kekuatan-Nya kepada mereka”.

“Kapan itu diterapkan? Pada era apa janji itu dimanifestasikan? Di bumi ataukah di sorga? Kalau di bumi, kapan kira-kira? Allah menunggu seberapa lautan penderitaan lagi yang harus dialami oleh rakyat? Allah mempersyaratkan seberapa gunung lagi kebingungan dan frustrasi rakyat? Allah menunggu seberapa tinggi gunung lagi kadar rekayasa, tipu muslihat, pembodohan, pen-sakit-an, pengkerdilan, penghinaan, dan pemiskinan?”

“Tapi kalau manifestasinya adalah kelak di akhirat, apakah di sana dibutuhkan kepemimpinan sebagaimana ekosistem di dunia? Apakah di sorga orang-orang yang teraniaya memerlukan warisan kekuatan Tuhan? Untuk apa? Bukankah sorga itu sendiri sudah menjawab semua kerinduan? Apakah di sorga kelak Allah mengangkat orang-orang yang teraniaya itu menjadi pemimpin? Memimpin siapa di sorga? Berkuasa atas siapa dan apa di sorga? Bukankah sorga adalah hadiah bagi pemimpin di dunia yang lulus kepemimpinannya, serta anugerah bagi semua manusia yang dipimpin di dunia yang lulus ujiannya sebagai manusia-manusia yang dipimpin?”

“Apakah penghuni sorga membutuhkan kekuasaan dan kekuatan? Bukankah kekuatan dan kekuasaan hanyalah alat dan jembatan untuk memperoleh khayalan tentang kemenangan, kenikmatan dan kebahagiaan? Bukankah yang dikhayalkan oleh manusia di dunia itu merupakan kenyataan yang senyata-nyatanya di sorga?

Semua yang hadir terpana. Markesot tetap dengan senyumnya.

“Apakah Allah masih haus oleh lebih banyak lagi derita hati hamba-hamba-Nya? Apakah Allah masih dahaga atas lebih massal lagi kesengsaraan perasaan makhluk-makhluk-Nya? Apakah Allah mempersyaratkan presisi tegaknya tauhid orang-orang yang disengsarakan? Bahwa semenderita apapun, seteraniaya bagaimanapun, setertindas seperti apapun — hendaknya manusia, masyarakat, dan rakyat tetap berpegangan secara teguh di tiang pathok asshirath almustaqim  sedemikian rupa?”

“Kenapa Allah seperti tega kepada rakyat yang pemimpinnya tega menyakiti mereka? Bagaimana memahami kenyataan bahwa Allah seperti terlalu lama membiarkan pemimpin-pemimpin manusia mengkhianati rakyatnya? Bagaimana cara untuk mengerti bahwa Allah seakan-akan tidak menunjukkan pembelaan-Nya yang tampak, yang bisa dilihat dengan mata, didengar dengan telinga, dirasakan dengan indra, kepada hamba-hamba-Nya yang lemah, tak berdaya, dibodohi, dikanak-kanakkan, bahkan tidak dianggap faktor yang perlu dipertimbangkan oleh langkah kepemimpinan para pemimpinnya? Bahkan kata dan nama rakyat serta manusia hanya dipakai untuk memperdaya, untuk acting, untuk merayu, untuk mencapai ambisi, untuk mendapatkan kursi dan melanggengkan kekuasaan mereka?”

“Apakah penderitaan manusia dan kesengsaraan rakyat tidak merupakan bentuk persembahan kepada Tuhan agar dibalas dengan pembelaan? Apakah penggelapan sejarah, kekacauan pengelolaan, keterbuntuan manusia dan kebingungan rakyat, tidak merupakan semacam sesaji kepada Allah yang membuat-Nya menunjukkan kasih sayang dan pemihakan?”

“Sudah pasti Allah Maha Sayang kepada hamba-hamba-Nya. Sudah pasti Allah selalu membuktikan secara tampak maupun tersamar pertolongannya sehingga mereka sanggup bertahan hidup, mampu tetap membangun kegembiraan hidup, tangguh untuk terus berjuang. Maha Besar Allah yang tak henti-hentinya mem-backup daya juang setiap manusia, menyalurkan energi kepada pertahanan hidup manusia. Tapi kenapakah Allah seperti enggan memenuhi keinginan di lubuk hati rakyat untuk menyaksikan bahwa Allah bertindak tegas dan langsung kepada pemimpin yang menjahati mereka?”

“Kalau Allah seakan-akan tega menyaksikan para Pemimpin Raja Tega mentegai kesengsaraan rakyatnya? Pemimpin Raja Tega yang rajin menumpuk utang atas nama Negaranya untuk ditanggung dan dibayar oleh rakyatnya? Pemimpin Raja Tega yang demi kelanggengan kursi kekuasaanya, rakyat yang diperas darahnya dan dicopot tulang belulangnya untuk mengganjal kursi kekuasaannya?”