Daur (257)

Pemimpin Pseudo-Negara

Tahqiq : “…yang tidak begitu saja bisa dijajah, diperdaya, ditipu, ditunggangi, digiring, dan dikumpulkan seperti sisa Kaum Indian yang dilokalisir di benua yang sebenarnya milik mereka itu, dipelihara hidupnya dengan minuman keras, narkoba-narkoba kultural, dan mainan-mainan kekerdilan mental… ”

Seger datang. Ia teman Junit Toling Jitul yang selama ini bertugas menghimpun aspirasi komunitas dan jaringannya. Seger mencatat semuanya sejauh kemampuannya, kemudian merumuskannya menjadi semacam judul-judul.

Sebenarnya bagus-bagus, sekurang-kurangnya sangat lumayan usulan tema anak-anak muda itu kepada Pakde Paklik untuk didalami. Sejak Pemerintahan tatkala mereka lahir, kemudian yang membesarkan mereka lewat pendidikan dan keadaan masyarakat, hingga Pemerintahan yang sekarang sedang mereka alami.

Sebut misalnya lima judul saja. “Mencari formula baru perubahan sosial”. Menurut Seger aspirasinya berangkat dari kebuntuan nilai dan strategi untuk mendobrak kejumudan zaman, tidak bisa efektifnya terori-teori perubahan yang selama ini ada, kecuali perubahan yang dimaksud adalah bertujuan penguasaan politik, penjajahan atas kedaulatan rakyat, mobilisasi cara berpikir, cuci otak massif yang bertujuan membalik pandangan tentang kebenaran, kebaikan, kesejahteraan, pembangunan atau perkembangan.

“Kalau kita dipukul orang, kita pukul balik, dengan catatan sebelumnya harus kita pastikan bahwa pukulan kita lebih kuat dari yang memukul kita, serta memastikan bahwa kita siap untuk mengatasi pukulan balik berikutnya”, Seger menjelaskan, “tetapi kan bukan itu tujuan hidup kita. Kita tidak mau dikuasai, tapi itu tidak berarti kita harus balik menguasai. Kita dijahati, tidak berarti kita siap juga untuk menjahati. Kita ditimpa kedhaliman yang bertubi-tubi dan mengepung: yang kita lakukan bukanlah menegakkan kedhaliman yang lebih hebat untuk mengepung mereka yang mendhalimi kita. Kalau itu yang kita lakukan, ada teorinya dan tidak terlalu sukar mencapainya. Tetapi itu bukan solusi nilai yang kita yakini”.

Ada judul lain, “Menghitung kembali hakikat dan eksistensi Negara”. Seger menceritakan bahwa tema ini cukup riuh rendah diskusinya di kalangan anak-anak muda jaringan mereka. Tidak hanya menyangkut perbedaan bentuk pengelolaan sosial yang pernah dilakukan dalam sejarah: Negara, Kerajaan, Kesultanan, Kekhalifahan, Persemakmuran, Perdikan, Padepokan. Atau yang lebih tradisional lagi: lingkaran-lingkaran kecil manusia, entah karena sesama suku, atau karena keterikatan teritorial, atau kesamaan iman atau apapun asal- usul keberangkatannya.

“Tetapi teman-teman menyepakati bahwa Negara yang sedang kita jalani dan alami ini bukanlah Negara sebagaimana yang dimaksudkan secara teoretis”, kata Seger, “Terlebih lagi ini bukanlah Negara seperti yang dimaksudkan oleh filosofi dan aspirasi nilai-nilai kebersamaan manusia, yang membuat mereka sampai ke kesepakatan untuk bikin Negara. Teman-teman bilang, mereka sama sekali tidak anti-Negara, tapi yang sedang kita alami ini bukanlah Negara. Ia mungkin pseudo-Negara, Negara-palsu, manipulasi Negara, seakan-akan Negara, Negara labelnya saja, dan macam-macam lagi sisi pandang teman-teman. Bahkan sudah melebar ke detail-detail, karena memang sedemikian luas skala permasalahan ini. Andaikan ada di antara teman-teman itu yang kelak menjadi pemimpin, mereka sejak sekarang sudah tahu bahwa yang akan diperjuangkannya adalah mengubah Pseudo-Negara menjadi sungguh-sungguh Negara”.

Ada judul yang perspektifnya lebih luas tetapi fokusnya adalah kaum muda itu sendiri sebagai subjek dan keberangkatan: “Apa yang harus diterima atau ditolak oleh kaum muda dari zamannya”.

Menurut Seger mozaik tematik yang dikandung oleh judul itu jauh lebih luas dari urusan Negara dan Bangsa. Ini menyangkut filsafat nilai yang mendasar namun menyeluruh. Yang ada pada diri setiap orang tidak hanya sebagai manusia, tapi juga sebagai bagian dari keluarga, sebagai rakyat dari suatu Negeri, sebagai warganegara dari suatu Negara, sebagai penduduk dari suatu Pemerintahan, sebagai pemeluk suatu keyakinan yang resmi Agama atau bukan, sebagai apapun dan siapapun yang sangat ragam.

“Terutama yang menggelisahkan mereka adalah fakta sejarah bahwa aktivisme kaum muda di Republik mereka pada hakikatnya tidak pernah menjadi subjek primer suatu perubahan”, Seger menguraikan, “misalnya perjuangan menuju pendirian Negara kita pada 1945, proklamasi dan kedaulatannya, memang kebanyakan yang terlibat adalah kaum muda. Tetapi bobot nilai gerakannya bukanlah konteks kemudaannya, melainkan gairah penyatuan kebangsaan, harga diri keNusantaraan, militansi kedaulatan atas dasar kesadaran keTuhanan, serta bobot-bobot nilai lain di mana kaum muda menjadi salah satu eksekutornya”

“Ketika ada perubahan besar di 1965 dan 1998, sangat menonjol penampakan kaum muda dalam pergerakan dan perubahan itu. Tetapi sesungguhnya ada kekuatan global yang besar yang tidak tampak di permukaan, dari peta kepentingan, modal dan penguasaan oleh suatu sindikasi pengatur Dunia, yang menyutradarai seluruh alur dan adegan-adegan perubahan besar itu”

Maka menurut Seger anak-anak muda di jaringannya itu memiliki gairah khusus untuk tumbuh tidak hanya sebagai pelengkap penderita dari engineering sejarah. Tidak sekadar teriak yel-yel, pengacung tangan dan tinju, berderap baris melabrak kebekuan, namun diam-diam mereka hanya kekuatan yang ditunggangi oleh siluman-siluman.

“Mungkin sangat banyak persyaratan perubahan yang tidak mungkin dipenuhi oleh teman-teman kita kaum muda”, kata Seger, “tetapi sekurang-kurangnya kita mengupayakan bahwa ada sebagian dari miliaran atau ratusan juta penduduk Negeri yang tidak begitu saja bisa dijajah, diperdaya, ditipu, ditunggangi, digiring, dan dikumpulkan seperti sisa Kaum Indian yang dilokalisir di benua yang sebenarnya milik mereka itu, dipelihara hidupnya dengan minuman keras, narkoba-narkoba kultural, dan mainan-mainan kekerdilan mental…”