Daur (227)

Pemimpin Perubahan

Ta’qid : “...maksimal menyiapkan diri untuk memimpin zaman yang akan tiba, melakukan perubahan-perubahan mendasar yang sudah kalian himpun ilmunya sejak sekarang. Bahkan bukan hanya siap ilmu, tapi juga siap mental, siap manajemen...”

“Jadi, Junit”, Brakodin mencoba menegaskan penjelasannya, “pertanyaanmu tadi tentang apakah sopan bagi manusia yang bukan Nabi merasa iri kepada keistimewaan para Nabi, serta apakah diperkenankan bagi setiap hamba untuk mempertanyakan ketentuan Tuhannya — mudah-mudahan jelas jawabannya bagimu”

“Ya, Pakde”, kata Junit.

“Itu bukan iri, tapi perjuangan terus-menerus untuk tahu diri. Bahkan sesudah mengerti kekerdilan diri, kami menertawakan diri kami sendiri. Junit dan teman-temanmu segenerasi harus punya pijakan untuk berupaya jangan sampai kelak menjadi generasi kerdil seperti Pakde Paklikmu ini. Kalian harus mempelajari medan perang zaman yang akan kalian hadapi. Harus menghitung peta kekuatan di luar diri kalian yang menekan dan membuat kalian kerdil”

“Ya, Pakde”

“Sehingga kalian sejak sekarang bisa mambangun diri, memperkembangkan diri, menyiapkan mesiu-mesiu yang lebih lengkap dibanding generasi Pakde Paklik kalian. Kalian harus maksimal menyiapkan diri untuk memimpin zaman yang akan tiba. Siap menjadi pemimpin perubahan, siap melakukan perubahan-perubahan mendasar yang sudah kalian himpun ilmunya sejak sekarang. Bahkan bukan hanya siap ilmu, tapi juga siap mental, siap manajemen, siap menampung akibat-akibat yang memberatkan, bahkan siap menjalani sejumlah kegagalan. Kegagalan adalah bagian paling vital dari perjuangan….”

“Siap, Pakde”, kata Junit.

Tiba-tiba terdengar suara tertawa. Ternyata Tarmihim.

“Apa yang lucu, Him?”, tanya Markesot.

“Pokoknya, Junit”, jawab Tarmihim tapi kepada Junit, “kunci jawaban kepada masa depan bagi generasi kalian, adalah pokoknya jangan sampai menjadi seperti Pakde-Pakde dan Paklik-Paklikmu ini”

Sundusin menyusul tertawa. “Sukses adalah menjadi orang dan generasi baru yang tidak seperti generasi Pakde Paklikmu ini”, ia menegaskan apa yang dikemukakan Tarmihim.

“Itu agak menjebak, Pakde”, Junit membantah, “saya dan teman-teman justru banyak sekali belajar kepada Mbah Sot, Pakde-Pakde dan Paklik-Paklik untuk menyiapkan diri menghadapi masa depan. Sebab di luar Panjenengan semua, termasuk di sekolah yang kami jalani, pelajaran yang kami dapatkan adalah bagaimana cara mengikuti zaman, berkompromi terhadap keadaan zaman, bukan bagaimana mengubah zaman….”

“Jangan terlalu membesar-besarkan, Junit”, Markesot yang sekarang tertawa, “nanti Mbahmu Pakdemu Paklikmu ini bisa menjadi besar kepala, meskipun yang terutama kami latihkan berpuluh-puluh tahun selama ini adalah ketahanan mental untuk tidak menjadi besar kepala”

“Padahal Mbah Sot Pakde dan Paklik sebenarnya sangat layak untuk besar kepala…”, kata Junit.

Brakodin juga tertawa, bahkan agak lebih keras. “Junit”, katanya, “di bagian manapun saja dari kehidupan ini, tidaklah ada kelayakan bagi manusia untuk besar kepala. Itu pasti kontraproduktif. Itu sikap yang pasti negatif dan membunuh keseimbangan jiwa, memelencengkan arah perjuangan….”

“Maksud saya”, Junit mencoba menjelaskan, “Mbah Sot dan Pakde Paklik ini memang tidak mencapai sukses pribadi apa-apa, tidak menjadi tokoh atau pemeran zaman yang diakui masyarakat umum, juga tidak diketahui oleh buku sejarah yang ditulis oleh siapapun. Tetapi saya dan teman-teman menyimpulkan bahwa kami belum pernah berjumpa dengan kumpulan orang yang begitu mendalam cintanya kepada Tuhan, kepada manusia, kepada rakyat, kepada tanah air. Dan belum pernah kami bertemu dengan orang-orang yang membayar cintanya itu dengan berpuasa hampir total, mengorbankan diri sendiri, menafkahkan usianya, mengerahkan tenaga dan pikirannya, semata-mata untuk memimpikan perbaikan-perbaikan sosial dan kesembuhan-kesembuhan kemanusiaan….”

“Jadi Junit dan teman-teman menemukan begitu hebatnya Mbah Sot dan Pakde Paklik kalian?”, Tarmihim menyahut dengan nuansa tertawa dalam kalimatnya.

“Bukan hebat, Pakde”, jawab Junit, “manusia memang sewajarnya bersikap dan berbuat seperti itu. Apa yang menjadi muatan hidup Mbah Sot Pakde Paklik bukanlah kehebatan, melainkan kewajaran sebagai manusia. Itu normal”

“Jadi kebanyakan orang itu tidak normal?”

Junit ikut tertawa. “Bagi mereka itu yang normal….”

“Dan Mbah Sot Pakde Paklikmu tidak normal?”, Sundusin mengejar, juga dengan nuansa tertawa.

“Lho kan Pakde Paklik sendiri yang mengatakan bahwa orang waras di tengah orang-orang gila adalah orang gila di mata orang-orang gila yang tidak mengerti bahwa mereka gila”

“Junit”, Markesot menyahut, “Mbah Sot dan Pakde Paklikmu tidak pernah berkesimpulan bahwa kebanyakan orang itu gila lho”

“Kami bahkan cenderung mengatakan di banyak kesempatan di tengah orang banyak bahwa kami yang gila, bukan mereka”, Sundusin menambahi.

Akhirnya Junit ikut tertawa. “Saya sendiri juga sudah lebih sering merasa gila…”, katanya.

Markesot merespons serius omongan Junit. “Bagus sekali Junit. Kalau kalian sudah merasa gila di tengah orang banyak, berarti kalian sudah memiliki landasan untuk memimpin perubahan”

“Kok begitu, Mbah?”

“Karena kalau kalian merasa normal, berarti kalian hanya onggokan-onggokan sampah yang kintir terseret oleh arus zaman”.