Daur (256)

Pemimpin Penggerundal

Tahqiq : “...Padahal batas pemikiran hanyalah nggejik tanah supaya berlobang kemudian kita taruh biji jagung di dalamnya. Itu belum kehidupan. Kehidupan bermula tatkala Tuhan meniupkan kehendak-Nya, yang membuat biji jagung itu bersemi.... Saya menunggu-nunggu Cak Markesot untuk mendengar berita apakah Tuhan sudah meniup....”

“Saya butuh tahqiq tentang titik tengah, poros utama kehidupan, gravitasi nilai. Beberapa hal sudah saya dengar dari Pakde Paklik, tapi sepertinya perlu peneguhan tentang sejumlah hal”, Toling usul.

“Baik. Catet”, Junit merespons.

“Penglihatan yang lebih mendalam dan luas tentang Saleh dan Kesalehan. Terserah nulisnya Saleh, Salih atau Soleh. Bangsa dan Negara kita ini transliterasi huruf saja tidak pernah di-tahqiq. Apalagi transformasi kandungan nilainya”

“Catet”, kata Junit, “saya sendiri usul tentang Demokrasi. Soalnya setahu saya kata itu tidak ada di Undang-Undang Dasar Negara kita, dari preambulnya, batang tubuhnya, hingga detail pasal-pasalnya. Sementara semua orang terpelajar merasa ketakutan seribu kali lipat kadarnya dibandingkan ketakutan mereka kepada Tuhan”

“Catet”, kata Tarmihim, “Bagus banget itu”

“Pancasila sekalian”, sambung Sundusin, “sangat perlu di-tahqiq supaya tidak makin lapuk”

“Catet”, kata Junit.

“Kalau disetujui, seluruh tema itu diorientasikan pada titik berat kepemimpinan dan kerakyatan”, Jitul menambahkan, “Salah satu wujud krisis yang sangat menyolok di zaman darurat ini adalah krisis kepemimpinan, yang diakibatkan dan sekaligus mengakibatkan krisis kerakyatan”

“Bagaimana maksudnya itu?”, Brakodin bertanya.

“Jangan sekarang Cak Din”, Tarmihim menjawab, “nanti kita susun urutan temanya dan alokasi waktunya”

“Saya cuma khawatir bahwa seluruh diskusi tentang kepemimpinan itu tak akan bisa sampai ke puncak atau ujungnya”, Brakodin mencoba menjelaskan pertanyaannya.

“Kenapa Cak”, Ndusin bertanya.

“Sejak kemarin-kemarin wilayah semangat saya terutama adalah menunggu Cak Markesot datang nongol lagi. Siapa tahu ada kabar-kabar tentang itu. Bertahun-tahun Cak Sot selalu mengingatkan bahwa Tuhan menyuruh kita meneguhkan: ‘Wahai Tuhan yang menguasai  Kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau Kehendaki, dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau Kehendaku dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Dengan tangan-Mu yang maha baik. Sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu’. Jadi seluruh diskusi kita hanya pusaran-pusaran kecil angin, yang terletak dan terikat di dalam badai besar kekuasaan Allah

“Itu pasti, Cak Din”, kata Sundusin, “tapi itu kan bukan alasan untuk tidak berpikir, berunding, dan mencari”

“Saya selalu khawatir manusia termasuk kita semua terlalu mengandalkan akalnya. Mentang-mentang potensi utama manusia adalah akal, maka terjebak untuk akhirnya berpandangan bahwa akal adalah segala-galanya. Kita berdiskusi seribu tahun tentang seribu hal, lantas kita merasa sukses karena telah menuntaskan pemikiran. Padahal batas pemikiran hanyalah nggejik tanah supaya berlobang kemudian kita taruh biji jagung di dalamnya. Itu belum kehidupan. Kehidupan bermula tatkala Tuhan meniupkan kehendak-Nya, yang membuat biji jagung itu bersemi. Saya menunggu-nunggu Cak Sot untuk mendengar kabar apakah Tuhan sudah meniup….”

“Gini saja Cak Din”, Tarmihim memotong, “Dialog dan interaksi kita dengan anak-anak muda Junit Toling Jitul dan teman-temannya ini kita anggap tahap mengolah tanah, melubanginya satu persatu, kemudian menaruh biji demi biji jagung – sambil menunggu tiupan Tuhan akan diberitakan oleh Cak Sot”

“Kita ini sudah selalu diejek-ejek orang”, Brakodin belum puas, “semua teman-teman kita dan umumnya orang-orang yang sebaya dengan kita sudah sukses hidupnya. Sudah menjadi pengusaha, pejabat, pakar-pakar, kondang-kondang, hidup mereka mapan dengan keluarganya. Kaya, punya rumah bagus, mobilnya banyak, usahanya menyebar di mana-mana. Sementara kita hanya berkembang menjadi penggerundal yang mengeluhkan keadaan zaman. Kita menjadi penyedih dan penangis. Bagaimana mungkin anak-anak muda yang bersama kita kelak akan menjadi pemimpin, kalau contoh dari kita hanya gerundalan, kesedihan, dan tangis….”

Tarmihim bersabar mendengarkan. Brakodin meneruskan.

“Kita menjadi orang yang selalu tidak terima, selalu merasa kurang dan tidak puas. Kita selalu bernyanyi bahwa zaman kurang begini, masyarakat terlalu begitu, pemerintah kok begitu, Negara kok begini, kaum intelektual mestinya begini, Ulama harusnya begitu. Padahal kebanyakan orang baik-baik saja, senyum-senyum saja, tidak merasa kurang suatu apa. Mereka legowo dengan keadaan zaman, kita memaki bahwa ini zaman edan. Bahkan anak-anak yang datang ke kita juga ikut-ikut menambahi tudingan bahwa ini zaman darurat….”

Jitul tidak terima dengan kalimat-kalimat Pakdenya Brakodin, terutama yang terakhir.

“Lho kami bukan ikut-ikut, Pakde”, ia memprotes, “kami ini anak-anak yang sungguh-sungguh belajar. Kami sudah lama merasakan ada yang tidak beres dengan keadaan, kemudian kami ketemu Pakde Paklik untuk menambah kemampuan merumuskan hal-hal yang tidak beres itu. Kalau saya bilang zaman darurat, memang menurut saya ini zaman darurat. Karena saya manusia, maka kami melihat bahwa ini darurat. Kami sadar kemanusiaan saya melalui Pakde Paklik, maka kami menyimpulkan bahwa banyak hal secara darurat harus segera diperbaiki, diatasi, diselesaikan, didandani, diganti….”