Daur (241)

Pemimpin Penggelapan

Tahqiq : “Di tengah perjalanan ia bertanya: Kenapa lewat sini? Kenapa harus berputar melewati kegelapan terlebih dulu, padahal asal-usul kemakhlukannya adalah cahaya?...”

Kenapa Markesot sampai tertawa keras bahkan terpingkal-pingkal? Orang tertawa bisa karena menjumpai sesuatu yang lucu. Bisa karena bergembira. Bisa karena tidak menyangka bertemu dengan sesuatu yang mengagetkan.

Juga ada beda serius antara tertawa dengan mentertawakan. Apakah Markesot mentertawakan Sundusin? Tidak. Ia tidak mentertawakan. Ia tertawa.

Dan gembira. Tertawanya tertawa gembira. Sundusin mengemukakan hal-hal yang membuat Markesot tertawa, tidak karena sesuatu yang diungkapkan, melainkan karena Sundisin mengungkapkan hal-hal semacam itu.

“Itu tanda bahwa Ndusin akalnya hidup”, kata Markesot, “akalnya berlaku. Akal Ndusin berpikir, merenung, menganalisis, mensimulasi, mengembara, berdialektika. Akalnya Sundusin sudah menjadi mesin pengolah kemungkinan. Ada tahap imajinasi, pembayangan atau pengandaian. Sundusin sudah menjadi manusia, dengan tanda bahwa akalnya sudah benar-benar mampu bekerja”

Bukankah Ndusin mempertanyakan ketetapan Tuhan?

“Ya. Mempertanyakan. Bukan membantah. Bukan tidak taat, kemudian menggunakan yang sebaliknya. Ndusin bukan tidak mau menerima keputusan Tuhan, ia hanya mempertanyakan. Dan hasil dari pertanyaan adalah jawaban, dan jawaban selalu memperluas pengetahuan dan memperdalam ilmu”

Bukankah Ndusin menyatakan tidak setuju pada konsep “minadh-dhulumati ilan-nur” dan menawarkan opsi lain: minan-Nur ilan-nur wa ilan-Nur?

“Sundusin berpendapat, bukan membantah kemudian menolak apa yang sudah ditentukan oleh Tuhan. Sundusin melakukan pengandaian. Sundusin adalah seorang sopir kehidupan yang diperintah oleh Tuhan untuk menyetiri kendaraan nilai, yang jalannya, panduannya, cara menyetirnya, sudah dipaket juga oleh Tuhan untuk ia jalankan. Di tengah perjalanan ia bertanya: Kenapa lewat sini? Kenapa harus berputar melewati kegelapan terlebih dulu, padahal asal-usul kemakhlukannya adalah cahaya? Kenapa tidak melalui jalan tol saja dari wilayah cahaya, melewati jalur dan lajur cahaya, untuk sampai ke cahaya? Ia bertanya, dan itu adalah tanda bahwa ia manusia yang hidup dengan akal. Tapi Sundusin tidak lantas memutar balik kendaraannya, tidak berbelok untuk menuju jalan yang ia bayangkan. Sundusin tetap terus menjalani jalur bimbingan Tuhan. Ia tidak lantas menghentikan hidupnya. Sundusin tidak bunuh diri karena tidak setuju pada kebijakan Tuhan. Sundusin bertanya, dan itu adalah keterbukaan komunikasinya dengan Sang Kekasih…”

Bukankah Allah menyatakan “Barang siapa tidak mau menerima ketentuan-Ku, Aku persilahkan pindah dari bumi-Ku”?

Markesot malah berhenti tertawanya. Ia menjawab serius pertanyaan itu dengan pertanyaan balik.

“Apakah Sundusin pindah dari bumi Allah, atau ia tetap di sini?”

“Tetap di sini”

“Kalau begitu ia bukan tidak setuju pada ketentuan Tuhan. Kalau ia tidak setuju, pasti sudah pindah dari bumi entah ke mana, ke wilayah yang bukan milik dan kekuasaan Tuhan”

“Mungkin terpaksa. Karena tidak mungkin hijrah dari bumi?”

“Tataplah lama-lama dan syukur agak mendalam wajah Ndusin, apakah ia tampak sebagai orang yang sedang terpaksa?”

“Tidak kentara sih”

“Apakah kalian pernah menjumpai Sundusin berlaku seperti orang yang hidupnya tertekan atau memendam sesuatu?”

“Tidak sih. Mas Ndusin santai orangnya”

“Kalau begitu belajarlah percaya kepadanya. Kita perlu terus berlatih percaya kepada sesama manusia, terutama yang sudah bersaudara sungguh-sungguh dengan kita, supaya kita bisa lebih percaya kepada Tuhan. Kita juga perlu melatih kepercayaan kita kepada Tuhan melalui berbagai ujian, supaya kita juga punya bekal lebih matang untuk percaya kepada sesama manusia”

“Saya tidak punya rasa tidak percaya kepada Mas Ndusin, Cak Sot. Saya cuma khawatir salah di depan Allah kalau bicara seperti Mas Ndusin tadi itu”

“Saya tidak punya posisi dan tidak punya pengetahuan untuk sah menyatakan bahwa itu tidak salah atau salah. Yang saya lakukan adalah menghormati eksplorasi akalnya dan menggembirai kemesraannya dengan Allah. Tetapi mungkin kita bisa bersama-sama mencari sedikit hal tentang Ndusin salah atau tidak salah melalui sejumlah pertanyaan. Misalnya, apakah manusia perlu mengolah pembelajaran yang panjang tentang cahaya dan kegelapan, agar kelak ia siap untuk tidak menjadi Pemimpin Penggelapan?”

“Perlu”

“Apakah Ndusin sembahyang lima kali sehari?”

“Ya”

“Apakah ia berpuasa di bulan Ramadlan?”

“Ya”

“Apakah ia membayar zakat, meskipun agak memalukan jumlahnya kalau diketahui umum?”

“Ya”

“Apakah Ndusin pernah melakukan Mo-Limo? Maling, korupsi, madat, mabuk, melacur, berjudi?”

“Tidak”

“Apakah ia pernah menyakiti orang lain? Pernah membikin kisruh di kampungnya? Menciptakan pertengkaran atau perpecahan?”

“Tidak”

“Kalau Ndusin nyetir kendaraan tadi dan bertanya kenapa muter lewat sini dan tidak langsung saja ke sana, kira-kira dia akan mengetahui jawabannya atau tidak?”

“Tidak”

“Tidak. Dia tidak akan pernah menemukan jawabannya, kecuali Allah menganugerahinya jawaban. Andaikan dia menjawab, itu hanya versi pikirannya sendiri. Dan percayalah, nanti Ndusin akan lelah nyetir, kemudian menarik napas panjang dan bergumam: Pasti ada rahasianya yang saya belum ketahui, kenapa Tuhan memilih kebijakan seperti ini….”