Daur (226)

Pemimpin Mbatin Allah

Ta’qid : “...kekuatan mental untuk menemukan, menerima, dan mengakui gambar-gambar sejarah kehidupan secara objektif dan apa adanya, yang seakan-akan bertentangan dengan pendapat-pendapat umum yang baku dan sudah mengurat-saraf di akal kita semua”

Markesot meminta Brakodin, yang ternyata hadir tetapi duduk jauh di pojok sejak awal, untuk merespons Junit.

“Kok saya, Cak Sot?”, Brakodin bertanya.

“Lha siapa lagi”, jawab Markesot, “kan teman-teman yang pinter-pinter yang dulu bersama kita sekarang sudah menyebar di mana-mana menjadi orang semua…”.

“Saya bukan yang paling tepat untuk merespons protes-protes Imam Junaid ini”, Brakodin tetap menolak, “di sini sekarang sekurang-kurangnya ada Tarmihim atau Ndusin”

“Kok Imam Junaid tho Pakde?”, Junit memotong, tapi ketelingsut dan tidak direspons.

“Lho saya kan datangnya ke Cak Sot belakangan, jauh lebih dulu Sampeyan”, Tarmihin menyahut, kepada Brakodin.

“Sampeyan Cak Din yang lebih tekun”, Ndusin mendukung.

“Tekun apanya”

“Sampeyan sejak awal yang paling rajin mengingat-ingat apa saja yang kita dengarkan dari Cak Sot”

“Itu maksudnya. Brakodin yang hapal hampir semuanya. Rute berpikir saya dicatat dengan saksama, sekurang-kurangnya dengan naluri dan kesetiaan, oleh Brakodin.”

“Makanya dia bernama Bahrudin”, Ndusin mendukung lagi, “lautan luas yang berisi luapan air ilmu dan pengetahuan”

“Air liurku…”, sahut Markesot, “semoga Tuhan menyayangi hambanya yang mau-maunya menampung air liurku”

“Ibarat Cak Sot itu Socrates, Brakodin itu salah satu Platonya”, Ndusin lagi.

Markesot tertawa. “Kalau yang lebih tepat, saya Iblis, Brakodin setannya. Tapi takabbur juga kalau menganalogikan diri saya pada Iblis yang besar, yang super-ilmuwan, ekstra-cerdas, adi-waskita, dan jeniusitasnya tidak parsial, melainkan komplet. Makhluk Allah yang sangat mengagumkan ketangguhannya, ketahanan dirinya selama kontrak dengan Allah hingga momentum kiamatnya manusia. Belum lagi kesabaran dan keikhlasannya mengorbankan diri diposisikan sebagai makhluk paling lalai dan gemedhe….”

“Mbah Sot”, tiba-tiba Junit memotong, “tolong jangan tambahi dulu tumpukan pikiran, penemuan pandangan, dan analisis-analisis tentang Iblis dan yang semacam-semacam itu. Yang selama ini saya dengar saja masih membingungkan saya.”

Markesot minta maaf, “Tepat dan sangat bagus, Junit cucuku”, jawabnya, “sebenarnya saya tidak pernah benar-benar berbicara atau berbicara tentang Iblis. Yang saya kemukakan kepada Pakde-Pakde dan Paklik-Paklikmu selama ini sebenarnya sekadar contoh keberanian berpikir logis dan kekuatan mental untuk menemukan, menerima, dan mengakui gambar-gambar sejarah kehidupan secara objektif dan apa adanya, yang seakan-akan bertentangan dengan pendapat-pendapat umum yang baku dan sudah mengurat-saraf di akal kita semua”.

“Ya, Junit. Kita kembali ke hajat semua. Kamu menerjang saya dengan pertanyaan-pertanyaan yang frontal dan menantang hujjah dan bayan. Dan saya menyerahkannya kepada Pakdemu Brakodin”

“Saya tidak merasa punya kemampuan untuk itu, Cak Sot”, kata Brakodin.

“Kemampuan untuk apa?”, tanya Markesot, “ini hanya soal ekor cecak….”

Brakodin tertawa. “Junit, kalau Mbahmu Markesot bilang dia itu ekor cecak, itu mending. Junit harap tahu Pakdemu ini hanyalah unsur kecil paling belakang dari ekor cecak itu”

“Saya belum benar-benar memahami ujung jarum dari ungkapan itu, Pakde”

“Kami ini, Junit, sedang menertawakan diri kami sendiri. Kami semua ini makhluk-makhluk Tuhan yang tidak berprestasi apa-apa selama hidup di dunia. Tidak sukses. Tidak menjadi apa-apa. Tidak punya sesuatu yang bisa dibanggakan di hadapan banyak orang, sebab mereka mengharapkan sesuatu yang kami tidak mengejarnya….”

“Ya ya terus Pakde”, kata Junit, “samar-samar mulai tampak, terutama kalimat terakhir itu: Mbah Sot dan Pakde Paklik tidak mainstream, tidak memilih apa yang kebanyakan orang memilihnya, tidak mengejar dan memperjuangan hal-hal yang hampir semua orang mengejarnya karena menganggap hal-hal itulah yang utama dalam kehidupan….

“Terima kasih, Junit”, Brakodin merespon, “dan saya gembira ada anak muda yang memahami itu. Sebab diam-diam kami ini menyimpan kecemasan, bahkan pada saatnya nanti kami akan dipanggil Tuhan dalam posisi sebagai orang-orang asing di tengah kehidupan dunia, tidak dicatat oleh siapa-siapa, tanpa jejak, kemudian ternyata di akhirat pun kami juga orang-orang asing. Nerakanya pasti, sorganya spekulasi. Tuhan memanggil ‘wahai jiwa yang tenteram, kembalilah kepada-Ku, meridlai dan diridlai, masuklah menjadi bagian dari kumpulan para pengabdi-Ku, masuklah ke sorga-Ku…’ — dan ternyata kami tidak ada di situ”

Junit tertawa kecut. “Semua orang di dunia ini berposisi spekulatif seperti itu, Pakde”, katanya.

“Masalahnya”, kata Brakodin menjelaskan, “kami ini sangat meyakini bahwa kami menempuh jalan yang paling aman di mata Allah. Sampai usia tua ini kami menghindar dari segala bentuk dan wilayah keserakahan terhadap kepentingan dunia, dan mbatin Allah semata-mata siang dan malam. Dan kami meyakini semua yang sedang berlangsung di dunia, yang hampir seluruh bangunan keadaannya tidak meletakkan Allah sebagai poros utama, sebagai pathok primer, sebagai hulu hilir: pasti akan mengalami keambrukan dan kehancuran….”

“Dan sampai hari ini, sampai detik ini, yang tampak mata dan terdengar telinga di sekitar kita, belum menunjukkan kehancuran apa-apa, ya Pakde. Semua orang tersenyum dan tetap bisa tertawa-tawa, seperti saya dan Pakde Paklik sendiri, bahkan juga Mbah Sot…”, Junit tertawa.