Daur (216)

Pemimpin Masalah

Ta’qid : “karena yang kita keluhkan bukan penghidupan kita pribadi dan keluarga. Yang kita keluhkan bukan kemiskinan harta benda keluarga kita. Yang kita keluhkan bukan kesulitan menjalani hidup. Tetapi yang kita keluhkan adalah kerusakan manusia, kebobrokan Negara dan kehancuran Bangsa”

Di saat istirahat, Ndusin tertawa agak keras kepada Tarmihim. “Semakin kentara ternyata kita yang berada di sekitar Cak Sot ini adalah kumpulan orang-orang putus asa…”, katanya.

“Kok putus asa?”, Tarmihim bertanya.

“Bertahun-tahun kita sudah hidup sakmadyo, berpikir sederhana dan menyangkut kenyataan sehari-hari di sekitar kita. Tapi begitu kita bersentuhan dengan Cak Sot lagi, membangun kembali persambungan-persambungan Patangpuluhan, Cak Sot menimpakan kepada kita sampah-sampah nasional dan global, dan hasilnya adalah keputusasaan bersama”

“Bukan putus asa dong”, Tarmihim membantah, “Ini nalar. Logis. Kalau manusia sudah tenggelam dan terkurung dalam kegelapan, terpojok oleh tembok-tembok tebal ketidakberdayaan, maka jalan yang tersisa adalah mendambakan tindakan pertolongan Allah. Ini bukan keputusasaan. Ini tawakkal”

“Memang untuk menghibur diri Cak Sot sejak dulu selalu meyakinkan kita bahwa yang kita lakukan adalah perjuangan kesadaran tanpa henti. Tetapi di saat-saat yang lelah, wajah perjuangan itu berubah menjadi keputusasaan”

“Beginilah akal sehat”, sahut Tarmihim, “Beginilah dinamika tugas pikiran dan kesetiaan perasaan. Berbenturan satu sama lain. Kita semua orang kecil, tetapi di dalam diri kita sudah terlanjur ada Indonesia, globalisasi, sejarah dusta, penipuan dan penindasan dengan segala struktur dan sistemnya. Kita tidak dan bukan ahli soal itu semua, tetapi semua itu sudah terlanjur menjadi bagian dari kita, tanpa bisa kita buang, cabut, musnahkan atau lupakan”

Teman yang lain menambahi, “Semua orang di Indonesia mengeluh tiap hari. Semua penduduk dan warganegara, baik yang di atas, di tengah apalagi di bawah. Baik yang rakyat biasa seperti kita, yang pengusaha, bahkan yang pejabat, semua mengeluh. Akan tetapi saya bangga hidup di sekitar Cak Sot, karena yang kita keluhkan bukan penghidupan kita pribadi dan keluarga. Yang kita keluhkan bukan kemiskinan harta benda keluarga kita. Yang kita keluhkan bukan kesulitan menjalani hidup. Tetapi yang kita keluhkan adalah kerusakan manusia, kebobrokan Negara dan kehancuran Bangsa”

“Mengeluh tidak sama dengan putus asa”, kata Tarmihim menegaskan apa yang tadi dikemukakannya. “Pun kita mengeluh hanya kepada Tuhan dan kita ungkapkan hanya di antara kita-kita di sekitar Cak Sot. Hanya sebatas itu yang kita mampu lakukan. Cak Sot dan kita semua berpantang untuk menawar-nawarkan diri menjadi pemimpin masyarakat, pada tingkat manapun, karena kita sadar kita tidak punya kemampuan yang mencukupi untuk mengatasi masalah”

Sundusin tertawa. “Semakin banyak orang yang menawar-nawarkan dirinya untuk menjadi pemimpin, pejabat, pengurus Negara, pelaku pemerintahan, apa sebabnya? Karena bagi mereka menjadi pemimpin ditekankan pada konteks ‘menjadi’-nya. Sementara kita berpikir menjadi pemimpin adalah mengatasi masalah. Akhirnya yang terjadi adalah muncul sangat banyak pemimpin secara serabutan, yang faktanya bukan hanya tidak mampu mengatasi masalah, melainkan bahkan menambah masalah”

“Bahkan menjadi pemimpin untuk menjadi masalah”, potong teman yang lain, “Karena begitu banyak orang berjuang merangkak naik agar duduk di kursi kepemimpinan, tidak berangkat dari niat untuk mengurangi masalah, apalagi menyelesaikan masalah. Mereka menjadi pemimpin dengan prestasi menambah masalah, dan kalau masalah itu akan mengancam kedudukannya di kursi, maka yang mereka lakukan adalah menginjak rakyatnya, memeras rakyatnya, merepotkan dan pada hakikatnya membunuh penghidupan rakyatnya”

“Jadi prestasi Cak Sot dan kita semua adalah berhasil menahan diri untuk tidak berjuang agar menjadi pemimpin”, kata Sundusin tertawa, “karena sejauh ini di Indonesia pemimpin adalah masalah”

“Bagaimana mungkin kita berpikir untuk ingin menjadi pemimpin”, sahut Tarmihim, “kalau kita tahu pasti bahwa kita tidak akan mampu menyembuhkan Indonesia. Kita rakyat kecil yang kadar keberdayaan kita hanya sepadan dengan perjuangan sehari-hari untuk sekadar mempertahankan hidup kita”

“Kenapa Cak Sot menyeret kita memasuki jagat permasalahan-permasalahan yang begitu besar, rumit, jungkir balik, berlipat-lipat, samar antara yang nyata dengan yang rahasia. Mana mungkin kita mampu menampungnya?”, sambung Sundusin, “segi positifnya adalah kita yang makhluk berakal ini tidak berhenti membangun dan memperbaharui kesadaran sebagai Khalifah, sehingga tidak berposisi haram di hadapan Allah. Tapi segi negatifnya adalah kita digiling digulung oleh rasa putus asa yang tak berkesudahan”

Teman yang pertama merasa memperoleh suatu ketegasan: “Kalau begitu jelas kenapa kita perlu bertemu rutin dengan Cak Sot. Tahap demi tahap kita perlu menyerap pikiran Cak Sot tentang kepemimpinan. Seberapa ruwet pun, sebarapa luas pun, seberapa panjang pun. Minimal bisa kita pakai untuk pribadi kita masing-masing. Dan kita lebih siap kalau kelak salah satu Malaikat bertanya ‘Kenapa kamu tidak pernah berpikir sungguh-sungguh tentang bagaimana seharusnya pemimpin Indonesia, apa syarat rukunnya, apa saja kualitas yang harus dimilikinya, bagaimana caranya memimpin, bagaimana jurus-jurus yang dipersiapkan untuk bermain silat melawan komplikasi masalah-masalahnya’. Tuhan tidak akan menagih bahwa hal-hal itu harus kita capai. Tapi minimal kita mengerti persis apa yang tidak kita capai itu dan apa saja yang seharusnya kita perjuangkan….”