Daur (244)

Pemimpin Kotak-kotak

Tahqiq : “...kalau sampai ternyata pengkotak-kotakan Islam itu terjadi dalam kehidupan manusia, bahkan menjadi sumber terpecahnya silaturahmi, mataair kebencian dan bara sekam pertengkaran-pertengkaran – tema yang sesungguhnya terjadi adalah satu di antara tiga kemungkinan: Lawakan, Kebodohan, atau Tipudaya”

Kecuali karena lawakan, kebodohan atau tipudaya, tak ada Islam Liberal, Islam Fundamental, Islam Radikal, Islam Moderat. Bahkan tak ada Islam Sunni, Islam Syiah, Islam Garis Lurus, Islam Garis Lengkung, Islam Tumpukan Jerami, Islam Susur Kusut, atau apapun. Maka tak ada pula Islam dikurung dalam sangkar, Islam Kotak, Islam Susuh, Islam Keranjang, Islam Kotak-kotak.

Islam adalah bulatan kosmos nilai tak terbatas dari berkah Allah untuk memudahkan makhluk manusia menempuh jalan sangkan-parannya. Islam adalah ruang raksasa tak terjangkau tepiannya yang Allah meletakkan makhluk-makhlukNya terapung-apung di tengahnya. Di dalam ruang misteri itu terdapat potensi liberalitas, fundamentalitas, radikalitas dan energi moderasi. Di kandungan rahasia ruang kasih sayang Allah itu terdapat galaksi ahlussunnah waljamaah, rumpun bintang Syi’i atau meteor Wahabi, serta tatasurya-tatasurya kecil yang kini tumbuh dengan semarak jamur-jamur versi penafsiran, benalu-benalu egosentrisme madzhab-madzhab dan buih-buih interpretasi-interpretasi instan, parsial, penggalan-penggalan serta kesesaatan-kesesaatan.

Islam bukan bongkahan batu yang bisa diambil, digenggam, dan dicampakkan ke dalam salah satu galaksi, rumpun, tatasurya, planet dan meteor, kemudian dimiliki dan dikuasai oleh penguasanya. Islam bukan benda yang bisa dimuat oleh bagian-bagian, karena bagian-bagian itu dihimpun oleh Allah justru di dalam ke-wungkul-an atau ke-kaffah-an Islam. Tidak bisa ada kepemimpinan kotak-kotak yang menarapidanakan Islam, meletakkannya dalam sel kotak-kotak, kecuali akan mengalami retak-retak dinding dan keambrukan sel penjara itu ketika saatnya tiba.

Al-Islamu ya’lu wa la yu’la ‘alaih. Islam itu nduwuri, me-ninggi-i atau men-tinggi-i (alangkah miskinnya Negara Bahasa dan Pemerintahan Kata kita), lebih tinggi dari apapun yang diperkenankan oleh Allah untuk hidup dalam ketinggian. Hendaklah semua manusia melihat ilmu di dalam dirinya masing-masing atau bersama-sama, untuk mengerti bahwa lebih tinggi itu asosiatif terhadap lebih besar, lebih dalam, dan secara keseluruhan lebih agung.

Maka sekali lagi, kalau sampai ternyata pengkotak-kotakan Islam itu terjadi dalam kehidupan manusia, bahkan menjadi sumber terpecahnya silaturahmi, mataair kebencian dan bara sekam pertengkaran-pertengkaran – tema yang sesungguhnya terjadi adalah satu di antara tiga kemungkinan: Lawakan, Kebodohan, atau Tipudaya.

Itu baru Islamnya. Belum manusia. Ahsanu taqwim. Masterpiece. Ciptaan yang terbaik, terindah, paling komplet, paling sempurna di tengah serpihan-serpihan ciptaan lainnya.

Islam itu permanen. Islam itu niscaya. Islam itu ajeg. Islam itu kekal. Islam itu abadi. Islam adalah bayang-bayang Tuhan itu sendiri. Jangan bertanya berapa jarak antara Allah dengan Islam, sebab tak bisa kau temukan jarak itu. Tapi juga jangan simpulkan bahwa karena Islam adalah bayang-bayang Allah, maka ia adalah Allah itu sendiri, yang manusia hanya bisa menemukan tajalli-Nya, manifestasi-Nya, perlambang-Nya, bayang-bayang-Nya. Para makhluk, pun manusia, tidak diperkenankan oleh Maha Penciptanya untuk bisa benar-benar mampu bertemu dengan-Nya, ber-muwajahah, bertatap muka dalam pengertian dzatiyah apalagi materiil.

Ketidakmampuan dan ketidaktahuan makhluk atas Maha Penciptanya itulah yang membuat Allah menganugerahkan jembatan komunikasi yang bernama iman. Iman diperlukan justru karena tidak mungkin tahu. Kemustahilan untuk menjangkau Allah secara materiil, intelektual, rasional, pun tidak secara spiritual. Yang pasti sampai kepada-Nya adalah kerinduan yang mengantarkan cinta.

Kalau kehidupan manusia, kebudayaan, dan peradabannya menghabiskan waktunya untuk mempersempit diri, kapan mereka memasuki ruang untuk cinta kepada Allah, kapan mereka menempuh waktu untuk menjalani kerinduan kepada-Nya?

Kalau siang dan malam perjalanan sejarah ummat manusia memboroskan energinya untuk memperkerdil diri, berjejal-jejal memasuki kotak-kotak pengap liberalisme, radikalisme, fundamentalisme, moderatisme, madzhab-madzhab dan aliran-aliran – kapan dan di mana bisa dilangsungkan peristiwa dan momentum percintaan dengan Maha Pencipta yang menantikan mereka semua di arasy agung-Nya untuk merayakan cinta?

Kapan ummat manusia meneguhkan pengetahuan bahwa tidak ada manusia liberal ansich, tidak ada manusia fundamental ansich, radikal ansich atau moderat ansich. Tidak ada manusia yang seluruh satuan kemakhlukannya bersifat liberal. Tidak ada manusia yang konstruksi kemenyeluruhannya bersifat radikal. Tidak ada manusia yang bangunan kemakhlukannya hanya fundamental. Dan tidak ada manusia yang seluruh dirinya terdiri dari faktor-faktor yang moderat.

Justru di dalam diri setiap dan semua manusia terkandung kemungkinan dan potensialitas untuk liberal, radikal, fundamental, moderat, sunny, syi’iy, wahabiyyi, kafiry munafiqy, musriky, fasiqy, ghofily, serta beribu potensialitas lainnya. Manusia dijadikan manusia oleh Allah agar menata keseimbangan di antara semua potensi itu, dengan daya khilafah, upaya kelola, serta ketajaman, kecerdasan dan kelembutan untuk menentukan skala prioritas pilihan sikap dan perilakunya.

Kalau tidak demikian yang terjadi, maka terpaksa berulang-ulang perlu kita teguhkan ke dalam diri setiap manusia: bahwa yang berlangsung mungkin adalah senda gurau atau lawak, atau mungkin kebodohan dan kejumudan, atau tipudaya, rekayasa, strategi penguasaan fir’auniyah atas penduduk bumi.