Daur (254)

Pemimpin Komprehensi

Tahqiq : “...memang dikonstruksi untuk tercapainya kepentingan para penjajah, di mana kita hanya menjadi kuli-kuli kultuurstelsel, tanam paksa, dari Undang-undang hingga kebudayaan dan cara berpikir – meskipun sudah mereka persiapkan juga pola pandang psikologis dan filosof yang membuat bangsa kita tidak lagi merasa menjadi kuli....”

Akhirnya Pakde Paklik menyepakati dengan kumpulan anak-anak muda itu, sambil menunggu datangnya Mbah Markesot, menyusun urutan tema-tema yang akan di-refresh, di-ta’qid-i, dan di-tahqiq-i, satu persatu. Kalau tidak bisa diterapkan hari ini, tetap rajin ditanam di mana-mana, mungkin ia butuh waktu agak lama, atau tak apa juga sangat lama — untuk menjadi pohon yang berbuah.

Mbah Markesot sering mengatakan, “yang penting tulus dan tekun mendengarkan. Jangan pikirkan dulu paham atau tidak. Yang penting benih-benih dari perkataan-perkataan yang baik itu merasuk dan menjadi files di perkebunan akal kalian. Benih-benih itu mendapat fadhilah dari Allah secara berbeda-beda. Ada yang langsung bersemi. Ada yang baru mulai tumbuh beberapa hari lagi, lainnya sekian bulan lagi, lainnya mungkin butuh satu dua tahun, bahkan Alhamdulillah mungkin ada yang perlu satu dua dekade untuk menjadi tanaman yang berbuah….”

Ketika seorang Paklik membawa putra kecilnya di pertemuan itu, Mbah Sot mengatakan, “Lihatlah anak itu. Berapa jam dia ada di sini, sorot matanya sangat memperhatikan apa yang terjadi di sini. Mungkin ia belum saatnya paham terhadap semua yang kita diskusikan. Tapi sesungguhnya nalurinya menampung hal-hal yang ia perlu waktu untuk memahaminya secara akal. Rohnya sudah menerimanya, sehingga berjam-jam tidak mengantuk, tidak rewel, juga tidak ada perilaku yang menunjukkan bahwa ia tidak krasan, tidak terlibat atau tidak memperhatikan. Ia tidak mengantuk. Dan andaikanpun ia tertidur karena kondisi tubuhnya, jangan pikir aliran darah dan nafasnya tidak menjadi pintu yang menyerap ilmu….”

Tiba-tiba Toling mengajukan usul: “Saya kira baik kalau masing-masing kita mengajukan usulan tema-tema atau topik-topik untuk diakurasi dan di-tahqiq-i. Supaya puzzling ilmu kita lebih terkonstruksi dan terarah secara nalar”

“Kamu duluan yang usul, Ling”, teriak Junit.

“Sudah ada lima titik tematik yang akan saya usulkan….”

“Tetapi sesuai dengan yang kita pahami dari Mbah Sot, olah musyawarah kita tidak fakultatif. Tidak per bidang. Tapi bidang tema hanya sebagai keberangkatan, sedangkan lalulintas diskusinya tetap harus komprehensif…”

“Ya benar begitu”, Jitul menyela, “Jadi setiap tema kita kasih judul ‘Komprehensi-1: Peran Tutup Botol dalam Strategi Pembangunan Peradaban’ — misalnya”

“Top, Tul”, suara Junit, “Kita tidak mungkin sanggup menjadi orang yang mengerti banyak tentang banyak hal. Tetapi jangan juga sekadar menjadi orang yang mengerti banyak tentang sedikit hal. Pun tidak mungkin mencukupi kalau hanya menjadi orang yang mengerti sedikit tentang banyak hal. Apalagi menjadi orang yang mengerti sedikit-sedikit tentang sedikit hal….”

“Kriterianya kita perluas, Nit”, Jitul menyela, “Bukan hanya pada sedikit atau banyak. Mungkin yang kita butuhkan adalah mengerti banyak tentang sedikit hal namun disertai mengerti prinsip-prinsip tentang banyak hal”

Kalimat Brakodin ini seperti mementahkan seluruh kemesraan intelektual yang sedang berlangsung: “Andaikan semua faktor itu akhirnya bisa kalian tahqiq-i, sehingga kalian sudah mengerti lumayan persis: Indonesia begini seharusnya, Negara dan Pemerintah begini semestinya, bangsa dan rakyat begini selayaknya, sampai ke manusia dan muslim begini sebaiknya — lantas apa yang bisa kalian lakukan untuk mengubah keadaan? Karena seluruh yang kita alami di zaman ini adalah komplikasi dari hal-hal yang tidak seharusnya, tidak semestinya, tidak selayaknya, dan tidak sebaiknya?”

Junit yang menjawab. “Maaf Pakde Brakodin, dari Pakde sendiri saya mendapatkan jawaban itu dari Mbah Markesot. Bahwa Allah hanya menugasi kita untuk menanam, nanti Allah yang menyemaikan, menumbuhkan, membungakan, dan membuahkannya. Yang kita wajib siapkan adalah kesehatan tanahnya, ketekunan merawat tanamannya, kesetiaan untuk menyayangi tanah dan tanaman itu, dan tidak tergesa-gesa atau terburu nafsu membayangkan buahnya”

Brakodin bertepuk tangan. Tapi tetap membantah, “Memang Allah yang menumbuhkan dan membuahkan, tetapi kan kita wajib memahami seluruh proses tumbuhnya, ilmu dan sifat ketumbuhannya, bahkan men-tahqiq-i teknologi dan teknokrasi persawahan kita sampai ke tingkat logika buah?”

“Pasti itu Pakde”, jawab Junit, “Itulah sebabnya kami merapat ke Mbah Markesot dan Pakde Paklik. Sebab ilmu-ilmu di luar sana, bahan-bahan maupun orientasi sikap yang disusun atas ilmu itu, memang dikonstruksi untuk tercapainya kepentingan para penjajah, di mana kita hanya menjadi kuli-kuli kultuurstelsel, tanam paksa, dari Undang-undang hingga kebudayaan dan cara berpikir – meskipun sudah mereka persiapkan juga pola pandang psikologis dan filosofis yang membuat bangsa kita tidak lagi merasa menjadi kuli….”

“Itulah sebabnya saya tidak bisa menyimpulkan kecuali bahwa zaman ini adalah zaman darurat”, sahut Jitul, “apa saja serba salah. Kebaikan yang dilakukan, tapi hasilnya mudarat, salah paham, kebencian, permusuhan…Malah berbuat buruk hasilnya dipuji, dikagumi, dijadikan pahlawan. Ini zaman di mana bangsa yang melahirkan kami telah kehilangan keseimbangan berpikir, ketepatan pengetahuan, dan kemashlahatan ilmu. Kami anak-anak muda tidak sudi menjadi penerus keadaan yang semacam ini”.