Daur (248)

Pemimpin Ketidaktahuan

Tahqiq : “Terdapat dialektika yang dinamis antara keadaan seseorang dengan badannya, mentalnya, pengetahuannya, imannya, ketenangan hatinya dan berbagai dimensi lain yang membangun kehidupan dan rasa hidup seseorang....”

Tentu saja sangat mudah bagi Junit untuk menjawab “kenapa kita harus belajar ke semak belukar” yang ditanyakan oleh sejumlah temannya, dengan nada membantah dan menuntut.

Mereka belum tahu siapa Markesot dan apa yang pernah dilakukan oleh orang tua itu. Baik yang kecil-kecil maupun yang besar-besar. Yang biasa-biasa saja atau yang luar biasa. Yang normal dan wajar maupun yang harus disebut dengan kosakata gaib atau misterius. Dan Junit berpikir mungkin sebaiknya teman-temannya itu biarkan saja tidak tahu.

Terkadang ketidaktahuan lebih baik dan bermanfaat dari pengetahuan. Sesungguhnya salah satu kunci kehidupan adalah sejak awal memperhitungkan apakah suatu pengetahuan itu bermanfaat atau tidak untuk diketahui. Itu berlaku pada lalu lintas pengetahuan dan ilmu dalam dunia pendidikan, pengajaran, dan perguruan. Maupun ilmu dan pengetahuan dalam kenyataan hidup di antara manusia, dalam berkeluarga, bermasyarakat atau bernegara.

Ada orang yang hidup normal sehat wal afiat, lantas menjadi sakit-sakitan sesudah diberitahu oleh orang lain, terutama dokter, bahwa ia mengidap penyakit ini itu. Ada beribu kemungkinan di wilayah antara seseorang dengan penyakitnya. Ada yang pasti harus mengetahui apa sakitnya, sehingga ia berupaya untuk mengobatinya menuju kemungkinan untuk sembuh. Ada yang tidak perlu tahu, karena kemantapan hidupnya dan rasa sehatnya membuat penyakitnya tidak mampu berbuat banyak terhadap dirinya. Terdapat dialektika yang dinamis antara keadaan seseorang dengan badannya, mentalnya, pengetahuannya, imannya, ketenangan hatinya dan berbagai dimensi lain yang membangun kehidupan dan rasa hidup seseorang.

Junit beranggapan bahwa tak ada perlunya menginformasikan fakta-fakta hidup Markesot kepada teman-temannya. Antara lain karena mungkin mereka tidak siap pikiran maupun mentalnya. Mereka bisa memuntahkan kembali informasi-informasi itu karena tidak mampu meletakkannya dalam konstruksi pikirannya dan keseimbangan mentalnya.

Beberapa informasi kecil dan sederhana saja tentang Markesot ia sampaikan ke teman-temannya, nanti keluaran dari mereka bisa berupa tuduhan-tuduhan atau persangkaan atau bahkan fitnah. Teman-temannya itu kaum muda terpelajar, yang biasa dididik untuk berkesimpulan bahwa segala sesuatu yang tidak bisa dia lihat itu sama dengan tidak ada. Sesuatu yang tidak bisa diidentifikasi dan dirumuskan berdasar cara pandang yang ada pada mereka, dianggap tidak nyata. Sesuatu yang mereka tidak tahu disebut sama dengan tidak benar dan tidak ada.

Kalau Junit bercerita tentang sejumlah adegan dalam sejarah Markesot, mereka sangat mungkin akan menyimpulkan itu kesombongan, khayalan, dramatisasi, sesuatu yang dibesar-besarkan, mitologisasi, takhayul, dan entah apalagi kata-kata yang sungguh merendahkan dimensi kemungkinan dan jagat kenyataan.

Maka Junit membebaskan siapa saja untuk ikut atau tidak ikut, untuk hadir atau tidak hadir, untuk percaya atau tidak percaya, serta untuk belajar atau tidak belajar. Maka kepada sejumlah teman-temannya itu Junit menjawab: “Justru karena saya tidak tahu apa yang bisa dipelajari di semak belukar, maka saya merunduk-runduk masuk ke dalam semak belukar, supaya mengerti persis ada sesuatu yang perlu dipelajari atau tidak”

Tapi teman-temannya tetap membantah. “Kita harus tahu apa yang akan kita pelajari. Sebab kalau tidak, kita tidak bisa menyusun cara dan langkah untuk mempelajarinya. Kita masuk ke Universitas dan memilih suatu Fakultas karena kita sudah tahu apa yang akan kita pelajari. Tidak mungkin kita masuk Universitas dengan tidak memperjelas bidang dan kelas pembelajarannya. Kita tidak bisa nyoba-nyoba dulu di Universitas, baru kemudian memilih Fakultas”

Dengan malas Junit harus meladeni dan menjawab.

“Pertemuan dengan Mbah Sot dan Pakde Paklik sama sekali bukan Universitas. Kalau yang dimaksud Universitas adalah seperti yang dimaksudkan oleh para pelaku Universitas selama ini”

“Memang ada maksud yang tidak seperti itu?”

“Universitas itu semesta pembelajaran universal. Menyeluruh sampai ke detail, detail untuk menyeluruh. Dari Mbah Markesot, Pakde Paklik pernah menguraikan tentang empat macam orang. Pertama yang tahu sedikit tentang sedikit hal. Kedua yang tahu banyak tentang sedikit hal. Ketiga yang tahu sedikit tentang banyak hal. Dan keempat yang tahu banyak tentang banyak hal….”

“Yang keempat itu mustahil. Bahkan orang jenius pun biasanya terletak pada yang kedua: tahu banyak tentang sedikit hal. Fakultas-fakultas didirikan supaya banyak orang-orang tahu meskipun hanya tentang sedikit hal atau bahkan satu hal, tapi mereka benar-benar mengerti dan mendalami. Daripada menjadi orang yang segala sesuatu dibicarakan, tetapi tidak satu hal pun yang benar-benar ia mengerti dan mendalami….”

“Apakah kategori yang terakhir itu adalah yang kalian gambarkan tentang lingkaran para Pakde Paklik itu? Karena mereka bukan siapa-siapa, tidak ada tanda-tanda kredibilitasnya di bidang keilmuan apapun, tidak ahli dan bukan pakar tentang apapun?”

“Kami tidak bermaksud begitu….”

“Padahal benar begitu”, jawab Junit dengan setengah tertawa, “para Pakde Paklik itu adalah orang-orang yang sadar bahwa mereka kurang berpengetahuan. Mereka tahu bahwa mereka tidak tahu. Saya, Jitul, dan Toling juga begitu. Kami mau bertemu dengan mereka karena sadar bahwa sangat banyak yang kami tidak tahu, dibanding yang kami tahu. Kalau kami ketemu orang-orang tua itu rasanya sedang kuliah, sedang belajar di Universitas, sama sekali tidak seperti kalau belajar di kampus, yang sama sekali tidak membuka peluang untuk menjalani pembelajaran kuliah….”