Daur (242)

Pemimpin Keluarga-Keluarga

Tahqiq : “...tetapi hancurnya masyarakat dan peradaban Atlantis, tenggelamnya ummat Nabi Nuh, juga Nabi Hud, Nabi Luth, Nabi Salih dan lain-lain, salah satu sebab yang bisa saya asumsikan adalah hancurnya satuan-satuan keluarga kecil mereka...”

Kaum muda generasi Junit Toling Jitul itu memiliki kecenderungan yang serius terhadap kesalehan. Itu sangat tercermin dari ekspresi alam pikiran mereka, wilayah perhatian mereka, asal-usul pertanyaan mereka atas berbagai masalah kehidupan. Juga dari sejumlah tanda dari perilaku mereka.

Mungkin karena di sekolah-sekolah Paud masa balita mereka ada semacam yel, jargon, atau lagu “Aku Anak Saleh”. Atau lahir dari dikabulkannya oleh Allah tradisi ucapan para orang tua yang terbiasa minta doa kepada siapapun saja “Doakan anak saya bisa menjadi anak saleh salehah”, baik sesudah lahir maupun tatkala masih di dalam kandungan Ibunya.

Tidak terlalu utama apakah mereka mengerti “saleh” itu apa makna sebenarnya. Tidak juga terlalu penting apakah para intelektual atau kaum Ulama pernah bermajelis mencari kesepakatan tentang apa sebenarnya makna “saleh”. Yang utama adalah hati mereka tulus, mendalam dan bersungguh-sungguh tatkala mengucapkan doa itu.

Ketika manusia mengekspresikan diri dalam konteks masyarakat, bangsa, terutama Negara, mungkin kadar basa-basi dan klise-nya tinggi. Tetapi kalau mereka mengungkapkan hatinya tentang keluarga, apalagi putra-putrinya, itu sungguh-sungguh, khusyu’ dan penuh pengharapan. Dan karena hati Allah sedemikian penuh kemurahan dan kedermawanan, maka dikabulkanlah doa-doa itu.

Dulu sekali Cak Markesot pernah menguraikan penglihatannya tentang kenapa tidak ada adzab besar yang ditimpakan oleh Allah kepada bangsa Indonesia.

“Tentu saja jangan percaya pada saya tentang apapun, terutama tentang kehendak Allah”, Markesot memagari ungkapannya dengan patrap hubungannya dengan siapapun di sekitarnya, “percaya dan berharap hanya kepada Tuhan, karena yang saya kemukakan ini adalah batas penglihatan batin dan logika akal saya sendiri. Bisa jadi sangat salah, dan pasti ada ribuan pendapat lain yang sangat mungkin berbeda, bahkan bertentangan dengan apa yang akan saya kemukakan”

Pagar semacam itu mungkin sudah ribuan kali diungkapkan oleh Markesot sebelum, ketika atau sesudah menyampaikan sesuatu.

“Jangan menjadi pengikut saya, karena kita masing-masing menjalani hidup kita masing-masing yang berbeda satu sama lain latar belakangnya, liku-liku pengalamannya, beragam jalan yang kita lalui, jatuh bangunnya berbeda, fadhilah dan nasib yang ditentukan oleh Allah atas kita masing-masing juga sendiri-sendiri”

Seperti lagu lama yang selalu disetel berulang-ulang. Tapi Markesot tidak pernah putus asa untuk memperdengarkan prinsip itu.

“Saya bukan panutan siapapun. Kita makhluk yang berbeda, meskipun sama sangkan-parannya. Kita hewan yang berbeda, daun yang tidak sama, wajah yang beragam-ragam pengalamannya. Satu-satunya yang rasional untuk kita jadikan panutan dan kita ikuti, adalah makhluk paling senior ciptaan Allah, yang hakiki wujudnya berada di wilayah sangat hulu, ialah Kanjeng Nabi kita Muhammad. Kalian semua dan saya berposisi sama: yakni berbaris menjadi makmum beliau….”

Markesot mengemukakan bahwa menurut pendalaman permenungan yang ia lakukan selama ini, salah satu pertahanan bangsa Indonesia dari amarah Allah adalah karena kesungguh-sungguhan mereka dalam berkeluarga dan membangun rumah tangga. Mereka mungkin munafik dalam menjalankan Negara dan Pemerintahan, mungkin lamis dalam kehidupan bermasyarakat, serta hipokrit di area manifestasi nilai-nilai rohani dan kebudayaan. Tetapi rata-rata mereka sangat serius, mendalam, sungguh-sungguh dan khusyu’ dalam hal berkeluarga dan berumah tangga.

“Saya tidak mungkin punya bahan maupun mesin ilmu untuk menyimpulkan sejarah manusia di masa silam yang jauh dan sudah dikubur oleh kegelapan dan ketidaktahuan manusia di zaman ini”, kata Markesot, “tetapi hancurnya masyarakat dan peradaban Atlantis, tenggelamnya ummat Nabi Nuh, juga Nabi Hud, Nabi Luth, Nabi Salih dan lain-lain, salah satu sebab yang bisa saya asumsikan adalah hancurnya satuan-satuan keluarga kecil mereka.”

Markesot mencontohkan, kalau istri dan sebagian putra seorang Nabi ruh Allah yang bernama Nuh saja kafir kepada tauhidillah, tidak bisa disalahkan kalau orang menyimpulkan secara logis bahwa keluarga-keluarga ummat beliau mestinya lebih parah ketidakutuhan rohani keluarganya. Minimal sama parahnya. Kalau tema adzab kepada ummat Nabi Luth adalah perhubungan sesama jenis, maka tentunya itu berbanding lurus dengan tidak sakinahnya keluarga-keluarga normal di masyarakatnya. Masyarakat Atlantis berkembang budaya egosentrisnya karena kehebatan individual mereka di bidang ilmu dan teknologi, sehingga tema keluarga menjadi sekunder. Masyarakatnya Nabi Hud juga membengkak kefir’aunan mental dan budayanya karena merasa terlalu bangga dengan pencapaian-pencapaian dahsyat teknologinya”

Sedangkan kaum muda generasi Junit Toling Jitul, dijajagi Markesot dan temannya, baik anak-anak muda di kalangan persekolahan dan pesantren, dunia usaha, aktivis olahraga, atau apapun wilayah kegiatan mereka — kalau ditanya apa motivasi pembelajaran dan kerja keras mereka, jawabannya sama persis: “Untuk membahagiakan Ibu, Bapak dan keluarga saya”.