Daur (218)

Pemimpin Kekasih

Ta’qid : “Dan di antara ummat manusia sekarang ini tidak ada pemimpin, seseorang atau siapapun yang dicintai oleh Allah sebagaimana Ia mencintai Nabi-Nabi-Nya”

Kepada Markesot benar-benar ditanyakan hal yang menurut teman ini logikanya terbalik. “Saya mikirnya kalau masyarakat hidup bersama Nabi maka mereka lebih terlindung dari adzab Allah. Kalau tanpa Nabi seperti sekarang ini tak ada yang melindungi”, katanya.

Dulu dia memang pernah mendengar dari Markesot terkadang Tuhan menyelamatkan sekumpulan masyarakat, pesawat terbang atau kendaraan-kendaraan lain dari kecelakaan, karena ada salah seorang di dalamnya yang hidupnya dekat kepada-Nya.

Markesot pernah omong kepada beberapa pimpinan perusahaan, menyarankan agar menyayangi semua karyawannya, termasuk pekerja yang paling bawah, rendah atau kasar. Rasa sayangnya harus merata, karena kita tidak tahu siapa dan yang mana di antara mereka yang Allah merasa dekat dengannya.

Kalau umpamanya para pimpinan itu berdoa bersama para buruhnya, misalnya dipimpin oleh seorang Kiai, jangan menyangka bahwa andaikan doa itu dikabulkan gara-gara Kiainya atau pimpinannya. Mungkin yang dilihat Tuhan adalah salah seorang yang paling remeh dan tidak masuk hitungan struktur profesional perusahaan itu.

Bisa jadi perusahaan itu bisa maju, karena faktor orang remeh itu, yang justru menjadi fokus kasih sayang Tuhan. Bisa jadi sebuah desa mengalami batal bencana, karena ada satu dua hamba Allah yang menjadi penduduknya. Bisa jadi sebuah Negara bertahan untuk tidak ambruk karena ada kekasih Allah yang amat disayangi oleh-Nya. Bisa jadi keselamatan atau keterhindaran ummat manusia dari amarah Tuhan dikarenakan masih ada sekelompok manusia yang tetap cinta dan setia kepada Tuhan, sehingga Tuhan pun menyayangi mereka, dan seluruh ummat manusia terpayungi oleh rasa sayang Tuhan itu.

“Saya bingung”, kata teman itu, “Kenapa ada Nabi Nuh, yang bukan hanya kekasih Allah, tetapi bahkan digelari ‘Ruh Allah’ oleh Allah sendiri, tetapi ummatnya dilibas musnah oleh banjir amat besar yang mengerikan? Demikian juga kenapa ada Nabi Hud, Nabi Shalih atau Nabi Luth, tapi justru masyarakatnya dihukum total oleh Tuhan?”

Markesot menjawab, “Karena ummat-ummat itu menyakiti hati para kekasih Allah. Mereka membuat bersedih perasaannya Nuh, Hud, Luth dan Shalih. Itu yang ditakutkan oleh Abu Bakar As-Shiddiq: kalau sampai Rasulullah Muhammad disakiti oleh pasukan kafir itu, jangan-jangan Allah akan murka dan melindas semuanya”

Markesot memberi tambahan ilustrasi bahkan lautan pun tidak bisa terima Nabi Ibrahim disakiti oleh Firaun, gunung Uhud tidak ikhlas Nabi Muhammad dilukai oleh pasukan kafir, sehingga menawarkan kepada dua kekasih Allah itu kalau diperkenankan mereka siap menghancurkan mereka yang menyakiti, lautan siap meluapkan airnya, gunung siap menggugurkan bebatuannya.

Teman itu mengejar, “Apakah kelaliman yang dilakukan besar-besaran, yang berskala global sampai lokal, di zaman ini tidak menyakiti hati Rasulullah Muhammad beserta para Nabi dan Rasul seluruhnya?”

“Sangat”, jawab Markesot, “tetapi para Nabi dan Rasul itu sekarang tidak berada di bumi dan hidup bersama ummat manusia. Dan di antara ummat manusia sekarang ini tidak ada pemimpin, seseorang atau siapapun yang dicintai oleh Allah sebagaimana Ia mencintai Nabi-Nabi-Nya”

“Kenapa ada persyaratan fisik di mana para Nabi dan Rasul harus ada secara jasad di bumi? Apakah Tuhan tidak mempertimbangkan substansi atau esensi masalahnya?”

“Sangat mempertimbangkan itu. Maka semua manusia yang berbuat lalim pasti akan ditabrak oleh hukuman-Nya. Hanya soal waktu. Justru karena pertimbangan substansial dan esensial maka tidak diberlakukan secara jasad, kecuali jasad para Nabi dan Rasul masih ada dan bertugas di bumi ini sekarang”

“Kenapa tidak serta merta? Kenapa kelaliman manusia tidak dijawab langsung oleh Tuhan sekarang ini?”

Markesot tersenyum. “Itu mengulang pertanyaan dan penjelasan di awal permasalahan ini. Jawabannya jelas: karena sekarang tidak ada manusia yang dikasihi Allah sepadan dengan para Nabi dulu. Sehingga meskipun saya dan kalian semua merasa sangat disakiti oleh keadaan yang semakin edan sekarang ini, cinta Allah kepada kita mungkin hanya beberapa tetes, dan itu sangat tidak mencukupi untuk membuat Allah marah kemudian mengadzab”

“Maaf-maaf ya Cak Sot”, kata teman itu terus menuntut, “Bukannya kita sok suci. Tapi rasanya sampai tua sekarang ini saya dan rata-rata kita semua sangat maksimal perjuangan kita untuk setia dan patuh kepada Allah. Syarat yang lebih berat bagaimana lagi yang memungkinkan kita bisa dianggap kekasih yang dicintai oleh Allah?”

Markesot tertawa. “Karena kita bukan Nabi”, jawabnya.

“Yang membuat dan melantik seseorang menjadi Nabi kan Tuhan sendiri. Kenapa tidak dihitung kadar kesetiaan dan perjuangannya, kenapa dilihat identitas kenabiannya?”

“Saya tidak tahu apa-apa tentang Nabi”, jawab Markesot, “Saya tidak punya bahan, ilmu, pengetahuan, dan pengalaman untuk memungkinkan saya mampu merumuskan apa beda antara kita dengan para Nabi dan Rasul”

“Berat. Berat”, kata teman itu, “Setengah mati pikiran saya bekerja untuk bisa memahami cara berpikir dan kebijakan Tuhan”

“Tidak harus memahami, beriman saja”, jawab Markesot, “iman adalah jembatan yang kita lewati menuju Tuhan, bukan pengetahuan. Kalau kita tahu, tidak butuh iman”

“Tapi kan tidak salah kalau saya atau kita semua punya keinginan untuk menyaksikan Tuhan menghukum manusia-manusia yang lalim, bodoh kepada Allah sehingga merusak dunia?”

“Tidak salah juga kalau sampai giliran mati atau pindah kehidupan nanti keinginan itu tidak tercapai”.