Daur (237)

Pemimpin Karier

Tahqiq : “...tidak untuk menjadi pemimpin, melainkan sekedar menjadi tukang penempuh karier, siap menjadi pegawai, karyawan, buruh dan jongos di gedung pengusaha-pengusaha besar...”

Para Pakde dan Paklik bertepuk tangan meriah seselesainya Jitul dan Toling berkicau bergantian. Bukan karena menyetujui pembicaraan mereka yang pedas tentang dunia kesehatan. Bukan juga untuk mempertanyakan apa ekspertasi anak-anak muda ini, apa hak intelektual mereka, atau seberapa kredibilitas mereka berdasar latar belakang pendidikan mereka — untuk berbicara tentang kesehatan, apalagi sisi pandang utamanya adalah dokter.

Kegembiraan para Pakde dan Paklik itu dilatarbelakangi oleh beberapa hal. Pertama, karena terbukti masih ada anak-anak muda yang tegas memposisikan diri untuk mempertanyakan keadaan zaman secara mendasar. Kedua, Jitul Toling dan Junit secara mandiri atas atas keberangkatan inisiatifnya sendiri melakukan pembelajaran yang tidak sekedar terseret oleh peta pembelajaran mainstream, yang default zaman ini, sebagaimana umumnya masyarakat dan kaum mudanya.

Ketiga, para Pakde dan Paklik itu bertepuk tangan spontan karena sama-sama merasakan takaran atau kadar kedalaman perhatian keponakan-keponakan itu terhadap situasi zamannya sekarang ini dan atensi mereka terhadap probabilitas masa depan mereka. Dari pernyataan-pertanyaan Jitul dan Toling tentang kesehatan tadi sangat tercermin betapa mendalamnya penghayatan pikiran dan hati mereka terhadap situasi yang mengepung mereka.

Tiga anak muda itu tergolong agak terpelajar, tetapi skala berpikir mereka membedah tembok-tembok tradisi pengetahuan kaum sekolahan. Mereka langsung menerjunkan daya renungnya ke medan perang yang konkret. Sedangkan nada keras pembicaraan Jitul dan Toling sangat mengandung energi kejuangan yang menggembirakan. Mereka bukan produk institusi kependidikan yang mencetak mereka tidak untuk menjadi pemimpin, melainkan sekedar menjadi tukang penempuh karier, siap menjadi pegawai, karyawan, buruh dan jongos di gedung pengusaha-pengusaha besar, memfokuskan segala kegiatan untuk mencapai kekayaan harta, melalui eskalasi kekuasaan dan jabatan-jabatan, serta memfungsikan ilmu dan kepandaiannya dari Sekolah untuk tujuan itu.

Memang Markesot dulu pernah mendengar kegelisahan Pakde Paklik dan orang-orang tua lainnya tentang para pelajar dan mahasiswa yang semakin menjadi semacam ternak saja dari tradisi beku dunia kependidikan. Institusi kependidikan umumnya memperlakukan para pembelajar sebagai gudang yang dipenuhi dan dibebani oleh transfer data-data pengetahuan oleh para Guru. Dan sangat sedikit fungsinya sebagai Laboratorium Pelatihan Berpikir, workshop pengelolaan kehidupan, atau teropong pemahaman terhadap masa depan beserta penyikapannya. Sekolah hanya menjadi toko agen data-data pengetahuan, bukan majlis pelatihan berpikir dan pembangunan sikap hidup.

Markesot merespon kecemasan itu, “Usahakan semua anak-anak bisa sekolah, dan kalau sudah kuliah bersegeralah lulus. Tujuan menjadi Sarjana adalah demi membahagiakan hati Ibu mereka dan membikin tenang Bapak mereka. Sedangkan soal pencarian ilmu, bisa saja mendayagunakan pelajaran-pelajaran di Sekolah dan Universitas, tapi jangan diandalkan. Andalan-andalan yang lebih relevan dan akurat untuk menggali ilmu dan melatih Ilmu Hidup bukan terutama di gedung-gedung Sekolah dan Universitas”.

Junit Jitul dan Toling sangat mungkin pernah mendengar jawaban Mbah mereka Markesot itu lewat entah Pakde atau Paklik yang mana. Sehingga anak-anak muda itu akan mengincar kesempatan untuk menggali apa yang tadi ditanyakan oleh Pakde mereka Sundusin: “Apakah kalian pernah mendengar apa kata Mbah kalian Markesot berkata tentang kuliah?”

Anak-anak muda itu berjanji kepada diri mereka sendiri untuk mendata kembali, mencatat, menghimpun dan mengeksplorasi ilmu-ilmu atau pengetahuan apapun yang berasal dari Mbah Markesot, Pakde Paklik dan semua sumber yang hulunya adalah komunitas Patangpuluhan.

Mereka sangat belajar untuk sungguh-sungguh belajar dari sejarah Patangpuluhan, tentang manusia, masyarakat, bangsa dan Negara, meskipun mengerti persis bahwa salah satu tahap yang harus mereka lalui adalah keputusasaan. Hikmah dari himpunan ilmu Patangpuluhan memberikan tetesan-tetesan kecerdasan tapi juga kearifan, pengetahuan tapi juga kegelapan, semangat perjuangan tapi juga rasa lumpuh di hati dan pikiran, termasuk optimisme masa depan tapi juga rasa putus harapan.

Mereka memperoleh semakin banyak bahan dari kepustakaan Patangpuluhan yang mengajarkan kepada mereka bahwa keputusasaan adalah bahan bakar terbaik untuk menerbitkan kebangkitan. Bahwa amarah dan dendam kepada semua pemimpin dan periode-periode kepemimpinan yang lalim adalah api yang membara untuk mematangkan air kebijaksanaan dan kecerdasan serta uap-uap impian untuk menata kembali fondasi kehidupan menuju masa depan.

Bahwa tidak pernah ada janji dari Tuhan maupun dari dalam diri mereka sendiri bahwa mereka memiliki kesanggupan untuk menyembuhkan masyarakat, bangsa dan Negaranya dari penyakit-penyakit yang sangat beragam, luas, komplit, ruwet, berskala sangat besar sekaligus lembut dan detail. Bahkan mungkin tidak pernah akan lahir keputusan dari kaum muda itu untuk melakukan pendobrakan total atas keadaan yang bobrok, revolusi yang menjebol kelaliman makro hingga ke akar-akarnya. Bahkan tak juga optimis hal itu akan mereka lewati melalui proses evolusi yang tak bisa dihitung seberapa panjangnya.