Daur (233)

Pemimpin Jailangkung

Tahqiq : “Tidak masalah andaikan yang menang pemilihan adalah Iblis, Dajjal atau Jin Ifrith. Yang penting bisa gabung ke organisasi penjarahan nasional...”

Disebut khilafah tapi fakta lapangannya bersuku-suku. Baik suku-suku berdasarkan darah maupun yang ditimbulkan oleh ketidakmampuan mengelola perbedaan faham, interpretasi atas segala sesuatu, madzhab, aliran atau kecenderungan. Bahkan di setiap suku masih terpecah lagi menjadi sub-sub-sub suku.

Bangsa ini tidak punya kemungkinan untuk melahirkan pemimpin nasional, karena setiap calon pemimpin berasal dari sebuah suku atau bahkan sub-suku. Tak akan direlakan oleh suku-suku yang lain, bahkan digerogoti oleh kekuatan-kekuatan sesama suku. Kalaupun seakan-akan ada kepemimpinan nasional, itu karena pada tahap sesudah selesai pemaksaan dan rekayasa pengangkatan seorang pemimpin – semua yang lain malas untuk memperjuangkan apa yang sebenarnya mereka inginkan berdasarkan sukunya.

Jangankan memperjuangkan nilai, idealisme atau keyakinan. Memperjuangkan kepentingannya sendiri saja tidak punya energi dan mentalitas untuk menuntaskannya. Lebih efektif melaksanakan kemunafikan saja: segera bergabung kepada lingkaran kepemimpinan yang sudah terlanjur. Menyeberang ke kubu yang semula ditentangnya. Siapa tahu bisa ikut gabung dalam organisasi perampokan sistemik yang sudah bergulir. Siapa tahu bisa nyantol jadi salah satu spare part, mur baut obeng, untuk berjamaah mencari laba sebanyak-banyaknya, sekurang-kurangnya selama lima tahun.

Kalau tidak diterima menjadi bagian dari organisasi perampokan, masih ada kemungkinan lain: mengemis. Ndusel-ndusel, ngrampek-ngrampek, melet-melet, dengan ujung bibir berbusa-busa dan mulut merayu mendayu-dayu. Tidak masalah andaikan yang menang pemilihan adalah Iblis, Dajjal, Jailangkung atau Jin Ifrith. Toh cocoknya pemimpin bangsa ini memang jenis Jailangkung: robot tradisional yang badannya digerak-gerakkan oleh Pak Botoh. Tangannya menuliskan keputusan-keputusan, kebijakan-kebijakan, yang isinya terserah Pak Botoh. Jailangkung diisi nyawa dengan memanggil roh Mbah Buyut Sabrang Lor.

Yang penting bisa gabung ke organisasi penjarahan nasional. Yang penting anak-anak bisa sekolah, keluarga bisa makan. Syukur bisa kaya. Alhamdulillah kalau sampai kaya raya.

Dan supaya aman, disisihkan sedikit uang hasil rampokan untuk pembangunan Masjid, santunan anak-anak yatim, sedekah kepada janda-janda, atau transfer ala kadarnya ke Dompet Pemerasan atas nama menolong kaum Dluafa.

Mestinya Allah segera mendatangkan Nabi Muhammad untuk menangani jenis permasalahan bangsa kita hari ini. Dulu Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul diutus Tuhan mengelola masalah-masalah per suku atau bangsa. Lokal-lokal. Kemudian didatangkan Rasul Pamungkas Muhammad Saw untuk merobohkan dinding-dinding kesukuan, tembok-tembok primordialitas, sekat-sekat kebangsaan, kelompok, kabilah, lingkar-lingkar kecil kepentingan dan nafsu.

Khilafah adalah kepemimpinan universal, yang merangkum satu bangsa di dunia, yaitu Bangsa Anak Cucu Adam. Khilafah tidak menolak Kerajaan, karena Yusuf Daud Sulaiman sudah menjadi uswatun hasanah untuk itu. Khilafah tidak menolak Negara, Republik, Persemakmuran, Federasi, Paguyuban, atau apapun. Substansi khilafah tidak terletak pada bentuknya, tetapi pada keberlangsungan nilai tauhid ilallah-nya, yang diterjemahkan dan diaplikasikan ke setiap bidang pembangunan dan wilayah penyejahteraan.

Seluruh ciptaan Allah adalah manifestasi dari diri-Nya sendiri, pada beberapa level, kadar, dan kualitas yang berbeda-beda. Manusia sendiri didesain dengan model Allah itu sendiri, dengan takaran dan batasan sedemikian rupa, karena tidak mungkin dipersamakan dengan Allah. Maka kenapa kemanusiaan, peradaban ummat manusia, segala bangunan nilai dan peradaban di muka bumi — tidak mengacu pada Allah itu sendiri sebagai model?

Kenapa bukan Allah dengan seluruh informasi-Nya, kependidikan, tuntutan dan ajaran-Nya, yang menjadi rujukan primer dari pelaksanaan pembangunan di Negaramu atau Kerajaanmu atau apapun saja bentuknya? Kau satu-satunya Negara yang secara resmi menyebut Ketuhanan Yang Maha Esa di urutan teratas filosofi yang mendasari konstitusi kenegaraanmu. Untuk apa itu, kalau dalam pelaksanaan penyelenggaraan Negaramu Tuhan tak kau libatkan?

Baiklah. Andaikan kau tidak mempedulikan Tuhan sebagai subjek rujukanmu, melainkan hanya sifat keTuhanannya, yang kau maksud sifat Tuhan yang mana? Rahman tidak. Rohim tidak. Ro’uf tidak. Halim tidak. Malik-Nya kau ambil, tapi Quddus Salam Mu`min Muhaimin-Nya kau abaikan. Maka kau tidak bisa merepresentasikan ‘Aziz-Nya, apalagi Jabbar-Nya, terlebih lagi Mutakabbir-Nya. Karena kau kotor, tidak suci, tidak teguh, tidak menegakkan martabat, jadinya malah kau ditakabburi oleh dunia dan bangsa-bangsa lain. Kau jadi pengemis yang memperhinakan dirimu sendiri. Kemudian kau pakai kebesaran kekuatan kekuasaan Allah kau transfer ke dalam tubuh kepemerintahanmu untuk mentakabburi rakyatmu sendiri.

Tahukah apa yang besok akan kau alami, ketika seluruh himpunan kebingungan dan derita rakyatmu membengkak sampai tingkat yang membuat Allah menyempurnakan cinta-Nya kepada mereka — sebagaimana cinta-Nya kepada Hud Nuh Luth Shalih Muhammad kekasih-kekasih-Nya? Tahukah apa yang akan kau alami, wahai Pemimpin Jailangkung?