Daur (213)

Pemimpin Getaran

Ta’qid : “Solusi itu lahir dari masalah. Masalah adalah semacam lubang di tanah atau ruang kosong, dan Allah menentukan sejak awal mula kehidupan, bahwa air selalu mengalir ke ruang yang kosong dan lubang-lubang di tanah”

Dengan susah payah merayu, juga dengan harus menunggu selama waktu yang tidak menentu — karena Markesot selalu saja sering menghilang tanpa bisa dilacak ke mana pergi, apalagi untuk keperluan apa — akhirnya berhasil juga mereka menyeretnya ke suatu pertemuan, yang mereka rencanakan untuk rutin.

Markesot tidak terlalu menunjukkan muka yang setuju, tetapi tidak juga tegas menolak. Kali ini pertemuan di desanya Tarmihim, di wilayah setengah pegunungan. Tidak terlalu tinggi, tapi sejuk dan lapang. Semua senang untuk datang ke tempat yang teduh. Teman-teman tidak sampai dua puluh orang, karena hanya yang bertempat tinggal di wilayah yang tidak terlalu jauh.

Mereka sepakat pada usulan Tarmihim dan Sundusin serta satu dua teman lain untuk fokus menggali Markesot hal kepemimpinan. Entah perlu berapa kali pertemuan. Apalagi berbincang dengan Markesot, yang selalu saja mengungkap segi-segi atau sudut-sudut atau remang-remang yang rasanya pernah juga mereka sentuh, tapi ternyata belum pernah benar-benar mereka sentuh, apalagi mendalami.

Juga karena tidak ada hal, benda, makhluk, peristiwa, momentum, yang hidup ataupun yang tidak hidup, yang statis atau yang dinamis, yang tampak maupun tersembunyi — yang terpisah dari urusan kepemimpinan. Kehidupan ini diciptakan berawal dari ide kepemimpinan atas suatu formasi, suatu lingkungan subjek dan objek, suatu susunan ekosistem, suatu perhubungan, dialektika, persentuhan dan persambungan.

Allah memimpin dirinya untuk melahirkan gagasan kepemimpinan atas makhluknya. Kemudian ada gradasi, kontinuitas, tingkat-tingkat dan kadar-kadar kepemimpinan sampai wujud dan hakikat yang terkecil, yang perkecilannya yang terkecil ditemukan dan dipahami oleh manusia dengan memerlukan kerjasama sejarah ratusan atau ribuan generasi.

Hanya sangat sedikit kasunyatan kehidupan yang digagas dan diwujudkan oleh Tuhan, yang dibocorkan untuk diketahui oleh manusia. Sampai setinggi dan seluas apapun ilmu yang berhasil dieksplorasi oleh ummat manusia, sesungguhnya yang mereka capai hanya setetes belaka. Anak-anak kecil yang bersekolah maupun yang mengalami pembelajaran di luar Sekolah atau Madrasah, rata-rata memafhumi pernyataan Tuhan: “Tidaklah Aku informasikan ilmu-Ku kecuali hanya sangat sedikit saja”.

Anak-anak yang rajin mendengarkan pelajaran, biasanya hapal penggambaran Allah: Andaikan air seluruh lautan kalian gunakan sebagai tinta untuk menuliskan ilmu Allah, maka akan kering air seluruh lautan, dan sama sekali tak cukup untuk menuliskannya. Meskipun dituangkan terus-menerus air sehingga memenuhi cekungan lembah-lembah raksasa di bumi sehingga menjadi lautan, menjadi lautan lagi, lagi dan lagi.

Markesot sudah pasti bukanlah lautan. Bahkan kolam kecil pun tak sampai. Selama berpuluh tahun teman-temannya mengalami mungkin Markesot itu semacam sebuah titik sumber air yang tersembunyi di balik gerumbul pepohonan. Tak sampai bisa disebut, misalnya: sumur tanpa dasar. Tapi teman-temannya mengalami bahwa sumber air itu rasanya belum pernah tidak memancar.

“Tidak benar bahwa saya sumber air yang tak pernah kering”, pada suatu saat Markesot membantah rumusan teman-temannya, “Itu terlalu dilebih-lebihkan. Kalau kalian membesar-besarkan kepala saya, dan pada suatu hari diam-diam saya mempercayainya, saya yakin segera Yang Maha Sumber Kehidupan akan menghentikan tetesan air dari sumber itu”

Teman-teman Markesot menganggap itu sekadar sebuah kerendahhatian. Padahal bagi Markesot memang sesungguhnya benar demikian.

“Pada hakikatnya sumber tetesan air itu adalah kalian sendiri”, kata Markesot, “setiap kalian menanyakan sesuatu, dengan sendirinya sumber itu meneteskan air. Setiap kali di depan kita ada masalah, Allah memancarkan tetesan penyelesaiannya. Solusi itu lahir dari masalah. Masalah adalah semacam lubang di tanah atau ruang kosong, dan Allah menentukan sejak awal mula kehidupan, bahwa air selalu mengalir ke ruang yang kosong dan lubang-lubang di tanah”

Sundusin dan beberapa teman biasanya diam-diam saling berbisik. “Kalau kesimpulan kita berbunyi sebaliknya, pasti Cak Sot juga akan mengemukakan argumentasi yang sebaliknya. Kalau kita bilang sedikit saja bahwa Cak Sot kekeringan ide, maka bersegera ia mengucurkan airnya. Tapi kalau kita katakan bahwa kucuran airnya tak pernah kering, ia mengembalikannya kepada kita, dengan mengatakan bahwa kitalah yang pada hakikatnya merupakan sumber air”

Tapi pada kesempatan-kesempatan lain, Markesot seolah-olah tak sengaja menjelaskan hal itu. “Sesungguhnya semua itu peristiwa kepemimpinan. Yang memimpin dan yang memimpin itu dua kutub yang bergetar satu sama lain. Yang menyembah dan yang disembah itu saling mengalami dan memacu getaran cinta, getaran kesetiaan, getaran kompatibilitas, gerakan ulang-alik yang terus-menerus, yang dipelihara oleh keteguhan sikap saling menyetiai dan disetiai”.