Daur (225)

Pemimpin Ekor Cecak

Ta’qid : “Apakah sopan bagi manusia yang bukan Nabi merasa iri kepada keistimewaan para Nabi? Apakah diperkenankan bagi setiap hamba untuk mempertanyakan ketentuan Tuhannya?”

“Jadi, Mbah, bagaimana semua ini jelasnya”, kata Junit, “terus terang saya bersama sejumlah teman saya sudah lama nguping apa saja yang Mbah Sot dan Pakde Paklik semua perbincangkan. Kami anak-anak muda sangat beruntung bisa mendengarkan itu semua. Kami perlu belajar, kami perlu guru, kami perlu panduan untuk melangkah ke masa depan”

“Junit”, jawab Markesot, “kalian kan generasi terpelajar. Kalau Mbah dan Pakde Paklik ini generasi ekor cecak….”

“Kok ekor cecak Mbah?”, Junit memotong.

“Kalau ada cecak mati, ekornya masih bergerak-gerak. Bahkan kalau ekornya terputus dari badannya, ia juga masih ada sisa gerakannya”

“Hubungannya sama Mbah dan Pakde Paklik apa?”

“Kami ini sekumpulan orang tua yang tidak bisa bergaul. Tidak bisa ajur-ajer dengan kumpulan-kumpulan manusia di Negeri ini maupun mungkin di seluruh permukaan bumi. Kami sudah mencobanya berpuluh-puluh tahun, tapi semakin tua semakin gagal. Kalau bercengkerama dengan manusia-manusia umumnya, kami tak bisa nyambung. Isi pikiran mereka tidak sama dengan isi pikiran kami. Muatan nilai yang mereka sibukkan, bagi kami itu bukan yang utama dalam kehidupan. Sebaliknya, apa yang kami pikirkan setengah mati, sampai sakit-sakit, stres, dan menderita, bukan yang utama bagi kebanyakan manusia. Padahal yang kami pikirkan adalah justru nasib mereka semua, tanpa kami pernah memikirkan nasib kami sendiri dalam kehidupan di dunia ini”

“Begitu ya Mbah”

“Apa yang lucu bagi mereka, tidak lucu bagi kami. Sebaliknya kalau kami tertawa, mereka tidak paham kenapa kami tertawa dan tidak tahu apa yang kami tertawakan. Apa yang menarik bagi mereka, membosankan bagi kami. Sebaliknya apa yang menarik bagi kami, semua itu sia-sia bagi mereka. Apa yang penting bagi kebanyakan manusia, bukan skala prioritas kami. Sebaliknya, apa yang kami berkonsentrasi penuh dengan seluruh waktu dan tenaga, bukan sesuatu yang penting bagi mereka”

“Kenapa disebut ekor cecak, Mbah?”

“Kami adalah ekor zaman, buntutnya dunia yang terlepas dari badan dunia. Kehidupan di dunia ini ibarat ular besar yang ke mana larinya ditentukan oleh kepalanya. Badan ular yang sangat panjang itu mengikuti saja dan menyesuaikan diri terhadap apapun, ke manapun, kenapapun, bagaimanapun kepala ular membawanya. Kami adalah ujung ekor yang sangat kecil dan paling belakang dari badan panjang ular raksasa itu. Sebenarnya ekor adalah salah satu senjata andalan setiap ular, tapi kami tidak pernah mau menjadi senjata yang diatur oleh kepala, karena kami sangat berbeda pendapat terutama dalam hal-hal yang mendasar. Sehingga akhirnya kami terlepas dari tubuh ular raksasa itu dan menggeliat-geliat sendiri….”

“Perbedaan ideologi?”,  Junit mengejar.

“Mungkin bisa disebut demikian”

“Perbedaan iman?”

“Sepertinya begitu, pada tingkat yang paling mendasar”

“Perbedaan aliran?”

“Silahkan memilih apa sebutannya”

“Madzhab?”

“Mungkin bisa juga”

“Pandangan hidup?”

“Apapun saja?”

“Sudut pandang, sisi pandang, jarak pandang – seperti yang Pakde Paklik sering omongkan?”

“Itu juga monggo”

“Bukankah berdasarkan sumber ilmu apa saja dan dari manapun perbedaan itu wajar, bahkan rahmat, Mbah?”

“Kalau sekadar berbeda antara kuning dengan coklat, antara ayam dengan angsa, itu tidak menjadi masalah. Tapi kalau perbedaannya yang satu bilang lurus lainnya bilang bengkok, satu yakin ke timur lainnya percaya ke selatan, satu bilang itu jaya lainnya meyakini itu hancur, dan banyak contoh atau analogi lain-lainnya — akan sangat berbeda masalah dan kemungkinan kejadian yang bisa diakibatkan oleh perbedaan itu”

Junit memang memiliki kecerdasan khas generasi muda. Sehingga bantahannya justru menggembirakan Markesot.

“Bukankah sejak Bapak Adam dulu perbedaan ekstrem seperti itu sudah lazim menjadi isi hidup manusia di dunia?”, kata Junit, “Antara Qabil dan Habil, antara Muslim dengan Kafir, antara taat dengan ingkar, antara beriman dan membangkang. Bukankah semua Nabi dan Rasul mengalami kehidupan bersama ummatnya dengan tema-tema seperti itu?”

Markesot tertawa terkekeh-kekeh. Ia ambil pundak Junit dan ditepuk-tepuknya, sambil ia usap-usap kepalanya.

“Itulah sebabnya Mbah dan Pakde Paklik ini adalah ekor cecak. Nabi Nuh, Nabi Hud atau Nabi Luth dikabulkan permintaannya dengan kontan. Alam diperintahkan oleh Tuhan untuk menjadi bala pasukannya. Nabi Ibrahim dibela oleh api, gunung, dan lautan. Nabi Musa dipegangi tongkat yang diajaibkan oleh Allah. Nabi Sulaiman di-support masyarakat Jin untuk membikin piring terbang, dan burung-burung untuk menjadi duta negosiasi dengan langit. Nabi Isa dianugerahi tangan dingin menyembuhkan orang sakit lepra bahkan menghidupkan orang yang sudah mati. Sedangkan Mbah dan Pakde Paklikmu ini ekor cecak….”

“Maaf ya Mbah”, Junit berkata serius, “apakah sopan bagi manusia yang bukan Nabi merasa iri kepada keistimewaan para Nabi? Apakah diperkenankan bagi setiap hamba untuk mempertanyakan ketentuan Tuhannya?”.