Daur (250)

Pemimpin Driji Puthul

Tahqiq : “…Mbah Sot memiliki berbagai kemampuan untuk menjadi pemimpin pergerakan yang mengubah sejarah secara besar-besaran tanpa bisa dihadang oleh kekuatan apapun kecuali kemauan Tuhan… ”

Akhirnya disepakati bahwa semua berusaha untuk mengajukan tema rembug di antara anak-anak muda itu dengan Pakde Paklik mereka. Ini semacam Kelompok Diskusi antar-generasi. Tapi sebelum mereka mencatati usulan tema-tema, tiba-tiba Brakodin, yang selama ini lebih banyak diam, membuka suara untuk menginterupsi.

“Apa manfaatnya kita diskusi-diskusi terus”, katanya, “toh kita tidak pernah sampai pada hasil yang benar-benar merupakan jalan keluar dari seluruh permasalahan ini, yang kemudian bisa kita wujudkan menjadi tindakan nyata”

Tarmihim agak kaget juga oleh respons seniornya. “Maaf Cak Din”, katanya, “keponakan-keponakan kita memerlukan proses untuk mematangkan pikirannya”

“Kita ini generasi gagal”, Sundusin menambahi, “anak-anak muda ini tidak ingin melakukan estafet kegagalan. Mereka masih punya waktu cukup panjang untuk akhirnya nanti melakukan tindakan-tindakan. Dan untuk itu mungkin mereka memang perlu belajar dari kegagalan kita…”

“Maaf Pakde Paklik”, Junit menyela, “kami tidak pernah berkesimpulan bahwa Pakde Paklik ini adalah generasi yang gagal, sehingga kami hadir di sini juga bukan dalam rangka mempelajari kegagalan”

Toling menyambung. “Saya malah berpendapat dan menyaksikan dengan nyata bahwa Pakde Paklik, terutama Mbah Markesot, adalah manusia-manusia yang berhasil”

Tarmihim tertawa. “Berhasil bagaimana?”

Sundusin menyahut juga. “Berhasil apanya?”

“Berhasil membawa diri”, jawab Junit, “kalau di sekitar kita berseliweran banyak sekali pencuri, keberhasilan tidak harus berupa sukses menangkap dan menghukum para pencuri. Pakde Paklik bertahan tidak pernah mencuri adalah sukses yang tidak kalah besar dibanding menangkap pencuri”

“Setuju, Nit”, kata Toling, “di tengah zaman di mana kebanyakan orang mentauhidkan dirinya dengan keduniaan, menomorsatukan materialisme, kekuasaan, dan kekayaan harta benda – Pakde Paklik adalah pahlawan-pahlawan bagi kami, karena Panjenengan-panjenengan tidak terseret oleh arus dan wabah zaman edan itu”

Sundusin tertawa lebih keras dari Tarmihim sebelumnya. “Bagaimana kalau sebenarnya diam-diam kami juga ingin sekali memiliki kekayaan dan kekuasaan dunia seperti itu, namun kami gagal bersaing, karena kami tidak punya ilmu dan keterampilan untuk itu?”

“Ah ya nggak lah”, kata Junit.

“Pakde Paklik tidak pernah ikut barisan untuk bersaing, berlomba, dan bertarung untuk memperoleh kerendahan-kerendahan nilai semacam itu”, Toling menyambung, “memang Pakde Paklik bisa dianggap tidak mungkin sanggup melawan arus, tetapi sekurang-kurangnya bertahan untuk tidak diseret oleh air bah kegilaan zaman”

Tarmihim tertawa berkepanjangan.

“Kalian benar-benar anak-anak muda yang cerdas”, katanya.

“Kok cerdas?”, tanya Toling.

“Kalian bisa membaca lumayan persis isi hati Pakde Paklik kalian”

“Membaca isi hati bagaimana dan yang mana?”

“Kalimat-kalimat yang kalian ucapkan itu adalah juga kalimat-kalimat yang sering kami ucapkan dalam rangka memaafkan kegagalan hidup kami. Pikiran semacam itu kami gunakan untuk menghibur diri agar tidak terlalu merasa hancur oleh kenyataan kegagalan kami…”

“Tidak”, Toling membantah, “itu bukan pelarian. Itu benar-benar yang kami pahami pada kehidupan Pakde Paklik”

Tiba-tiba Jitul menyahut. “Pakde Paklik jangan pikir kami tidak mendengarkan hal-hal yang seolah-olah tidak pernah Pakde Paklik ungkapkan. Kami tahu dari Pakde Paklik bahwa kalau Mbah Markesot mau, 35 tahun yang lalu beliau sudah menjadi Menteri, dan hampir 20 tahun silam beliau seharusnya memang menjadi pemimpin puncak bangsa kita….”

“Ah, jangan ngarang, Tul”, Sundusin membantah. Tapi Jitul meneruskan.

“Kami tidak harus bertanya secara langsung atau meneliti secara teknis bahwa Mbah Sot sebenarnya adalah seorang raksasa yang di depan kakinya terbuka banyak pintu-pintu sukses dunia. Kalau beliau mau, Mbah Sot bisa menjadi pimpinan Negara. Mbah Sot memiliki berbagai kemampuan untuk menjadi pemimpin pergerakan yang mengubah sejarah secara besar-besaran tanpa bisa dihadang oleh kekuatan apapun kecuali kemauan Tuhan. Mbah Sot bisa menjadi ilmuwan unggul. Bisa menjadi Ulama yang menghulu Ulama-Ulama. Menjadi seniman sekian bidang karya pada takaran yang besar dan tingkat yang tinggi. Bisa menjadi filosof dunia. Bisa menjadi manajer suatu lembaga perniagaan besar. Mbah Sot bisa dikatakan punya kemungkinan untuk menjadi tokoh apa saja yang ia pilih berdasarkan perjanjiannya dengan Tuhan…”

“Siapa pelawak yang ngasih tahu kamu khayalan-khayalan itu?”, Tarmihim bertanya.

Tiba-tiba Brakodin menyahut. “Itulah sebabnya saya tidak terlalu setuju pada rencana tema-tema kalian semua ini. Lebih baik kita menunggu Cak Sot datang dan mendengar apa yang akan diungkapkannya, kemudian kita siap melakukannya…”.

“Siap, Pakde Brakodin”, Jitul menyongsong kalimat Brakodin dengan suara agak keras, “Pakde Paklik lihat driji telunjuk saya ini puthul. Jari-jari saya ini putus kena sabit ketika dulu menyabit rumput di masa kanak-kanak saya. Kemudian sampai sekarang arah pikiran saya dipimpin dan digiring oleh petunjuk dan kesadaran bahwa ada yang puthul dan tumpul pada perjalanan manusia di zaman ini. Tidak ada kepemimpinan ilmu dan pengetahuan di bidang apapun yang punya akurasi untuk menunjuk titik masa depan secara akurat, karena jari telunjuknya memang sudah puthul…”.