Daur (222)

Pemimpin Dipimpin

Ta’qid : "...kalau Junit menjadi pemimpin, Junit punya kelengkapan untuk menjadi pemimpin yang baik. Andaikan Junit menjadi orang yang dipimpin, menjadi rakyat biasa, Junit juga punya bekal untuk menjadi orang yang baik ketika dipimpin"

Andaikan Junit mengucapkan kalimat-kalimatnya yang ‘ganas’ itu di depan lebih banyak orang, apalagi di depan ummat, terutama di Masjid, sekurang-kurangnya di luar komunitas Markesot – besar kemungkinan ia akan diamuk massa, dilempari sandal atau benda-benda lain. Masih untung kalau hanya diusir dari kumpulan jamaah. Dan masih ringan kalau hanya disebarkan dari mulut ke mulut bahwa Junit adalah anak muda yang sesat, yang kufur kepada nikmat Allah, dan calon penghuni neraka.

Markesot tersenyum. Dan semua yang hadir menunggu bagaimana Cak Sot menanggapinya.

“Saya merasa senang, bahkan berbunga-bunga sebagai orang tua, menjumpai anak muda secerdas kamu, sejujur dan seberani kamu”, kata Markesot, “Hanya sedikit orang yang punya keberanian untuk membiarkan pikirannya berhitung dan berkembang merdeka seperti kamu. Di antara mereka yang berani, belum tentu mampu menatanya, apalagi merumuskannya. Dan di antara sedikit yang sanggup menata dan merumuskan hasil pemikirannya, lebih sedikit lagi jumlah orang yang berani mengekspresikannya”

“Terima kasih, Mbah”, kata Junit.

“Pertama-tama yang ingin saya kemukakan sebagai orang tua kepada generasi muda”, lanjut Markesot, “saya yakin kamu mengerti bahwa tidak semua hasil pikiran bisa dikemukakan kepada setiap orang. Juga tidak semua hasil perenungan seseorang boleh diperdengarkan kepada semua orang”

“Tentu, Mbah”

“Sebagaimana ada bagian-bagian vital dari tubuh kita yang dijaga jangan sampai dilihat orang, demikian juga ada bagian dari pikiran dan batin kita yang perlu kita simpan dan hanya diketahui oleh Tuhan, sebab kalau di luar kita dan Tuhan, bisa menimbulkan bias, salah paham, mudarat dan akibatnya muncul pertengkaran, kebencian, putus silaturahmi, dan macam-macam kemungkinan lagi”

“Siap, Mbah”

“Seluruh yang kamu kemukakan tadi bagi kami orang-orang tua mencerminkan cintamu yang mendalam kepada Tuhan, kepada manusia, dan rakyat. Apakah saya salah, Nit?”

“Insyaallah demikian, Mbah”

“Kamu anak muda yang berhati lembut, perasaanmu bergelimang rasa tidak tega terhadap penderitaan sesama, keyakinanmu kepada keadilan Tuhan sangat tegak dan kokoh”

“Saya selalu berusaha seperti itu, Mbah”

“Apakah Junit meyakini bahwa semua yang Junit ungkapkan tadi merupakan kebenaran yang final di dalam proses pemikiran Junit?”

“Pasti tidak, Mbah. Saya sering mendengar dari Pakde beberapa hal yang Mbah katakan. Misalnya bahwa kebenaran yang benar-benar benar, yaitu kebenaran yang sejati, hanya milik Allah. Sedangkan kebenaran yang ada pada saya, hanyalah kebenaran tentang pemahaman saya terhadap kebenaran yang sebenarnya. Pasti ada jarak yang tidak dekat antara kebenaran sejati dengan yang saya pahami sebagai kebenaran…”

“Pakdemu hebat juga bisa meneruskan penyampaian hal itu kepada Junit”, Markesot memuji.

“Mbah juga mengatakan bahwa apa yang kita temukan sebagai kebenaran hari ini, belum tentu tetap bertahan sebagai kebenaran yang saya yakini besok pagi. Sebab di dalam proses mencari kebenaran, sangat mungkin, bahkan hampir pasti, kita akan selalu menemukan pemahaman yang baru dan baru lagi atas kebenaran.”

“Saat ini Junit masih yakin tentang semua yang tadi Junit kemukakan?”

“Resminya masih yakin, Mbah, tapi ada ruang cadangan dalam pikiran saya untuk kemungkinan lain yang berbeda”

“Benar-benar yakinkah Junit bahwa Tuhan tega hati kepada hamba-hamba-Nya yang menderita?”

“Hati dan pikiran saya tidak seyakin ucapan kata-kata saya sendiri, Mbah”

Markesot makin lebar senyumannya.

“Mbah sendiri tidak hanya yakin”, katanya, “Tapi melihat dan menemukan melalui karaktermu, perilaku dan susunan ekspresi wajahmu yang dimunculkan oleh formasi di dalam jiwamu – bahwa Junit pasti dengan sendirinya akan berusaha menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaannya. Junit pasti akan melakukan penelitian kembali. Mengamati, merasakan, meraba, mendalami, melengkapkan pengetahuan tentang kehadiran dan peran Tuhan di dalam kehidupan Junit serta manusia-manusia di sekelilingnya”

“Otomatis seperti itu, Mbah”

“Junit punya kemampuan yang akan bisa benar-benar matang untuk memimpin diri Junit sendiri. Kelak kalau Junit menjadi pemimpin, Junit punya kelengkapan untuk menjadi pemimpin yang baik. Andaikan Junit menjadi orang yang dipimpin, menjadi rakyat biasa, Junit juga punya bekal untuk menjadi orang yang baik ketika dipimpin”

“Mudah-mudahan, Mbah”

Markesot mengungkapkan dialog Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan seorang yang dipimpinnya.

“Kenapa di era Khalifah Abu Bakar, Umar, dan Utsman suasana bisa tenang, tapi begitu Khalifah Ali memimpin, suasana kisruh”, Ali ditanya, dan beliau menjawab:

“Karena di masa tiga Khalifah itu rakyatnya orang seperti saya, dan ketika saya menjadi Khalifah rakyat saya adalah Anda”.