Daur (245)

Pemimpin Darurat

Tahqiq : “Zaman sudah membeku di kubangan darurat. Segala sesuatunya sudah darurat. Poros kebekuannya adalah darurat tauhid. Darurat hubungan buruk ummat manusia dengan Tuhan. Di dalam negeri maupun di seluruh permukaan bumi. Darurat tauhid menelorkan berbagai macam darurat lainnya....”

Karena tidak bisa ditentukan kapan Mbah Markesot akan hadir dalam pertemuan rutin anak-anak muda itu dengan para Pakde dan Paklik mereka, maka setengah disepakati bahwa setiap pertemuan akan diisi oleh lontaran apapun saja yang dimulai oleh Junit, Toling, Jitul, dan teman-temannya.

“Jadi bukan para Pakde dan Paklik ini yang mendaftari dan mengurut tema-tema untuk disampaikan kepada kalian”, kata Tarmihim, “sebaliknya kami orang-orang tua bisanya hanya sebatas urun respons apa saja yang kalian kemukakan semampu-mampu kami”

“Lalu lintas masalah zaman yang berputar-putar di kepala para Pakde Paklik kalian ini sudah seperti angin puting beliung”, Sundusin menambahkan, “sebenarnya puting beliung masih mending, karena masih bisa diidentifikasi arah pergerakannya. Sedangkan muatan kepala Pakde Paklik ini tidak menentu. Seolah-olah setiap arah memiliki daya serap yang sama besarnya, sehingga angin dihisap menjadi badai dan badai yang arahnya tergantung pada penyerapnya. Mereka bertabrakan satu sama lain. Badai berhembus dan dihisap ke dan oleh beribu-ribu arah. Kepala Pakde Paklik ini berisi seribu raksasa, seribu Buto dan Denowo. Dan semua itu memuncakkan kecemasan kami kaum tua….”

“Kok cemas, Pakde?”, Toling memotong.

“Zaman sudah membeku di kubangan darurat. Segala sesuatunya sudah darurat. Poros kebekuannya adalah darurat tauhid. Darurat hubungan buruk ummat manusia dengan Tuhan. Di dalam negeri maupun di seluruh permukaan bumi. Darurat tauhid menelorkan berbagai macam darurat lainnya. Darurat kekufuran, kemusyrikan, dan kemunafikan. Darurat politik, hukum, dan kebudayaan. Darurat cuaca dan musim. Darurat keadilan, kemerataan dan keseimbangan. Darurat kepemimpinan dan kerakyatan. Sampai pun nanti darurat pangan, nutrisi, dan kesehatan….”

“Wah kok arahnya seperti menuju putus asa, Pakde?”, Jitul memotong juga.

“Dan yang paling kami cemaskan adalah usia uzur kami semua Pakde Paklik ini. Sejak dulu kami siap perang, siap mempersembahkan kehidupan untuk kematian yang mulia. Harta benda keduniaan sudah kami gunduli dari pemilikan kami. Rentang waktu selama mengalami anugerah hidup sudah kami kosongkan dari keterpesonaan kepada dunia. Kami juga selalu siap untuk menyetorkan nyawa. Tapi keadaannya sampai hari ini sangat mengerikan….”

“Mengerikan bagaimana, Pakde?”, Junit sendiri memotong.

“Kalau kalian kelak mengalami bagaimana hati orang yang sudah tua seperti kami, setiap bangun pagi muncul rasa syukur yang menyundul langit bahwa Allah masih membangunkan kami dari tidur. Tetapi beriringan dengan rasa syukur itu ada lumuran-lumuran kecemasan bahwa pada suatu detik nanti tiba-tiba Allah memanggil, dalam keadaan kami berhati layu….”

“Berhati layu?”

“Hati layu karena mati tidak di tengah perjuangan. Mati dalam posisi tidak mampu mengatasi permasalahan-permasalahan yang dikhalifahkan. Mati dalam keadaan merasa berhutang, bersalah, dan berdoa kepada Allah, karena tidak membuktikan kesanggupan untuk membangun kebenaran dan kebaikan Allah di muka bumi. Rasanya itu semacam kematian darurat….”

“Sependengaran kami Mbah Sot sangat banyak mengulang dan menafsirkan secara terus berkembang tentang ucapan Rasulullah ‘Jangan takut dan jangan sedih, karena sesungguhnya Allah bersama kita’. Kenapa Pakde dan Paklik begitu mendalam sedih dan takutnya?”

Ndusin menjawab:

“Kalimat Kanjeng Nabi itu dicatat dan diingat-ingat dari zaman ke zaman, oleh generasi demi generasi, justru karena mereka, terutama di hari-hari tuanya, tidak pernah benar-benar berhasil untuk mengusir kesedihan dan rasa takut melihat ke masa depan. Pesan Rasulullah itu tidak diperlukan kalau kita sudah selalu merdeka dari kesedihan dan ketakutan”

Tarmihim menambahkan:

“Setiap kita bertemu seperti ini, setiap Pakde Paklik menatap wajah kalian, bagaimana mungkin kami mengelak dari kesedihan dan ketakutan? Kami merasa bersalah karena mewariskan kepada kalian masa depan yang buruk. Kami adalah generasi pendahulu yang meninggalkan utang-utang yang harus kalian bayar, yang jumlahnya bukan sekadar menyedihkan, bukan sekadar melumpuhkan hati, bukan sekadar menjerat kami dalam rasa putus asa — tapi juga mencampakkan kami kedalam kengerian yang akan kami bawa mati. Warisan utang, kebobrokan, keterpurukan, kehancuran”

“Kami adalah orang-orang tua yang di saat-saat akhir hidup ini gagal menegakkan kepemimpinan atas hati kami sendiri, atas mental dan spiritualitas kami”, Ndusin menambahkan lagi, “jadi terus terang saja, kami sangat bersemangat untuk berada dalam pertemuan-pertemuan dengan kalian, agar kami melihat dengan mata kepala kami sendiri bahwa kalian masih tersenyum, bahwa kalian masih tegak menatap masa depan, bahwa kalian tidak akan mati darurat seperti Pakde Paklik kalian”

“Mohon maaf, Mbah Sot sebenarnya sedang di mana to?”, Toling tiba-tiba belok tema dengan pertanyaannya.

“Terkadang timbul tenggelamnya Mbahmu Markesot terus terang menambahi rasa darurat kami-kami ini…”, tiba-tiba terdengar suara Brakodin menjawab.

Jitul tiba-tiba juga terdengar suaranya, tertawa.

“Apa yang lucu, Tul?”, Brakodin bertanya. Agak sedikit kaget dan tersinggung diam-diam.

“Mohon maaf Pakde”, jawab Jitul, “saya membayangkan isi perasaan Pakde sebagaimana saya memahami isi perasaan saya sendiri. Sepertinya mirip-mirip”

“Maksudmu?”

“Kalau tidak salah kita semua ini sangat menunggu sesuatu dari Mbah Sot. Kalau Mbah Sot pergi, kita menunggu-nunggu beliau akan tiba-tiba datang, tapi tidak sendirian. Ada Imam Mahdi bersama beliau. Atau minimal entah siapa yang diutus oleh Kanjeng Nabi Muhammad untuk menyampaikan jawaban para leluhur dan perintah Allah….”