Daur (217)

Pemimpin Budak

Ta’qid : “Wilayahmu ini medan perang terparah, meskipun tingkat ketahanan, ketangguhan, dan resistensi rakyatmu juga tertangguh dibanding semua rakyat lain di muka bumi”

Seorang teman masih penasaran pada logika keterangan Markesot bahwa zaman yang separah apapun edannya saat ini, kemungkinan besar tidak akan mendapatkan hukuman Allah seradikal adzab di zaman para Nabi, justru karena sekarang tidak ada Nabi.

“Pelan-pelan nanti cari suasana untuk menanyakan dan memperdalam soal itu”, kata Tarmihim.

“Cak Sot pernah mengatakan”, teman yang lain memotong, dan mengemukakan sisi tema yang berbeda, “Siapa tokoh yang punya kapasitas untuk mengatasi masalah Indonesia? Andaikan Mahatma Gandhie, Bung Karno, Mao Zedong, Abraham Lincoln, Winston Churchill, ditambah Sayidina Umar bin Khattab, Sultan Salahudin, Panglima Thariq bin Ziyad, atau ditambah Iskandar Dzulqarnain pun — di-uleg dijadikan satu racikan — siapa berani bilang itu cukup untuk menyelesaikan masalah-masalah manusia Indonesia….”

“Ah, masak sampai segitunya”, sahut teman yang pertama.

“Saya cuma menirukan Cak Sot. Bangsa yang aneh dan naif, Negara yang tak pernah benar-benar Negara, Pemerintah yang belum pernah memenuhi syarat….”

“Itu perlu diperdebatkan”, potong teman yang lain itu lagi, “Tergantung parameter dan tingkat harapan yang disepakati terhadap adanya Negara. Dan lagi kayaknya kalimat-kalimat seperti ini cukup diucapkan di antara kita saja….”

“Lho memang hanya di antara kita”, jawab teman yang pertama, “ini kan cuma obrolan kebun Lombok. Bukan orasi. Bukan pengajian atau seminar. Apalagi konferensi pers”

“Maksud saya kita harus tahu diri. Bahwa kita ini cuma rakyat kecil, hanya sekumpulan pengkhayal: Markesot, Brakodin, Tarmihim, Sundusin, bayangan Kiai Sudrun, gangguan-gangguan Saimon….”

Sundusin ternyata masih punya sisa rekaman suara Markesot. Ia membunyikannya.

“…Negara dan Bangsa kita sekarang ini sedang menjadi pusat penerapan puncak zaman edan dunia. Stakeholders dari Sindikat Raksasa penguasa Dunia sedang mencengkeramkan kedua tangannya khusus di tanah Indonesia. Langsung maupun tak langsung. Melalui berbagai cara, strategi, dan formula. Pemerintah kita sadar atau tak sadar menjadi bagian dari pencengkeraman atas Indonesia dan rakyatnya itu. Minimal Pemerintah kita tidak maksimal kewaspadaannya untuk tidak menjadi bagian dari kuku yang mencengkeram itu. Atau sampai batas tertentu, malah mungkin mereka adalah budak sindikat-sindikat itu”

“Sebab mereka mencengkeram atau tidak, berlangsungnya tidak sekadar melalui formalitas negosiasi, diplomasi dan dialektika legal formal politik. Ia sudah berlangsung pada tingkat alam pikiran, urat saraf budaya, denotasi dan konotasi pasal-pasal hukum, arah tradisi kreativitas, determinasi dan brainwashing melalui hampir semua produk-produk teknologi yang dikonsumsi sangat luas oleh generasi terbaru bangsa kita….”

“Aduh, berat, berat…”, kata teman yang pertama, memotong bunyi rekaman “rasanya aneh, karena sehari-hari kita yang seperti biasa-biasa saja. Kendaraan di jalan-jalan tetap lalu lalang. Pasar tetap ramai. Lampu-lampu tetap menyala di malam hari. Rakyat kerja keras di mana-mana. Manusia tetap tersenyum dan tertawa-tawa….”

“Sampai batas tertentu semua yang dikatakan Cak Sot itu bukan tidak benar. Coba teliti dan hitung posisi tanah di berbagai kota dan desa, posisi perusahan-perusahaan Negara, tambang-tambang, serta berbagai jenis kekayaan tanah air kita — berapa persen yang masih merupakan milik kita. Anak-anak kita yang pandai, yang tamatan sekolah tinggi-tinggi, tidak pernah memberitahukan hal itu kepada rakyat. Mungkin juga kebanyakan anak-anak terdidik itu memang tidak pernah mempedulikan hal itu. Tidak pernah sungguh-sungguh mendata. Sehingga kita semua, terutama rakyat umum, seolah-olah tenang-tenang saja, karena memang tidak mengetahui fakta-fakta yang sebenarnya.”

Teman lainnya meneruskan, “Kalau tidak salah Cak Sot pernah wanti-wanti bahwa dalam waktu yang tidak terlalu lama di depan, tanah air ini bukan lagi tanah air Indonesia. Tanah dan kekayaannya bukan lagi milik rakyat yang menghuninya. Rakyat akan hanya menjadi pengemis di kampungnya sendiri. Menjadi buruh, kuli, yang diperbudak oleh struktur keadaan yang mereka tidak punya daya untuk menolaknya, apalagi melawannya… Pemimpin kita adalah pemimpin budak, dan kita bersama semua rakyat adalah budaknya budak….”

Sundusin membunyikan rekaman lagi.

“Dan Negara kalian, Indonesia kalian, saat ini sedang menjadi gumpalan asap besar peperangan yang tidak tampak, yang kalian tidak cukup menyadarinya, karena kalian tertipu oleh ilmu pancaindra. Wilayahmu ini medan perang terparah, meskipun tingkat ketahanan, ketangguhan, dan resistensi rakyatmu juga tertangguh dibanding semua rakyat lain di muka bumi. Tapi kalian tidak mungkin memiliki masa depan yang berkeseimbangan, kalau semakin gencar kalian membunuh anak-anak cucu kalian sendiri. Bahkan mungkin anak cucu kalian akan lahir di tengah puing-puing. Bayi-bayi disunnahkan oleh Allah untuk pasti menangis tatkala keluar dari Rahim Ibundanya. Dengan alasan yang berbeda-beda. Tapi esok hari, dan mungkin sudah sejak beberapa lama belakangan ini, bayi-bayi itu menangis karena lahirnya tercampak di tengah hamparan sampah-sampah kehinaan, kepapaan, ketidakpunyaan, dan ketercampakan nasib sebagai manusia….”